YESUS PINGSAN?

Pendahuluan
Yesus Kristus adalah pribadi yang paling banyak diperbincangkan di sepanjang sejarah. Baik dari kalangan theolog-theolog Kristen maupun non-Kristen. Ada yang menyanjung serta menempatkan-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya. Namun banyak juga yang merendahkan dan menolak-Nya. Ribuan bahkan mungkin jutaan skripsi, tesis, desertasi serta buku yang mengupas tentang-Nya dicetak. Berbiji-biji kaset dan berkeping-keping CD yang berisi khotbah atau seminar mengenai-Nya diproduksi oleh berbagai kalangan. Di zaman cyber sekarang ini, ada ratusan bahkan mungkin ribuan situs yang memperbincangkan Yesus Kristus. 

Singkatnya, Dia pribadi yang menarik untuk didiskusikan, diseminarkan dan dikhotbahkan, terlepas dari apa motivasinya. Memperhati-kan hal ini, penulis ingat firman Tuhan dalam Filipi 1:15-18 yang berbunyi: “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur.
Teori Yesus Pingsan


Dalam teori-teori yang menolak kebangkitan Yesus Kristus, ada satu teori yang dikenal dengan istilah swoon theory. Teori ini mengajarkan bahwa Yesus tidak benar-benar mati.  Dia hanya   jatuh pingsan. Kristus dipakukan pada kayu salib dan mengalami kondisi syok, kesakitan dan kehilangan darah. Namun tidak  benar-benar mati, hanya kehilangan kesadaran atau jatuh pingsan akibat keletihan. Ketika ditempatkan di dalam kubur, Dia masih dalam keadaan hidup. Setelah beberapa jam, kemudian sadar, lalu bangkit dan pergi meninggalkan kubur. Jadi murid-murid hanya melihat seorang Kristus yang telah disadarkan dari keadaan pingsan. Berikut sejarah berkembangan teori Yesus pingsan:

    1. Gagasan bahwa Yesus tidak pernah sungguh-sungguh mati di kayu salib dapat ditemukan di Al-Quran, yang ditulis pada abad ke-7. Umat Islam Ahmadiyah berpendapat bahwa Yesus sebenarnya melarikan diri ke India. Sampai hari ini, ada sebuah tempat keramat yang diduga menjadi kuburan Yesus yang sesungguhnya di Srinagar, Kashmir. 
    2. Ketika abad ke-19 menyingsing, Karl Bahrt, Karl Venturini, dan yang lainnya berusaha menjelaskan peristiwa kebangkitan, dengan memberi kesan bahwa Yesus hanya jatuh pingsan dari kelelahan di kayu salib. Atau Dia telah diberi minuman yang membuat-Nya terlihat mati dan kemudian Dia dibangkitkan oleh udara dingin yang lembab di dalam kubur. 
    3. Pada tahun 1929, D.H. Lawrence merangkai tema ini ke dalam cerita pendek, di mana beliau memberi kesan bahwa Yesus melarikan diri ke Mesir dan Ia jatuh cinta dengan pendeta wanita Isis. 
    4. Hipotesis jatuh pingsan muncul kembali pada tahun 1972, melalui buku The Jesus Scroll karangan Donovan Joyce tahun 1972. Pada tahun 1982, Holy Blood, Holy Grail menambahkan corak bahwa Pontius Pilatus telah menyuap untuk membiarkan Yesus diturunkan dari kayu salib sebelum Dia mati. 
    5. Pada tahun 1992, Barbara Thiering sarjana dari Australia, membuat kegemparan dengan membangkitkan teori jatuh pingsan. Bukunya Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scroll, diperkenalkan dengan terlalu berlebihan oleh penerbit yang terhormat di Amerika Serikat. Hari ini, teori Yesus jatuh pingsan terus berkembang.”

Penolakan terhadap kebenaran kematian Yesus Kristus, didasarkan pada asumsi bahwa kematian Yesus di kayu salib bukanlah suatu peristiwa sejarah dan bukan dasar penebusan dosa manusia. Salib hanyalah suatu lambang atau tanda, seperti bintang yang memimpin orang Majus ke Bethlehem, atau seperti munculnya Roh Kudus dalam wujud burung merpati yang turun ke atas Yesus ketika pembaptisan-Nya di sungai Yordan. Salib di mana Kristus digantung, yang merupakan altar penebusan, di mana Anak Domba Allah dikorbankan untuk menghapus dosa dunia, tidaklah dianggap penting. Penolakan terhadap kematian Yesus, sebetulnya juga sudah terjadi pada masa Yesus hidup. Orang-orang Yahudi percaya bahwa Allah tidak mungkin membiarkan Mesias mati dalam keadaan yang begitu memalukan. Kepercayaan tersebut seperti diungkapkan dalam Yohanes 12:34.

Dalil di atas intinya menganulir fakta sejarah bahwa Yesus Kristus benar-benar telah mati, untuk menebus dosa manusia. Paham swoon theory telah memberikan angka merah terhadap doktrin kematian Kristus yang sangat krusial bagi kualitas iman Kristen. Jika Yesus Kristus tidak mati, maka sendi-sendi ajaran kekristenan menjadi sangat rapuh. John F. Walvoord, berkata bahwa: “Tanpa kematian Kristus tidak akan ada korban bagi dosa, tidak ada keselamatan, tidak ada kebangkitan dan tidak ada unsur-unsur lain yang telah membentuk isi dari iman Kristen sejak permulaannya.” Kematian Kristus adalah penting bagi keselamatan manusia dan juga bagi pertumbuhan gereja Tuhan. Fakta bahwa gereja Kristen sanggup menahan penganiayaan selama berabad-abad dan tetap hidup, selama berabad-abad dilalaikan dan ditentang adalah sulit dijelaskan terpisah dari sistem theologia yang berasal dari keyakinan kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang benar-benar telah mati, bangkit kembali dan naik ke sorga. 

Fakta Sejarah Pra-Swoon Theory


Ada banyak bukti kuat daripada ribuan manuskrip (tulisan tangan) kuno yang ditulis di awal abad kedua yang membenarkan apa yang tertulis dalam Injil tentang penyaliban dan kematian Yesus.


A. Kesaksian Ahli Sejarah Non-Kristen
    1. Cornelius Tacitus (56-117M): senator dan sejarahwan Roma yang menulis tentang Yesus dalam karyanya yang berjudul Annals: ”Kristus, pendiri golongan Kristen, telah mengalami hukuman mati dalam pemerintahan Tiberius, atas keputusan gubernur Pontius Pilatus.”

    2. Lucian of Samosata (125-180M) : pengarang syair sindiran yang berkarya sekitar tahun 170 M. Ia sangat membenci kekristenan dan dalam satu tulisannya The Death of Peregrine, ia menulis: “Ketahuilah, orang-orang Kristen memuja seorang pria pada hari ini, tokoh tersohor yang memperkenalkan tata ibadah baru mereka, dan disalibkan karena hal tersebut. Orang-orang sesat ini mulai dengan keyakinan yang umum bahwa mereka itu hidup kekal selamanya dan menyembah orang bijaksana yang disalibkan itu, serta hidup menurut hukum-hukum-Nya.” 

    3. Flavius Josephus (37-100M): ahli sejarah Yahudi yang menulis tentang Yesus dalam buku Jewish Antiquities, dia mengatakan: “Yesus, seorang manusia bijaksana kalau boleh menyebutnya seorang manusia; karena dia adalah seorang pelaku pekerjaan yang luar biasa, seorang guru yang mengajarkan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang menerimanya dengan sukacita. Dia menarik banyak orang Yahudi kepadanya, dan juga banyak orang Yunani. Dan ketika Pilatus telah menyuruh menyalibkan dia oleh karena dakwaan para pemimpin di antara kita, mereka yang sejak semula telah mengasihinya tidak meninggalkan dia, karena dia menampakkan diri dalam keadaan hidup kepada mereka pada hari yang ketiga.”

    4. Mara Bar-Serapion: filsuf Stoa dari Syria dan karena sesuatu hal ia dipenjara. Dari dalam penjara ia menulis surat kepada puteranya dan memberikan nasihat kepadanya tentang bagaimana mengejar hikmat. Ia menulis: “Keuntungan apakah yang diperoleh orang-orang Athena ketika mereka membunuh Sokrates? Kelaparan dan penyakit pes menimpa mereka sebagai hukuman karena kejahatan mereka. Keuntungan apa yang diperoleh orang-orang di Sames ketika mereka membakar Pitagoras? Keuntungan apa yang diperoleh orang-orang Yahudi ketika menghukum mati raja mereka yang bijaksana?” (yang dimaksud raja yang bijaksana adalah Yesus Kristus). 

    5. Talmud Sanhendrin: mencatat bahwa pada hari sebelum Hari Perayaan Yahudi, mereka menggantung atau menyalib Yesus. 

B. Kesaksian Ahli Sejarah Kristen
    1. Ignatius (50-115M): murid dari Rasul Yohanes, yang menjadi uskup di Antiokhia. Sejumlah suratnya masih ada sampai sekarang dan ia berbicara tentang Yesus: "Dia disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia benar-benar, dan bukan hanya tampaknya saja, disalibkan, dan mati, disaksikan oleh makhluk-makhluk di surga, di bumi, dan di bawah bumi. Dia juga bangkit kembali pada hari yang ketiga. Pada hari persiapan Paskah, saat itu, pada jam yang ketiga, Dia menerima keputusan hukuman dari Pilatus, Bapa membiarkannya terjadi; pada jam yang keenam Dia disalibkan; pada jam yang kesembilan Dia menyerahkan nyawa-Nya: dan sebelum matahari terbenam Dia dikuburkan.
    2. Justinus Martyr (100-165M): seorang filsuf yang telah menjadi percaya. Dalam tulisannya ia bersaksi: Kristus dilahirkan 150 tahun yang lalu di bawah pemerintahan Kirenius, dan setelah itu dijatuhi hukuman mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus.
    3. Tertullianus (160-220M): berasal dari Kartago, Afrika Utara yang menulis tentang Yesus, sebagai berikut: “Tetapi orang-orang Yahudi begitu gusar pada ajaran-Nya, para pemimpin dan pemukanya tertempelak oleh kebenarannya, dan karena begitu banyak orang berpaling pada-Nya, sehingga pada akhirnya mereka menyeret-Nya ke hadapan Pontius Pilatus, pada waktu itu Gubernur Roma di Siria, yang oleh karena kerasnya desakan mereka, menjatuhkan hukuman kepada-Nya dan menyerahkan Dia kepada mereka untuk disalibkan.”
    4. Gereja Mula-mula: menggunakan salib sebagai simbol dalam perjamuan suci untuk mengenang pengorbanan Kristus dan tidak pernah sangsi akan kenyataan  penyaliban Yesus(1 Korintus 11:23).

Berdasarkan catatan sejarah di atas, jauh sebelum muncul pandangan swoon theory, banyak filsuf dan sejarawan yang mengakui bahwa Yesus benar-benar mati, ketika diturunkan dari kayu salib. 

Fakta Alkitab Kematian Yesus Kristus
Kematian Yesus di kayu salib tercatat dengan jelas di dalam Alkitab. Lebih dari 175 kali disebut dalam kitab Perjanjian Baru. Selain itu sering juga disebut dalam kiasan dan nubuat dalam Perjanjian Lama. Catatan Alkitab mengenai kematian Kristus merupakan penyajian lengkap baik dari segi nubuatan maupun sejarah. Banyak ayat dalam Perjanjian Lama dan Injil menubuatkan kematian Kristus, seperti: Mazmur 22, Yesaya 53, Markus 8:31, Lukas 9:22 dan ayat-ayat serupa. Seluruh Injil dan seluruh surat-surat kiriman memberikan pernyataan atau menerima fakta kematian-Nya (Matius 27:32-66; Markus 15:21-47; Lukas 23:26-56; Yohanes 19:16-42; Roma 5:6; 1 Korintus 15:3; 2 Korintus 5:15; Wahyu 5:9).

Beberapa bukti yang tak terbantahkan itu diantaranya: bahwa setelah menyalibkan-Nya serdadu Romawi membagi-bagi pakaian-Nya dengan  membuang undi (Matius 27:35); bahwa di kayu salib itu Yesus berseru dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya (Markus 15:37); bahwa ketika serdadu Romawi sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Dia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya (Yohanes 19:33);  bahwa pada saat para wanita murid Yesus bertemu dengan malaikat, mereka diingatkan: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Dia tidak ada di sini, sebab Dia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (Matius 28:5-7). Artinya Yesus benar-benar mati dan benar-benar dikuburkan, lalu pada hari yang ketiga hidup lagi. 

Pada waktu Yesus disalibkan dibukit Golgota, di sana ada banyak saksi mata yang melihat-Nya (Markus 15:39-41; Yohanes 19:25-27). Mereka itu adalah para pengikut Yesus, ibu dan saudara-Nya, serta kepala pegawai Romawi.  Sudah tentu mereka dapat mengenal secara pasti bahwa Yesus benar-benar disalib dan mati. Kematian Yesus itu juga dibuktikan bahwa, mayat Yesus diminta untuk dikuburkan oleh Yusuf dari Arimatea yang pergi menghadap Pontius Pilatus (Matius 27:57-61; Markus 15:42-47; Lukas 23:50-55; Yohanes 19:38-42). Kepala imam-imam dan orang Farisi juga ingat akan kata-kata Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Sebab itu pada hari Dia disalibkan, mereka datang kepada Pontius Pilatus dan berkata “Tuan, kami ingat bahwa semasa si penipu itu masih hidup, dia pernah berkata, “Sesudah tiga hari Aku akan bangkit lagi.” Oleh karena itu suruhlah orang mengawal kubur itu baik-baik sehingga hari ketiga. Dengan demikian pengikut-pengikutnya tidak dapat mencuri jenazah Yesus, dan memberitahu orang bahwa dia telah dibangkitkan daripada kematian. Apabila orang menerima kesaksian Alkitab, tentulah menerima fakta tentang kematian Yesus Kristus dengan tanpa ragu-ragu.

Fakta Medis Kematian Yesus Kristus
Para penulis Injil melaporkan bahwa sebelum kematian-Nya, Yesus Kristus dianiaya secara brutal oleh tentara-tentara Romawi yang tidak berperikemanusiaan dan puncaknya disalibkan di bukit Golgota. Penganiayaan itu digambarkan begitu sadis dan keji, sehingga tidak mungkin Yesus Kristus hanya sekadar pingsan. Berdasarkan penuturan Alexander Metherell seorang ahli forensik yang sangat kredible, dia memberikan analisa medis kematian Yesus Kristus berdasarkan keterangan keempat Injil, sebagai berikut: 
    1. Yesus Kristus Mengalami hematidrosis. Ketika berdoa sepanjang malam di Taman Getsemani, Injil memberi tahu, Yesus mulai berkeringat darah (Lukas 22:44). Ini merupakan kondisi medis yang disebut hematidrosis. Kondisi ini tidak terlalu umum, namun kondisi seperti ini memiliki hubungan dengan tingkat tekanan psikologis yang tinggi. Yang terjadi adalah ketakutan hebat, yang menyebabkan terlepasnya unsur kimiawi yang memecahkan pembuluh darah halus, di kelenjar keringat. Akibatnya terjadi pendarahan di kelenjar tersebut, sehingga keringat yang keluar berwarna darah. Kondisi ini membuat kulit menjadi sangat rapuh, sehingga ketika Yesus dicambuk oleh tentara Romawi keesokan harinya, kulit-Nya akan menjadi sangat, sensitif.

    2. Yesus Kristus Mengalami Penganiayaan Keji. Injil melaporkan bahwa sebelum disalib Yesus dicambuk ala hukuman Romawi. Hukuman cambuk Romawi terkenal karena kebrutalannya yang amat sangat. Hukuman itu biasanya terdiri dari tiga puluh sembilan cambukan, namun seringnya jauh lebih banyak daripada itu, tergantung dari suasana hati tentara yang melakukan hukuman tersebut. Tentara itu akan menggunakan sebuah cambuk terbuat dari tali kulit yang dikepang dengan bola-bola logam yang diselipkan di dalam anyaman tali itu. Ketika cambuk itu menyambar tubuh si terhukum, bola-bola ini akan menyebabkan luka-luka memar yang dalam dan luka-luka itu akan hancur dengan pukulan-pukulan yang selanjutnya. Pada cambuk itu juga terdapat serpihan-serpihan tulang yang tajam, yang akan mencabik daging dengan parah. 

    3. Yesus Kristus Mengalami syok hypovolemic. Seorang dokter yang pernah mempelajari cambukan Romawi berkata: sementara cambukan itu berlangsung, tiap cabikan yang diakibatkan oleh cambuk itu akan mengoyak sampai ke otot rangka yang ada di bawah kulit, sehingga menghasilkan garis-garis daging yang berdarah. Orang akan mati karena pukulan jenis ini, bahkan sebelum mereka disalibkan. Korban akan mengalami kesakitan yang amat hebat dan mengalami syok hypovolemic. Ini adalah istilah medis, hypo artinya rendah, vol mengacu pada volume, dan emic berarti darah. Jadi, syok hypovolemic artinya orang itu sedang menderita efek dari hilangnya darah dalam jumlah yang banyak. Hal ini menyebabkan empat hal. Pertama, jantung berdebar kencang untuk memompa darah yang tidak ada di situ; kedua tekanan darah menurun, menyebabkan ketidaksadaran atau pingsan; ketiga, ginjal berhenti memproduksi urin untuk mempertahankan volume yang tersisa; dan keempat, orang itu menjadi sangat haus karena tubuh sangat membutuhkan cairan untuk menggantikan volume darah yang hilang (bdk.Yohanes 19:28). Karena efek mengerikan dari cambukan tersebut, tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa Yesus pasti sudah dalam kondisi serius menuju kritis, bahkan sebelum paku ditancapkan menembus tangan dan kaki-Nya. 

    4. Yesus Kristus Mengalami Hukuman Penyaliban. Dia dibaringkan dan tangan-tangan-Nya telah dipakukan dengan posisi terlentang di balok horisontal. Kayu lintang pada salib disebut patibulum dan di tahap ini kayunya terpisah dari balok vertikal, yang secara permanen tertancap di tanah. Orang-orang Romawi menggunakan paku-paku yang panjangnya 5 sampai 7 inci dan meruncing ke ujung yang tajam. Paku-paku itu ditancapkan ke tangan-Nya, sekitar satu inci di bawah telapak tangan. Penting untuk memahami bahwa pakunya akan menembus tempat di mana jalur saraf median berada. Ini merupakan saraf terbesar yang menuju ke tangan dan saraf ini akan hancur oleh paku yang dipukulkan ke dalamnya.

Memperhatikan kondisi Yesus Kristus ketika menjalani hukuman cambuk yang begitu sadis, tidak mungkin secara medis Dia hanya pingsan. Dan seandainya tuduhan bahwa Yesus hanya pingsan itu benar, tentu tidaklah masuk akal ketika siuman Dia langsung sehat. Karena luka-luka bekas cambukan dan paku pada kedua tangan serta kaki-Nya sangat mengerikan. Jadi teori Yesus pingsan itu terbantah secara medis.

Fakta Tujuan Inkarnasi Yesus Kristus


Tidak ada peristiwa lain sepanjang masa yang lebih penting dari pada kematian Kristus dikayu salib. Perbuatan-perbuatan penting lainnya dari Allah seperti di dalam penciptaan dunia, inkarnasi Kristus, kebangkitan-Nya, dan penciptaan langit sarta bumi baru menjadi tidak ada artinya apabila Kristus tidak mati. Kematian Kristus tidak hanya merupakan inti pemberitaan Injil, tetapi juga memiliki hubungan dengan doktrin-doktrin penting dari Kristologi. Jika kita mempelajari Alkitab secara komprehensip, maka kita menemukan fakta-fakta tujuan inkarnasi Allah dalam pribadi Yesus Kristus. Bahwa tujuan Yesus Kristus datang ke dunia adalah untuk mati guna menyelamatkan manusia. Berikut ini adalah fakta-fakta soterilogis dari kematian Yesus Kristus:

    1. Yesus Kristus Mati sebagai Pengganti. Artinya, kematian-Nya di kayu salib untuk menggantikan orang berdosa. Dalam kasanah linguistik Yunani kata “pengganti” ada dua istilah, yaitu anti dan huper. Kata depan anti diterjemahkan dengan kata “untuk” dalam Matius 20:28. Matius menyatakan bahwa Yesus Kristus datang “untuk” memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (lih. Markus 10:45). Sedangkan kata depan huper diterjemahkan dengan kata “bagi” dalam 1 Timotius 2:6. Paulus menyatakan bahwa Kristus “menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan “bagi” semua manusia.” Secara literal kata huper memiliki makna “mengambil tempat dari” (lih. Galatia 3:13).

    2. Yesus Kristus Mati sebagai Penebusan. Kebenaran yang berkaitan adalah bahwa kematian Kristus menyediakan penebusan. Dalam 1 Korintus 6:20 menyatakan bahwa orang percaya: “telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Membeli dalam bahasa Yunani dipakai istilah agorazo, yang menggambarkan seorang budak dibeli di pasar budak rakyat. Kristus membeli orang percaya dari pasar budak dosa dan membebaskan mereka (1 Korintus 7:23; Galati 3:13; 4:5; Wahyu 5:9; 14:3,4).
    3. Yesus Kristus Mati sebagai Pendamaian. Kematian Kristus juga menyediakan pendamaian. Artinya, bahwa tuntutan dari Allah akan kebenaran dari Allah yang kudus telah dipuaskan sepenuhnya. Paulus dalam Roma 3:25 menerangkan bahwa, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.” Istilah “pendamaian” di sini dalam bahasa Yunani dipakai kata hilasterion. Kata ini bermakna Kristus menyediakan pembayaran yang memuaskan untuk dosa melalui kematian-Nya. Allah dipuaskan, kekudusan-Nya ditegakkan, dan murka Allah telah dialihkan.

    4. Yesus Kristus Mati sebagai Pengampunan. Kematian Kristus mengakibatkan pengampunan bagi orang berdosa. Allah tidak dapat mengampuni dosa tanpa pembayaran yang seharusnya. Kematian Kristus menyediakan alat yang sah secara hukum, sehingga Allah dapat mengampuni dosa. Istilah “mengampuni” dalam Kolose 2:13, dipakai kata charisamenos dalam bahasa Yunani. Kata charisamenos berasal dari akar kata “untuk anugerah”. Jadi pengampunan berarti “mengampuni berdasarkan anugerah.” 

    5. Yesus Kristus Mati sebagai Pembenaran. Akibat lebih lanjut kematian Kristus adalah pembenaran bagi orang berdosa yang percaya. Pembenaran juga merupakan tindakan hukum Allah sebagai hakim yang mendeklarasikan orang berdosa yang percaya sebagai orang yang dibenarkan. Istilah “dibenarkan” dalam Roma 5:1, dipakai kata dikaiothentes dalam bahasa Yunani. Kata dikaiothentes berasal dari kata dasar dikaioo, yang mana kata ini memiliki aspek negatif maupun positif. Secara negatif, hal itu berarti mengangkat dosa orang percaya. Sedangkan secara positif, hal itu berarti menganugerahkan kebenaran Kristus atas orang percaya (Roma 3:24,28; 5:9; Galatia 2:16).

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya kematian Yesus Kristus di kayu salib. Posisinya begitu sentral bagi penyelamatan manusia. Jika Yesus Kristus tidak mati, bukan saja tujuan inkarnasi-Nya menjadi sia-sia, tetapi juga menempatkan Allah sebagai pendusta (bdk. Bilangan 23:19), sebab kematian Yesus adalah bagian dari rencana Allah dalam menyelamatkan manusia (bdk. Kejadian 3:15).

Penutup
Pembuktian-pembuktian bahwa Yesus Kristus benar-benar mati, memberikan sebuah afirmasi bahwa Swoon Theory adalah sebuah karangan yang bermotiv menyerang kredibelitas terhadap iman Kristen. Para penganut dan penyebar teori Yesus pingsan, merupakan orang-orang yang memiliki kebencian akut terhadap kekristenan dan Yesus Kristus. Di sisi lain sasaran rekayasa Swoon Theory sebetulnya adalah hendak menggugat Keilahian Yesus Kristus. Mereka menebar kepalsuan cerita bahwa Yesus tidak benar-benar mati, dan itu artinya juga Yesus tidak benar-benar bangkit dari antara orang mati. Jika Yesus tidak benar-benar bangkit dari antara orang mati, maka Ketuhanan Yesus Kristus menjadi gugur. Dan pada akhirnya orang akan berpikir bahwa Yesus hanya sekadar seorang moralis. Statusnya tidak berbeda dengan seorang nabi, rasul, dan guru agama saja. Jadi, Swoon Theory hakikatnya adalah sebuah teori konspirasi yang hendak menjatuhkan Kristus dari Tahta Keilahian-Nya.

Jika Yesus Kristus tidak sungguh-sungguh mati, maka sejarah inkarnasi-Nya yang dipaparkan dalam Injil-injil, hanyalah sebuah ilusi belaka. Lebih buruk lagi nilai kekristenan jatuh dan bahkan lebih rendah dari agama-agama suku sekalipun. Runtuh dan kokohnya kekristenan ditentukan oleh kualitas Pribadi dan Karya Yesus Kristus. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus adalah puncak dari karya penyelamatan manusia. Yesus sungguh-sungguh mati dan bangkit dari antara orang mati. Firman Tuhan berkata: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1 Korintus 15:3-5). Amin

DAFTAR PUSTAKA
Brill, J. Wesley. Dasar Yang Teguh. Bandung: Kalam Hidup, t.t.
christians-newestblog.blogspot.com/.../bukti-bukti-medis-kematian-yesus
Enns, Paul. The Moody Handbook Of Theology. Malang: Literatur SAAT, 2010
http://forum.swaramuslim.net
https://www.namb.net/apologetics/josephus-and-jesus    
McDowell, Josh. Apologetika. Malang: Gandum Mas, 2002
Oetomo, Thomas B. Kristologi (Diktat Kuliah). Surabaya: Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia, 2000
Ryrie, Charles C. Teologi Dasar I. Yogyakarta: Yayasan Andi, 1991
Shorrosh, Anis A. Kebenaran Diungkapkan. Jakarta: Kelompok Kerja Philia, 1994
Thiessen, Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 1992
Walvoord, John F. Yesus Kristus Tuhan Kita. Surabaya: Yakin, t.t.
www.indocell.net/yesaya/pustaka2/id572.htm

ARTIKEL OLEH

Pdt. Thomas B. Oetomo, M.Th.

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon