PERJAMUAN SUCI

 

Perjamuan Kudus atau Perjamuan Suci adalah suatu ritus (tata cara dalam keagamaan) yang dipandang oleh kebanyakan gereja dalam Kekristenan sebagai suatu Sakramen.

Perjamuan Suci dilembagakan oleh Yesus Kristus pada  waktu Perjamuan Malam terakhir. Yesus memberikan kepada murid-murid-Nya roti dan anggur saat makan Paskah dan memerintahkan pada murid-murid-Nya untuk : “Perbuatlah ini menajdi peringatan akan Aku” sambil menyatakan roti sebagai tubuh-Nya dan anggur sebagai darah-Nya (Lukas 22 : 19 – 20).

Perjamuan Suci oleh Gereja Katolik disebut dengan istilah Ekaristi yang berarti bersyukur atau berterima kasih, sedangkan istilah Perjamuan Kudus atau Perjamuan Suci umumnya dipakai oleh Gereja Kristen / Protestan khususnya di Indonesia.

Dalam kekristenan, Perjamuan Suci merupakan hal yang sakral / suci, sehingga tidak sembarang orang boleh mengikutinya. Pelaksanaan Perjamuan Suci antara denominasi gereja yang satu tidak sama dengan yang lain dikarenakan memang Tuhan Yesus tidak pernah menetapkan pelaksanaannya. Penekanan Tuhan Yesus bukan pada esensi / inti pelaksanaannya melainkan pada makna dari Perjamuan Suci itu, maksudnya bukan seberapa banyak Perjamuan Suci itu dilakukan tapi bagi Tuhan Yesus bagaimana umat-Nya / orang percaya memberi makna yang mendalam terhadap Perjamuan Suci itu

 

LATAR BELAKANG MASALAH

Bagi gereja-gereja, Perjamuan Suci bukanlah hal yang asing bahkan sudah dilaksanakan walaupun pelaksanaan Perjamuan Suci antara denominasi gereja yang satu tidak sama dengan yang lain. Adapun permasalahan yang akan dibahas adalah:

Aspek Theologis

  1. Apakah makna dari Perjamuan Suci bagi orang percaya?

  2. Penyalahgunaan atau kesalahan dalam memaknai Perjamuan Suci.

  3. Frekuensi penyelenggaraan Perjamuan Suci.

Aspek Praktis

  1. Bolehkah Perjamuan Suci diadakan dalam keluarga?

  2. Bolehkah anak-anak mengikuti Perjamuan Suci?

  3. Siapakah yang boleh melayani Perjamuan Suci?

KAJIAN FIRMAN TUHAN

Makna Perjamuan Suci

Perjamuan Suci adalah suatu pengalaman yang mengandung makna yang mendalam. Ketika Tuhan Yesus merayakan Paskah menjelang kematian-Nya / penyaliban, Ia menetapkan sebuah perjamuan baru yang bermakna dan sangat penting dalam Ibadah Kristen yaitu yang disebut Perjamuan Suci, untuk memperingati pengorbanan Tuhan Yesus yaitu kematian dan kebangkitan-Nya serta janji kedatangan-Nya di masa mendatang.

 

Dalam kalender Yahudi, hari Paskah merupakan perayaan yang suci yang harus selalu diperingati karena perayaan itu memperingati karya Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir dengan tulah terakhir semua anak sulung orang Mesir dan anak sulung binatang mati tetapi semua anak sulung orang-orang Israel selamat karena darah anak domba yang dioleskan pada ambang pintu (Keluaran 12 : 29 – 42).

 

Waktu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Tuhan Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikan kepada murid-murid-Nya serta berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu”.

 

Demikian pula Dia mengambil cawan dan memberikannya kepada mereka, kataNya, “Cawan ini adalah Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku, perbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku”.

 

Kisah Perjamuan Suci ini tertulis dalam Injil Matius 26 : 26 – 29, Markus 14 : 17 – 25; Lukas 22 : 15 – 22; 1 Korintus 11 : 23 – 29. Hal ini juga menyatakan bahwa Paskah yang tadinya harus mengorbankan atau menyembelih seekor domba, berakhir sejak Kristus sang Anak Domba Paskah (1 Korintus 5 : 7) dikorbankan (Ibrani 8 : 8 – 13), maka sistem korban binatang tidak lagi diperlukan (Ibrani 9 : 25 – 28).

 

Oleh karena itu Perjamuan Suci berarti memperingati kematian Tuhan Yesus, apa yang Ia perbuat di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia dan mengingatkan orang percaya akan kedatangan-Nya kembali ke dunia ini.

 

1 Korintus 11 : 23 – 26

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya, Ia memecah-mecahkannya dan berkata : “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”. Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata : “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”. Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

 

Dalam 1 Korintus 11 : 23 – 34, Rasul Paulus mengingatkan kepada mereka yang makan roti dan minum cawan Tuhan dalam Perjamuan Suci, yaitu bahwa Perjamuan Suci harus dilakukan dengan cara yang layak, agar tidak berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan, yaitu:

  1. Sopan dan hormat.

  2. Tidak sembarangan (ayat 27).

  3. Menguji diri sendiri (ayat 28) apakah layak untuk makan dan minum Perjamuan Suci, introspeksi diri.

  4. Saat makan dan minum Perjamuan Suci harus mengakui Tubuh dan Darah Kristus agar tidak mendatangkan hukuman bagi dirinya (ayat 29 – 30). Pengakuan terhadap Tubuh dan Darah Kristus tersebut, berarti percaya dan menerima pengorbanan Kristus sebagai Anak Domba Allah (Yohanes 1:29).

 

Dengan demikian siapa yang diperbolehkan mengikuti Perjamuan Suci?

Pada dasarnya mereka yang diperbolehkan mengikuti Perjamuan Suci adalah mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamatnya pribadi, dan yang sudah memahami tentang makna Perjamuan Suci.

 

Makna Perjamuan Suci :

  1. Sebagai Perjamuan Syukur atas karya Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan manusia (1 Korintus 15 : 16 – 17)

  2. Peringatan akan karya Yesus di atas kayu salib, sehingga Ia mati untuk menebus dosa manusia dan mengingatkan orang percaya akan kedatangan-Nya kembali ke dunia ini (1 Korintus 11 : 23 – 26)

  3. Pembaharuan Persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus (1 Korintus 10 : 16; 11 : 28), yaitu persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus, berarti persekutuan dalam kematian dan kebangkitan-Nya serta perwujudan ucapan Kristus mengenai “makan daging-Ku dan minum darah-Ku” yang berarti penegasan memiliki hidup yang kekal (Yohanes 6:53-56).

  4. Pembaharuan Persekutuan dengan sesama anggota Tubuh Kristus (1 Korintus 10:17).

  5. Penegasan tentang janji dan pengharapan akan kedatangan  Tuhan Yesus Kristus yang kedua (1 Korintus 11:26).

 

Penyalahgunaan atau kesalahan dalam memaknai Perjamuan Suci

Tidak jarang seorang hamba Tuhan yang melayani Perjamuan Suci menjelaskan bahwa dengan mengikuti Perjamuan Suci yaitu makan roti (tubuh Yesus) dan minum anggur (darah Yesus) maka dapat menyembuhkan sakit penyakit, sehingga Perjamuan Suci dipakai untuk tujuan kesembuhan. Kesembuhan memang dapat terjadi karena efek dari iman kepada Tuhan Yesus Kristus, bukan karena Perjamuan Suci. Jelas kesembuhan bukan tujuan utama dari Sakramen Perjamuan Suci, apalagi dengan cara-cara yang salah, dimana anggur dioleskan, digosok atau dipercikkan pada bagian yang sakit. Hal semacam ini tidak dibenarkan berdasarkan Firman Tuhan untuk dilakukan karena Perjamuan Suci itu dimakan dan anggur itu diminum.

 

Frekuensi mengadakan Perjamuan Suci

Berapa kali seharusnya mengadakan Perjamuan Suci? Tiap-tiap gereja berbeda. Namun Rasul Paulus menuliskan dalam 1 Korintus 11 : 23 – 26 bahwa setiap kali mengadakan Perjamuan Suci maka hal itu menjadi peringatan akan Tuhan dan setiap kali makan dan minum Perjamuan Suci berarti memberitakan kematian Yesus yang menyelamatkan sampai Tuhan Yesus datang kembali.

 

Kata “setiap kali” menunjuk kepada tindakan yang berulang-ulang atau kata yang menyatakan perbanyakan atau pergandaan.

Ini membuktikan bahwa Perjamuan Suci merupakan hal yang penting untuk dilaksanakan karena melalui Perjamuan Suci tubuh Kristus disatukan dengan Kristus sebagai kepala gereja. Pelaksanaan Perjamuan Suci setidak-tidaknya minimal satu kali dalam satu bulan namun bisa lebih dari satu kali dalam satu bulan (Kisah Para Rasul 2, 20).

 

Perjamuan Suci dalam Keluarga

Dalam ibadah keluarga sering terjadi bahwa keluarga yang mengadakan ibadah ini rindu untuk mengadakan Perjamuan Suci di dalam keluarga mereka. Hal ini tentu menjadi bahan pertimbangan boleh atau tidak dalam keluarga mengadakan Perjamuan Suci. Perjamuan Suci dipimpin oleh seorang pendeta atau pendeta muda yang direkomendasikan. Jadi tidak dibenarkan kalau Perjamuan Suci dalam keluarga tidak dipimpin oleh pendeta atau pendeta muda yang direkomendasikan. Dengan kata lain : Perjamuan Suci dalam keluarga bisa dilaksanakan asal dipimpin oleh pendeta atau pendeta muda yang direkomendasikan. Demikian pula Perjamuan Suci bisa diberikan pada orang / jemaat yang tidak dapat hadir dalam ibadah Perjamuan Suci karena sakit. Mereka dapat dilayani di rumah oleh seorang pendeta atau pendeta muda yang direkomendasikan.

 

KESIMPULAN

Aspek Theologis

  1. Perjamuan Suci merupakan peringatan akan Tuhan Yesus Kristus dan pemberitaan tentang karya penyelamatan Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Perjamuan Suci merupakan persekutuan orang percaya dengan Tuhan Yesus Kristus dalam tubuh dan darah-Nya atau dengan kata lain persekutuan dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

  2. Tidak dibenarkan memakai unsur Perjamuan Suci seperti anggur dioleskan, digosokkan atau dipercikkan pada bagian tubuh yang sakit untuk mendapatkan kesembuhan. Perjamuan Suci dimaksudkan untuk dimakan dan diminum. Melalui iman seseorang diselamatkan dan disembuhkan.

  3. Perjamuan Suci tidak boleh diikuti dengan tidak layak, melainkan dengan penuh hormat, sekurangnya diselenggarakan satu kali dalam satu bulan.

 

Aspek Praktis

  1. Perjamuan Suci dalam keluarga dapat dilaksanakan bila dipimpin oleh pendeta atau pendeta muda yang direkomendasikan.

  2. Karena hanya mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamatnya pribadi, serta sudah memahami tentang makna Perjamuan Suci, maka orang yang belum dibaptis dan/atau anak-anak belum boleh mengikutinya.

  3. Mereka yang boleh melayani Perjamuan Suci adalah Pendeta atau Pendeta Muda.

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon