John The Baptist, The Humble Servant

(Yohanes Pembaptis, Sang Pelayan yang Rendah Hati)

Oleh: Pdm. Yesaya Sombu

Siapa Yohanes Pembaptis?
    Yohanes Pembaptis adalah Putra dari imam Zakharia dengan Elisabeth (Luk 1:5). Sama seperti Kristus, kelahirannya juga dikabarkan terlebih dahulu oleh malaikat kepada Zakharia (Luk 1:11-15). Yohanes dewasa di padang gurun Yudea (Luk 1:80), dan di situlah ia menerima panggilan menjadi nabi (Luk 3:2).Yohanes Pembaptis adalah seorang pendoa, dia juga mengajarkan tentang berdoa kepada murid-muridnya (Matius 3:4). Yohanes adalah pria yang tegas dan sederhana, saat hidup di padang gurun Yudea dia hanya memakai jubah bulu unta, ikat pinggang kulit, makanannya "belalang" (Yunani: ακριδες, menunjuk kepada sebuah tanaman bernama Ceratonia siliqua L. yang disebut pula sebagai Pohon Carob) dan madu hutan.

    Dalam PB, Yohanes digambarkan terutama sebagai perintis jalan bagi Yesus. Dijebloskannya dia ke dalam penjara menjadi tanda bagi awal pelayanan Yesus di Galilea (Mrk 1:14). Aktivitasnya membaptiskan merupakan titik permulaan bagi pemberitaan rasuli (Kis 10:37; 13:24). Yesus mengatakan bahwa Yohanes ialah Elia yang dijanjikan, yang harus datang dan menggenapi pelayanannya untuk memulihkan Israel menjelang datangnya “hari Tuhan (YHWH) yang  besar dan dahsyat itu” (Mark 9:13, Mat 11:14, Luk 1:17). Yohanes mati kira-kira berumur 35 tahun setelah peristiwa pemenggalan kepalanya pada Mrk 6:24-28. Untuk melihat apa saja teladan yang ditinggalkan oleh Yohanes Pembaptis, mari kita membaca Firman Tuhan:

OBSERVASI
Nats: Yohanes 1:19-28
1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"
1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."
1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!"
1:22 Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"
1:23 Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.
1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"
1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,
1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."
1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

Yohanes Pembaptis: Pandangan orang lain mengenai dirinya (19 - 21)
- Yohanes Pembaptis adalah Mesias / Kristus (ay 19-20).
- Yohanes Pembaptis adalah Elia (ay 21  bdk. Maleakhi 4:5-6).
- Yohanes Pembaptis adalah nabi yang akan datang (ay 21b  bdk. Ul 18:15-19).
Pandangan orang-orang yahudi di atas mengenai Yohanes Pembaptis adalah Mesias dapat dimengerti, karena latar belakang mereka yang menantikan janji kedatangan Mesias “yang akan memberitakan segala sesuatu kepada kami” (Yoh 4:25). Yohanes jelas adalah seseorang yang berpengaruh dengan ajaran-ajaran dan pernyataan-pernyataan yang baru bagi orang Yahudi, sehingga ketika orang sepertinya muncul dan mulai mendapat popularitas, mereka akan secara otomatis mengira / menganggapnya sebagai Mesias yang dijanjikan tersebut. Fakta ini diketahui oleh Yohanes dengan terang, sehingga ia menjawab dengan pengakuan tanpa dusta “Aku bukan Mesias” bahkan sebelum mereka menanyakan bahwa ia adalah Mesias atau bukan (20). 

Yohanes Pembaptis: Pandangannya mengenai diri-nya sendiri (21 - 23)
- Ia bukanlah Kristus / Mesias (ay 20).
- Ia bukanlah Elia (ay 21).
Sekilas, hal ini terlihat bertentangan dengan perkataan Yesus yang mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis itulah Elia yang dijanjikan  (Mat 11:14  Mat 17:12-13  Luk 1:17). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis memang adalah orang yang disebut dengan sebutan Elia dalam Maleakhi 4:5-6. Namun Yohanes Pembaptis menyangkal bahwa dirinya adalah Elia, karena pengertian dari penanya adalah “apakah kamu betul-betul adalah Elia sendiri?” Dalam hal ini, maka jelas bahwa Yohanes Pembaptis harus menyangkal, karena memang ia bukanlah Elia sendiri / rein­karnasi dari Elia.
- Ia bukanlah nabi yang akan datang (ay 21b).
- Ia adalah suara orang yang berseru-seru di padang gurun (ay 23  bdk. Yes 40:3).

Yohanes Pembaptis: Kesadaran Pelayanannya (25 - 27)
Orang Farisi mulai bertanya “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” setelah mendengar jawaban Yohanes mengenai dirinya tersebut.  Jawaban Yohanes kemudian sekilas cukup mengherankan dan cenderung  membuat orang  yang membaca ayat ini bingung. Mengapa ia menjawab pertanyaan “mengapa” tidak dengan “karena” melainkan dengan pernyataan mengenai “seseorang” yang tidak mereka kenal dan menempatkan diri Yohanes jauh di bawah orang tersebut? Namun bila kita melihat lebih dalam lagi,  Pertanyaan itu secara inplisit menyiratkan tentang kedudukan seperti apa yang dimiliki Yohanes sehingga ia bisa membaptis orang lain.  Apakah Yohanes juga sama / memiliki kuasa yang sama dengan Mesias / Elia / Nabi yang akan datang itu sehingga ia bisa membaptis? (bdk. dengan pertanyaan wanita samaria kepada Kristus dalam Yoh 4:12).  Maka wajarlah bila kemudian ia menjawab dengan jawaban seperti itu, untuk menegaskan bahwa kedudukannya jauh lebih rendah dari “Dia”, yaitu Kristus yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api (Mat 3:11, Mrk 1:8, Luk 3:16).

INTERPRETASI
Dari observasi di atas, kita bisa menemukan bahwa Yohanes Pembaptis:
   1.  Yohanes Pembaptis tahu dan yakin akan panggilan pelayanannya
Dia menjawab dengan jelas dan lugas, siapakah dia dan apa yang dikerjakannya, menunjukkan bagaimana panggilan pelayanan itu benar-benar mantap dalam hatinya. Sebagai seorang pelayan Tuhan, ia setia sampai hari matinya. 

   2. Yohanes Pembaptis tidak berusaha mencuri kemuliaan Tuhan dalam pelayanannya.
Sangat mudah bagi Yohanes untuk berkata”ya, akulah Mesias itu” ketika pertanyaan-pertanyaan itu datang kepadanya. Secara popularitas ia sudah terkenal dan berita mengenai dirinya sudah tersebar ke penjuru negeri hingga orang-orang datang untuk dibaptis (Mat 3:5).  Kondisi psikologis bangsa yahudi saat itu secara otomatis juga mengkonfirmasi hal tersebut dan mungkin saja dia akan dijadikan raja (bdk. dengan Yoh 6:14-15) atau minimal itu akan membuatnya mendapatkan popularitas yang lebih lagi dari saat itu. Namun itu tidak dilakukannya, demi menjaga apa maksud dan tujuan pelayanannya: pembuka jalan bagi Kristus. Ia tahu bahwa sebagai pembuka jalan, seharusnya perhatian itu tidak ditujukan kepadanya, namun kepada pribadi yang dibukakan jalan tersebut, yaitu Yesus Kristus. 

   3. Yohanes Pembaptis adalah seorang yang rendah hati
Semua hal diatas menunjukkan hal tersebut. Tanpa kerendahan hati, ia tidak mungkin berkata “Aku bukan Mesias” dan “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Sebuah hal yang menarik juga adalah dia mereferensikan dirinya sendiri sebagai “suara orang yang berseru-seru di padang gurun....” (Yoh 1:23)
John Henry Jowett, seorang pengkotbah Inggris mengatakan hal ini:
“This man humbly desires to be ‘a voice.’ He has no ambition to receive popular homage. He does not covet the power of the lordly purple. He does not crave to be a great person; he only wants to be a great voice! He wants to articulate the thought and purpose of God. He is quite content to be hidden, like a bird in a thick bush, if only his song may be heard” (= Orang ini dengan rendah hati menginginkan untuk menjadi ‘suatu suara’. Ia tidak mempunyai ambisi untuk menerima peng-hormatan orang banyak. Ia tidak menginginkan kekuasaan dari warna ungu yang mulia. Ia tidak ingin untuk menjadi orang yang besar / agung; ia hanya ingin menjadi suara yang besar / agung! Ia ingin mengeluarkan pikiran dan tujuan / rencana Allah. Ia cukup puas untuk ada dalam keadaan tersembunyi, seperti seekor burung dalam semak yang tebal, asal saja nyanyiannya bisa didengar) - ‘Springs of Living Water’.

APLIKASI
Dengan belajar dari Yohanes Pembaptis, kita dapat belajar beberapa hal:

   1. Pelayan / Hamba Tuhan yang sejati adalah ia yang tahu dan yakin akan panggilan pelayanannya. 
Seseorang yang telah berada dalam level ini, maka pada waktu ada kesukaran / kega­galan dalam pelayanan itu, maka ia bisa terus bertekun dalam pelayanan itu. Sebaliknya, kalau ia tidak yakin akan panggilan pelayanannya, maka pada waktu ada kesukaran / kegagalan, ia mungkin akan berpikir bahwa Tuhan tidak menghendakinya melaku­kan pelayanan itu. Selain itu, Seorang hamba yang tahu dan yakin akan panggilan pelayanannya akan terus berada dalam visi Allah. Ia tidak akan melenceng ke kanan atau ke kiri. Sudahkah kita mengerti akan panggilan pelayanan kita? Apakah yang selama ini kita lakukan memang sesuai panggilan Tuhan dalam hidup kita? Mari kita gumulkan ini lebih dalam, sehingga sebelum kita memulai sebuah pelayanan, kita mengerti apakah itu memang panggilan Tuhan, atau tidak.

   2. Dalam Menjalankan pelayanan, seorang Hamba Tuhan tidak boleh mencuri kemuliaan Tuhan
Mencuri kemuliaan Tuhan bisa dalam bentuk apapun. Ketika kira mengira bahwa “tanpa saya pelayanan ini tidak akan bisa jalan”, pada saat itulah kita mencuri kemuliaan Tuhan. Pada saat kita merasa sombong dengan talenta-talenta kita, pada saat itu pulalah kita mencuri kemuliaan Tuhan. Jagalah hati kita, dan ingatlah selalu dalam hati bahwa pelayanan yang kita lakukan sekarang ini adalah anugerah Tuhan, kita tidak berhak bermegah atas anugerah. Sebaliknya, haruslah kita selalu ingat tentang pemberi anugerah itu, karena oleh Dia-lah, kita mampu melakukan segala sesuatu, dan mampu melayani Tuhan. Mari kita melihat diri kita sendiri, apakah selama ini saya melayani Tuhan atau justru saya melayani diri sendiri dengan memakai nama Tuhan? 

   3. Kerendahan Hati sebagai dasar pelayanan kepada Tuhan
Semua dasar pelayanan hamba Tuhan harus diletakkan pada kerendahan hati. Mengapa?
Mengutip dari William Barclay, seorang teolog dari scotlandia:
 “John was what every true preacher and teacher ought to be - only a voice, a pointer to the king. The last thing that he wanted men to do was to look at him; he wanted them to forget him and see only the king” (= Setiap pengkhotbah dan guru yang benar / sejati seharusnya seperti Yohanes - hanya suatu suara, penunjuk pada Sang Raja. Hal yang terakhir yang ia inginkan dari manusia, adalah bahwa mereka memandang kepada dia; ia mengingin­kan mereka melupakan dia dan hanya melihat Sang Raja).
Dengan begitu, pelayanan kita akan menjadi efektif, karena apapun yang kita lakukan, semuanya hanya supaya “Aku semakin kecil, Tuhan semakin besar” (Yoh 3:30)

Penutup
Saya mengajak kita semua, hamba-hamba Tuhan dan Pejabat-pejabat GBIS untuk menjadikan Yohanes Pembaptis ini sebagai teladan dalam menjalankan pelayanan. Dimanapun kita berada, di konteks apapun kita melayani, teladan Yohanes Pembaptis berlaku dan tetap akan bisa dipraktekkan. Biarlah melalui kita semua, nama Tuhan Yesus semakin dikumandangkan, semakin tersebar, dan mendatangkan kemuliaan bagi kerajaan-Nya. 

Amin Tuhan Yesus Memberkati. 

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon