MINYAK URAPAN

 

 

Pendahuluan

Praktek pelayanan kesembuhan Ilahi yang dilakukan oleh gereja-gereja dan  para pemberita Injil pada saat ini sudah sedemikian rupa. Sesuai dengan apa yang dituliskan dalam Alkitab bahwa pelayanan kesembuhan Ilahi dapat dilaksanakan dengan penumpangan tangan, doa, melalui media seperti pengolesan dengan minyak, sapu tangan, bayangan, pakaian, atau bentuk-bentuk lainnya. Banyak kalangan gereja yang terkesan melakukan praktek secara berat sebelah, seperti misalnya pelayanan kesembuhan dengan media minyak urapan dan Perjamuan Kudus.

Bukan hanya dalam pelayanan kesembuhan Ilahi. Pengurapan minyak juga dilakukan untuk bentuk-bentuk pelayanan lainnya seperti mentahbiskan pelayan-pelayan gerejawi, memerciki rumah atau barang-barang lainnya dengan minyak urapan. Tujuannya untuk melindungi orang, rumah atau barang-barang tersebut dari serangan kuasa-kuasa demonik.

Haruskah orang Kristen menggunakan minyak urapan pada saat ini? Alkitab tidak memerintahkan atau bahkan menyarankan kalau kita juga harus menggunakan minyak yang sama pada saat ini. Namun, Alkitab juga tidak melarangnya.

 

Defenisi Minyak Urapan

Minyak urapan adalah minyak yang dituangkan atau dioleskan ke atas manusia atau benda-benda dengan tujuan tertentu.

Samuel T. Gunawan menulis:

Perjanjian Lama menggunakan dua kata Ibrani untuk istilah minyak urapan, yaitu : "syemen" yang diterjemahkan dengan kata “minyak”, dan “hamisykhah” atau “misykhah” yang diterjemahkan dengan kata “urapan”. Kata “misykhah” itu sendiri berasal dari kata “mâsyakh” yang berarti “mengoles, melumuri, menggosok dengan minyak atau sesuatu yang terbuat dari minyak. (Catatan: dari   “mâsyakh” ini kemudian dikenal nama  Ibrani “yehôsyua' hamasyiakh” atau Juruselamat Yang Diurapi atau Yesus Kristus). Dengan demikian, Istilah “syemen hamisykhah” diterjemahkan dengan pengertian “minyak urapan”. Kata Yunani untuk “minyak” adalah “ελαιον-elaiôn”, dan “ελαιου του χρισματος-elaiou tou khrismatos” untuk “minyak urapan (Bandingkan Keluaran 25:6; 29:7).[1]

Dalam perjanjian Lama cukup jelas dibedakan antara minyak biasa dan minyak urapan yang kudus. Komposisi dan cara pemakaian dan tujuan penggunaan jelas sangat berbeda. Selanjutnya akan dibahas lebih jelas dalam kajian Alkitab di bawah ini.

Permasalahan

Aspek Teologis

  1. Apakah arti minyak urapan menurut Alkitab?

  2. Apakah kegunaan minyak urapan menurut Alkitab?

Aspek Praktis

  1. Apakah penggunaan minyak masih relevan dalam pelayanan gereja masa kini?

  2. Bagaimana praktek penggunaan minyak yang benar dalam pelayanan gereja?

Kajian Alkitab

Tradisi Penggunaan Minyak Pada Zaman Alkitab

Menurut beberapa literatur, minyak tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari penduduk Timur Tengah. Biasanya mereka mendapatkan minyak dari pohon zaitun. Minyak diperoleh dari buah zaitun yang ditumbuk dan diperas.

Selain untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk mempersiapkan makanan, bahan bakar untuk penerangan rumah (lampu), minyak zaitun juga digunakan untuk ibadah, sebagai persembahan (Kel. 22:29). Korban-korban sering dicampur dengan minyak (Im. 8:26; Bil. 7:19). Lampu di kemah pertemuan diisi dengan minyak zaitun tumbuk yang tulen (Im. 24:2).

Minyak juga digunakan dalam upacara penahbisan imam-imam (Kel. 29:2), dalam pentahiran penderita kusta (Im. 14:10-18), pada penyerahan korban sehari-hari (Kel. 29:40) dan pada penggenapan nazar sang penazar (Bil. 6:15).[2]

Minyak dapat digunakan sebagai obat luar, berfungsi untuk melembutkan, menenangkan dan menyembuhkan. Minyak dioleskan untuk memar-memar dan luka-luka (Yes. 1:6; Mrk. 6:13; Luk. 10:34).

Minyak juga digunakan untuk  meminyaki badan setelah mandi (Rut. 3:3; 2Sam. 20:10) atau sebagai bagian dari upacara pesta. Di Mesir purba seorang pelayan biasanya  meminyaki kepala tiap tamu, saat sang tamu mengambil tempat pada pesta.[3] Praktek mengurapi dengan minyak juga merupakan kebiasaan mengekspresikan rasa hormat kepada tamu-tamu istimewa. Tuan rumah atau pelayannya akan membasuh kaki dan selanjutnya menuangkan minyak wangi ke atas kepala tamu kehormatan mereka. Itulah juga sebabnya pengamsal menuliskan bahwa minyak dan wangi-wangian menyukakan hati (Aml. 27:9).

Gembala-gembala Palestina mencampur minyak zaitun dan mengoleskannya pada wajah domba yang luka memar. Mungkin itu sebabnya pemazmur mengatakan bahwa Tuhan sebagai Gembala yang mengurapi kepalanya dengan minyak (Mz. 23:5). Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa pengolesan minyak di kepala domba untuk mencegah serangan binatang buas seperti ular agar tidak keluar dari lobangnya untuk menyerang domba pada saat makan rumput, sebab aroma minyak di kepala domba sangat tidak disukai ular.  

Salep rempah-rempah wewangian dengan campuran minyak mur digunakan untuk meminyaki jasad orang mati (Luk. 23:56). Kebiasaan ini merupakan bentuk isyarat kasih kepada orang-orang yang sudah mati (Mrk. 16:1).

Minyak juga digunakan untuk mengurapi benda-benda, seperti yang dilakukan  oleh Yakub untuk mengurapi tugu di Betel (Kej. 28:18), sebagai ekspresi rasa hormatnya kepada tempat di mana Tuhan menyatakan diri. Orang Israel juga mengurapi perisai, kemungkinan untuk mentahirkannya dalam ‘perang suci’ (2 Sam. 1:21; Yes. 21:5; Ul. 23:9).

Penggunaan Minyak Urapan Kudus  Dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama minyak urapan dibuat sesuai perintah Tuhan sebagai minyak kudus. Komposisi dan kegunaan harus sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan. Untuk itu perlu memperhatikan apa yang dituliskan dalam Keluaran 30:22-33:

22 ¶  Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 23  "Ambillah rempah-rempah pilihan, mur tetesan lima ratus syikal, dan kayu manis yang harum setengah dari itu, yakni dua ratus lima puluh syikal, dan tebu yang baik dua ratus lima puluh syikal, 24  dan kayu teja lima ratus syikal, ditimbang menurut syikal kudus, dan minyak zaitun satu hin. 25  Haruslah kaubuat semuanya itu menjadi minyak urapan yang kudus, suatu campuran rempah-rempah yang dicampur dengan cermat seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah; itulah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus. 26  Haruslah engkau mengurapi dengan itu Kemah Pertemuan dan tabut hukum, 27  meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan perkakasnya, dan mezbah pembakaran ukupan; 28  mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya. 29  Haruslah kaukuduskan semuanya, sehingga menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepadanya akan menjadi kudus. 30  Engkau harus juga mengurapi dan menguduskan Harun dan anak-anaknya supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku. 31  Dan kepada orang Israel haruslah kaukatakan demikian: Inilah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus bagi-Ku di antara kamu turun-temurun. 32  Kepada badan orang biasa janganlah minyak itu dicurahkan, dan janganlah kaubuat minyak yang semacam itu dengan memakai campuran itu juga: itulah minyak yang kudus, dan haruslah itu kudus bagimu. 33  Orang yang mencampur rempah-rempah menjadi minyak yang semacam itu atau yang membubuhnya pada badan orang awam, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya."

 

Berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas ada beberapa prinsip penting yang perlu kita pelajari tentang minyak urapan.

Pertama: Dalam Perjanjian Lama, membuat minyak urapan kudus (syemen hamisyikhah) merupakan perintah langsung dari Tuhan. Komposisi minyak urapan tersebut terdiri dari: 

-  Rempah-rempah pilihan

-  Mur tetesan 500 syikal (5,7 Kg)

-  Kayu manis yang harum 250 syikal (2,85 Kg),

-  Tebu yang baik 250 syikal (2,85 Kg),

-  Kayu teja 500 syikal (5,7 Kg), ditimbang menurut syikal kudus,

-  Minyak zaitun 1 hin (6 liter).

Kedua: Minyak urapan itu kudus, digunakan hanya untuk mengurapi Kemah Pertemuan, perkakas-perkakas, mengurapi Imam Harun dan anak-anaknya (ayat  26, 27, 28, 29, 30)

Ketiga: Minyak urapan tidak boleh digunakan secara bebas atau dipakai sembarangan orang (ayat 33). Orang awam atau jemaat umum tidak boleh membuat atau menggunakannya. Penyalahgunaan minyak urapan kudus merupakan pelanggaran kriminal dan diancam dengan hukuman mati.

Keempat: Minyak urapan dipakai untuk menguduskan barang atau orang. Setiap barang atau orang yang diurapi akan menjadi kudus, dipisahkan untuk tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan sendiri.

Dalam upacara pentahbisan imam, Herbert Wolf menulis bahwa Musa menuangkan sedikit minyak urapan pada jenggot Harun, mungkin sebagai suatu simbol dari pemberian kuasa oleh Roh Kudus.[4] Namun kemungkinan tidaklah demikian. Minyak urapan pastilah dituangkan ke atas kepala Harun sampai meleleh ke janggut bahkan ke jubahnya sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Mazmur 133.

Minyak urapan juga dipercikkan kepada kemah suci dan perabotannya untuk menandakan bahwa semuanya kudus atau mutlak terpisah untuk Allah saja (Kel 25:6; Im 8:30; Bil 4:16). Sebanyak tiga kali, minyak ini dinyatakan sebagai “minyak urapan yang kudus” sehingga orang Yahudi dilarang keras untuk membuatnya demi kepentingan pribadi (Kel 30:32-33).

Tidak ada bagian yang menyatakan kalau minyak atau bahan-bahannya ini memiliki kekuatan supranatural. Malahan, ketegasan dari pedoman untuk membuat minyak ini sebenarnya merupakan ujian bagi kepatuhan bangsa Israel serta menyatakan kekudusan Allah yang absolut.[5]

Minyak urapan juga digunakan untuk mengurapi raja. Baik Saul (1Sam. 10:1), Daud, Salomo dan raja-raja lainnya yang memerintah di Israel diurapi dengan minyak (1Sam. 9; 1Sam. 16; 24:6; 1Raj. 1:39; 16:19; 2Raj. 9:3; 11:12).

Secara garis besar terlihat bahwa minyak urapan digunakan untuk:

  1. Mengurapi benda-benda seperti tabut dan perkakasnya (Kel. 30:22)

  2. Mengurapi manusia seperti imam besar dan keturunannya (Kel. 28:41), raja (Hak. 9:8; 2Sam. 2:4; 1Raj. 1:34), nabi (1Raj. 19:16).

Peraturan tentang pembuatan dan penggunaan minyak urapan khusus dalam Keluaran 30:22-33 merupakan salah satu bentuk aturan upacara agama Yahudi sesuai hukum Taurat yang mereka lakukan. Perlu kita ketahui, aturan hukum-hukum upacara agama Yahudi berlaku hanya bagi mereka sebelum Yesus mati di kayu salib. Yesus sudah menggenapi hukum Taurat dalam diri-Nya, sehingga kita yang percaya kepada-Nya beroleh keberanian masuk ruang maha suci dan berhak disebut umat Allah tanpa harus mengerjakan aturan-aturan hukum upacara agama Yahudi lagi.

 

Penggunaan Minyak Untuk Doa Penyembuhan Dalam Perjanjian Baru

Beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang menuliskan praktik pengolesan dengan minyak. Injil Markus 6:13 mencatat bagaimana murid-murid Yesus mengolesi orang-orang yang sakit untuk menyembuhkan mereka. Dalam Injil Lukas 7:46, Maria mengurapi kaki Yesus sebagai tindakan penyembahan. Dalam surat Yakobus 5:14, para penatua gereja mengolesi orang-orang yang sakit untuk kesembuhan. Sedangkan kitab Ibrani 1:8-9 menuliskan bahwa minyak memiliki makna kesukaan.

Dalam Perjanjian Baru kita menemukan dua ayat yang sering digunakan sebagai dasar Alkitab penggunaan minyak bagi pelayanan kesembuhan Ilahi, yaitu Markus 6:13 dan Yakobus 5: 14. Kita akan selidiki beberapa pandangan para ahli Alkitab terhadap ayat ini.

dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka (Mrk. 6:13).

Tafsiran Penuntun Hidup Berkelimpahan menuliskan bahwa “minyak yang dimaksud di sini mungkin dipakai sebagai lambang dari kehadiran dan kuasa Roh Kudus.”[6] Sementara itu Santapan Harian menuliskan: “Pengolesan minyak  dapat menjadi simbol penyertaan Roh Kudus, meski secara fisik Tuhan dapat memberi kesembuhan kepada pribadi-pribadi yang membutuhkan tanda dari Tuhan.”[7]

Tafsiran Wycliffe menuliskan: “Mengurapi dengan minyak merupakan praktek pengobatan yang umum digunakan (bdg Luk. 10:34; Yak. 5:14). W.K. Hobart (The Medical Language of St. Luke, hlm. 28,29), mencatat sejumlah kutipan para penulis kuno mengenai hal ini (Mark, hlm. 119) mengatakan bahwa pengurapan orang sakit sebagai tata cara keagamaan tidak ada sebelum abad kedua. Dengan demikian, kesembuhan-kesembuhan ini merupakan perpaduan antara mukjizat dan ilmu pengobatan.”[8]

Selanjutnya mari kita lihat analisis terhadap surat Yakobus berikut ini!

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan (Yak. 5:14). 

Pengolesan dengan minyak yang disertai doa yang diucapkan “penatua” jemaat, Kis. 11:30+, dengan maksud “membangun” orang sakit dan mengampuni dosanya itu, oleh Gereja diartikan sebagai permulaan sakramen pengurapan orang sakit. Pengartian tradisionil itu oleh konsili Trente ditetapkan sebagai ajaran iman.[9] Itu sebabnya dalam gereja Katolik dikenal sakramen pengurapan orang sakit.

Penyembuhan  terhadap orang sakit melalui sarana pengobatan – minyak dan doa penuh iman agar apabila ia berdosa maka dosanya pun diampuni-Nya.[10] Pengolesan dengan minyak berkaitan dengan kebiasaan PL yang melambangkan berkat atau urapan Allah. Juga dengan kebiasaan saat itu yang menganggap minyak mengandung zat yang menyembuhkan.[11]

Jika seseorang sakit berat, menurut Yakobus, hendaknya penatua jemaat (jabatan resmi) dipanggil. Doa mereka hendaknya disertai dengan pengurapan minyak dalam nama Tuhan. Di dalam kasus tertentu minyak memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, tetapi sebagian besar pemakaian minyak ini adalah sarana untuk membantu iman.[12]

Minyak dalam konteks surat Yakobus semacam balsam yang saat itu digunakan sebagai obat penyembuhan sakit atau menghilangkan rasa sakit. Bukan seperti sekarang ada gereja tertentu yang memperjualbelikan minyak urapan untuk menyembuhkan penyakit... kuasa kesembuhan tidak terletak pada minyak tersebut tetapi pada kuasa Tuhan. Minyak hanyalah tanda yang kelihatan untuk mengarahkan pandangan si sakit kepada kuasa Tuhan. Jika Tuhan Yesus berbelas kasih dan berkehendak, Dia dapat memakai media “apa saja” untuk menyembuhkan seseorang. Tuhan tidak pernah terikat pada satu metode dalam bekerja karena Dia maha dalam segala hal.[13]

Pernyataan bahwa pengertian yang ada dalam Yak 5:14 adalah penekanan pada doa bukan pada perminyakan didukung oleh penggunaan kata aleipho dan bukan kata chrio untuk menerangkan perminyakan (mengoleskan dengan minyak). Aleipho adalah kata umum yunani yang sekitar abad 1-2 digunakan untuk menerangkan praktek sehari-hari orang ketika meminyaki rambutnya, atau meminyaki badanya untuk berbagai kepentingan termasuk kepentingan pengobatan, dan penggunaan minyak zaitun untuk mempromosikan penyembuhan.[14]

Dalam tulisan Ps Joshua Mangiring Sinaga dituliskan bahwa penggunaan minyak dalam Perjanjian baru hanya sebagai “media” saja untuk menyalurkan tenaga (kuasa) Allah untuk menyembuhkan (Bdk Markus 6: 7,13). Dan minyak tersebut bukanlah disebut “minyak urapan”.[15]  

Para peneliti Alkitab umumnya mengatakan bahwa pemakaian minyak dalam doa kesembuhan hanya merupakan media, bukan benda magis yang memiliki kekuatan supranatural. Mereka bahkan menyebutkan bahwa pengolesan minyak terhadap orang sakit dalam Perjanjian Baru dilakukan juga karena minyak yang dioleskan memiliki khasiat alami untuk menyegarkan dan menyembuhkan. Dalam cerita Yesus tentang korban penyamun di jalan Yerusalem menuju Yerikho, orang Samaria yang baik hati  itu membalut luka-luka sesudah ia menyirami dengan minyak dan anggur (Luk. 10:34) untuk pertolongan pertama sebelum dibawa kepada tenaga medis.

Berdasarkan analisis terhadap kedua ayat di atas (Mrk. 6:13 dan Yak. 5:14), maka boleh dikatakan bahwa penggunaan media minyak dalam pelayanan doa kesembuhan merupakan salah satu cara untuk mengarahkan iman si sakit kepada kuasa Tuhan.

Salah satu ayat favorit yang sering digunakan oleh golongan yang ekstrim memakai minyak urapan dalam setiap pelayanan mereka adalah Wahyu 6:6:

Dan aku mendengar seperti ada suara di tengah-tengah keempat makhluk itu berkata: "Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu."

Mereka menekankan begitu pentingnya minyak urapan dan perjamuan kudus (yang mereka anggap sebagai arti dari minyak dan anggur dalam ayat ini) untuk pelayanan gereja di akhir zaman. Ayat ini menjadi dasar Alkitab yang terkesan dipaksakan untuk membenarkan praktek pengurapan terhadap orang sakit, terhadap benda-benda dan upaya proteksi terhadap segala situasi yang dianggap berbahaya.

Konteks ayat ini berbicara mengenai nubuatan tentang akhir zaman, dimana akan terjadi kelangkaan pangan, krisis dan kesusahan hidup penduduk bumi.

Beberapa penafsir memberikan pandangan beragam terhadap ayat ini. Ada penafsir yang mengatakan bahwa minyak dan anggur di sini berbicara perjamuan suci, tetapi Hagelberg mengatakan pada saat terjadinya kelangkaan pangan, pembesar-pembesar belum menderita kelaparan. Orang-orang kaya masih bisa membeli minyak zaitun dan anggur. Tidak ada petunjuk dalam nas ini bahwa minyak dan anggur melambangkan sesuatu.[16]

Pdt. Ir. Sutadi Rusli menuliskan bahwa minyak dan anggur di sini memiliki pengertian firman dan Roh Kudus.[17] Sementara Pdt. Michael H. Sainima mengatakan minyak berbicara penghormatan kepada Tuhan (Hak. 9:9) dan anggur: untuk menyukakan hati Tuhan.[18] Penafsir lain berkata bahwa minyak dan anggur di sini memiliki arti anugerah, perkataan dan perbuatan Kristus.[19] Boleh dikatakan bahwa minyak dan anggur yang dimaksudkan dalam ayat ini tidak menunjuk kepada minyak urapan dan perjamuan kudus. Jadi memaksakan ayat ini untuk mendukung praktek pengurapan minyak dan perjamuan kudus untuk pelayanan secara ekstrim harus berhati-hati.

 

Tinjauan Teologis Terhadap Praktek Pengurapan Minyak Dalam Pelayanan Gereja Masa Kini

Banyak orang Kristen tidak tahu, tidak mengerti apa kata Alkitab tentang minyak urapan. Akibatnya ada orang-orang atau golongan gereja tertentu yang mengajarkan pengurapan dengan menekankan perspektif Perjanjian Lama. Minyak urapan dianggap mengandung semacam khasiat mistis, bahkan menjadi sarana mutlak atau wajib harus ada dan digunakan pada setiap pelayanan.

Perlu kita ketahui bahwa cara membuat, tujuan, dan fungsi minyak urapan dalam Perjanjian Lama berbeda dengan apa yang dituliskan dalam Perjanjian Baru tentang praktek pengolesan minyak terhadap orang sakit. Minyak urapan yang dimaksud dalam Perjanjian Lama tidak dikaitkan sama sekali dengan tujuan untuk mendoakan orang atau mengurapi orang sakit agar sembuh. Cara membuat dan menggunakan minyak urapan dalam Perjanjian Lama semua diatur menurut aturan agama Israel. Jadi jika ada orang Kristen menggunakan minyak urapan saat ini untuk mengurapi orang sakit, mengurapi barang-barang, jelas sangat berbeda dengan apa yang diatur dalam Perjanjian Lama. Mungkin minyak yang disebutkan sebagai minyak urapan orang-orang Kristen saat ini terbuat dari minyak zaitun yang dibeli dari Israel, dari swalayan atau minyak goreng kelapa atau minyak goreng kelapa sawit yang biasa kita temukan di pasar.

Perjanjian Baru tidak mengajarkan orang Kristen (gereja) untuk harus selalu menggunakan minyak dalam pelayanan-pelayanan gerejawi. Dalam konteks kedua ayat yang telah dibahas di atas, terlihat bahwa Perjanjian Baru menganjurkan pemakaian (pengolesan) minyak untuk orang sakit. Namun praktek demikian tidak harus selalu dilakukan sebagai sesuatu yang bersifat wajib dalam setiap praktek doa kesembuhan. Allah berkuasa menyembuhkan orang-orang sakit, memproteksi anak-anak-Nya tanpa harus melalui media tertentu. Minyak bukan sarana mistis yang wajib harus selalu digunakan. Jadi praktek ‘ritual’ memercikkan minyak terhadap benda-benda seperti rumah, mobil atau barang-barang lainnya dengan harapan memohonkan perlindungan dari Tuhan tidak wajib dilakukan.

Dalam keempat kitab Injil, Yesus tidak pernah  menganjurkan kita untuk melakukan pengurapan minyak, bahkan Ia sendiri tidak pernah ditulis dalam Alkitab mengurapi orang dengan minyak. Justru pengurapan dengan minyak atau mengolesi dengan minyak merupakan tadisi atau kebiasaan sehari-hari bahkan budaya di Israel pada zaman dahulu.

Alkitab menjelaskan bahwa praktek kesembuhan Ilahi dalam Perjanjian Baru dilakukan dengan berbagai cara. Yesus pernah menyembuhkan seseorang hanya dengan mengucapkan satu kalimat. Ia juga pernah meludah di tanah, mengoleskan tanah tersebut ke mata orang buta, menyuruh si orang buta membersihkan matanya ke kolam dan menjadi sembuh. Yesus pernah menumpangkan tangan atas orang sakit. Ia juga pernah menghardik setan sehingga terjadi kesembuhan. Dalam Markus 16:17-18 dituliskan bahwa orang-orang percaya akan mengusir setan, meletakkan tangan atas orang sakit, maka mereka yang sakit akan sembuh.

Murid-murid mendoakan orang sakit. Oleh bayangan Petrus terjadi kesembuhan (Kis. 5:15). Saputangan atau pakaian yang pernah dipakai rasul Paulus dipakai Allah menjadi sarana kesembuhan bagi orang sakit (Kis. 19:2).

Berbicara tentang pengurapan, sebuah literatur Kristen menuliskan, “Secara asasi pengurapan adalah tindakan Allah (1Sam. 10:1). Karena itu istilah ‘diurapi’ dapat berarti sudah menerima karunia ilahi (Mzm. 23:5; 92:10). Atau sudah diberi tempat atau fungsi istimewa dalam rencana Allah (Mzm. 105:15; Yes. 45:1). Selanjutnya pengurapan melambangkan perlengkapan untuk pelayanan dan dihubungkan dengan pencurahan Roh Allah (1Sam. 10:1,9; 16:13; Yes. 61:1; Za. 4:1-14). Hal ini diberlakukan juga dalam Perjanjian Baru (Kis. 10:38; 1Yoh. 2:20,27). Pemakaian minyak untuk mengurapi orang sakit dalam Yak. 5:14, paling baik dimengerti sebagai menunjuk kepada Roh Kudus, pemberi kehidupan.”[20] 

Dalam bahasa Ibrani, ‘yang diurapi’ disebut Masiakh dan dalam bahasa Yunani Khristos, memiliki pengertian, Dia Yang Diurapi dengan Roh Kudus dan dengan kuasa (Kis. 10:38)

Di dalam Alkitab, minyak seringkali digunakan sebagai simbol bagi Roh Kudus. Berita Alkitab Perjanjian Baru menjelaskan kaitan antara minyak urapan dan Roh  Kudus yang dicurahkan pada hari Pentakosta. Yesus sendiri dalam Lukas 4:16-19 berkata “ Roh TUHAN ada padaKU sebab Ia telah mengurapi  Aku. Dari sini kita mengenal nama Kristus yang artinya = Yang Diurapi Roh Kudus. Dari ayat – ayat ini kita mendapat penjelasan bahwa Roh Kudus memberi pengurapan dalam zaman Perjanjian Baru.

Dengan banyaknya pengajaran tentang Roh Kudus dalam Perjanjian Baru jelaslah bahwa minyak adalah lambang dari karya Roh Kudus. Kebenaran ini juga didukung dalam perumpamaan mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:1-13). Orang Kristen sudah memiliki Roh Kudus yang akan mengarahkannya hidup menuju kebenaran, mengurapi dan memimpin secara terus-menerus sehingga kita dimampukan berjalan menurut kehendak Allah (1Yoh. 2:20).

Ketika Yesus mengajarkan tentang roti sebagai tubuh Kristus & anggur sebagai darah Yesus ( perjamuan Kudus ) sebenarnya Yesus sedang mengajarkan pentingnya Poin of  Contack sebagai penyalur berkat. Ketika roti menyentuh mulut,  roti itu merupakan point of contack dengan tubuh Kristus.  Ketika mulut menyentuh anggur , itu merupakan point of contack dengan darah Yesus.

Demikian itulah minyak urapan adalah “ point of contact”  penyalur blessing dari kuasa Roh Kudus dengan segala karunia dan manifestasinya. Jadi pada waktu seorang beriman mengaplikasikan minyak urapan itu, ia dengan sepenuh hati mengimani kuasa Roh Kudus bekerja dengan luar biasa. Apabila kemudian terjadi mukjizat & berkat, itu bukan karena minyaknya, tetapi semata-mata karena karya Roh Kudus  yang dahsyat, yang bekerja di balik semua perlambang itu.

 

Kesimpulan

Aspek Teologis

Berdasarkan analisis tentang minyak urapan khusus dalam Keluaran 30, berbeda dengan praktek pengurapan dengan minyak yang dilakukan dalam Perjanjian Baru. 

Praktek mengolesi minyak dalam nama Tuhan Yesus dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengarahkan iman orang-orang sakit yang didoakan kepada Tuhan. Praktek ini hanyalah salah satu cara yang biasa dilakukan oleh jemaat gereja mula-mula untuk mendoakan orang sakit (Yak. 5:14; Mrk. 16:13).  Doa yang disertai dengan iman akan menyembuhkan dan mengampuni dosa penderita.

Aspek Praktis

Praktek pelayanan doa dengan pengolesan minyak masih relevan dan dapat dilakukan untuk mendoakan orang sakit. Namun tidak harus selalu dilakukan untuk semua bentuk pelayanan seperti untuk pelantikan atau pentahbisan pelayan-pelayan Tuhan, untuk benda-benda, barang-barang seperti rumah, mobil, sawah dan lain-lain. Minyak urapan  boleh dipakai sesuai kegunaannya, juga boleh tidak dipakai   (jadi bukan keharusan).   Jika menggunakan minyak urapan harus senatiasa diiringi dengan doa.            Cara pemakaiannya dapat dilakukan dengan mengoleskan, atau di percikkan atau di curahkan. Dapat dipakai untuk pengudusan manusia/ barang perkakas yang dikhususkan bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Semua harus dilakukan sesuai dengan  pimpinan Roh Kudus. Karena di atas semuanya itu: Iman kepada Tuhan Yesuslah yang yang menentukan terjadinya mujizat. Orang benar hidup karena iman.

Apa yang dipakai oleh orang-orang Kristen saat ini dalam pelayanan adalah minyak biasa (seperti minyak zaitun dan lain sebagainya) diakui berkhasiat untuk penyegaran tubuh dan kesehatan dengan cara mengoleskan pada orang sakit. Namun demikian pemakaian media kesembuhan seperti minyak harus berhati-hati, jangan sampai menjadikan benda apapun (seperti minyak, termasuk roti dan anggur perjamuan Kudus) menjadi semacam benda magis. Perlu diingat bahwa kesembuhan tergantung pada kuasa Allah, bukan pada media atau benda-benda yang kita gunakan.

Kepustakaan

Buku

Bangun, Yosafat. Integritas Pemimpin Pastoral. Yogyakarta: PBMR Andi, 2010

Browning, WRF. Kamus Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009

Hagin, Kenneth E. Memahami Pengurapan Illahi.  Jakarta: Immanuel, 1992

Soekahar, H. Satanisme Dalam Pelayanan Pastoral, Malang: Penerbit Gandum Mas, 1985

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-3. Jakarta: Balai Pustaka, 2002

Wolf, Herbert. Pengenalan Pentateukh, Malang: Gandum Mas, 2004

World Map. Tongkat Gembala. USA: San Fernando Blvd, 1993.

Yayasan Bina Kasih/OMF. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta, 2000

 

Tafsiran

Matthew Henry Commentary (MHC)

Matthew Henry Concise Commentary (MHCC)

Treasury Of Scriptura Knowledge

Full Life-Penuntun Hidup Berkelimpahan

Jerusalem-Catatan Ayat Alkitab Jerusalem

Hagelberg

Santapan Harian (SH)

Wycliffe –Tafsiran Alkitab Wyclife

 

Sumber-sumber dari Internet

dbr.gbi-bogor.org

gptkristusjawaban.com

https://www.gotquestions.org/Indonesia/minyak-urapan.html

https://id-id.facebook.com/notes/samuel-t-gunawan/membahas-minyak-urapan-berdasarkan-perspektif-alkitab/871925282856654/

http://www.sarapanpagi.org/doa-perminyakan-minyak-urapan-dan-tumpangan-tangan-vt1811.html

http://stt-suneidesis.blogspot.co.id/2013/10/mengurai-kontroversi-teologi-minyak.html

wordsworth_http//id.m.wikipedia.org

 

FOOTNOTE

[1] https://id-id.facebook.com/notes/samuel-t-gunawan/membahas-minyak-urapan-berdasarkan-perspektif-alkitab/871925282856654/

[2] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 2000), hal. 86

[3] Ibid, hal. 87

[4] Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh, (Malang: Gandum Mas, 2004), hal. 237

[5] https://www.gotquestions.org/Indonesia/minyak-urapan.html

[6] Full Life-Penuntun Hidup Berkelimpahan

[7] Santapan Harian, 1 Febr. 2016

[8] Tafsiran Alkitab Wyclife

[9] Jerusalem-Catatan Ayat Alkitab Jerusalem

[10] Santapan Harian, 13 Juni 2001

[11] Santapan Harian, 11 Agustus 2007

[12] Tafsiran Alkitab Wyclife

[13] Yosafat Bangun, Integritas Pemimpin Pastoral. (Yogyakarta: PBMR Andi, 2010), halaman 244

[14] http://www.sarapanpagi.org/doa-perminyakan-minyak-urapan-dan-tumpangan-tangan-vt1811.html diunduh pada tgl. 1 Febr 2018 pukul 20.30

[15] http://stt-suneidesis.blogspot.co.id/2013/10/mengurai-kontroversi-teologi-minyak.html

[16] Tafsiran Hagelberg

[17] dbr.gbi-bogor.org, diunduh pada tgl. 15 Maret 2018 pukul 09.00.

[18] gptkristusjawaban.com, diunduh pada tgl. 15 Maret 2018 pukul 09.00.

 

[19] wordsworth_http//id.m.wikipedia.org, diunduh pada tgl. 15 Maret 2018 pukul 09.00.

 

[20] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, hal. 531

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon