KERENDAHAN HATI MENDATANGKAN

KEMULIAAN        

Khotbah oleh

Pdt. Freddy Sutisna

Nats: Filipi 2:5-11


        Teladan penyelamatan Kristus bagi keselamatan dunia diawali dengan kerendahan hati untuk mengosongkan diri-Nya, Raja di atas segala raja menjadi sama dengan  manusia yang lemah dan serba terbatas. Bahkan di akhir tugas suci yang dipikulNya dengan setia, Tuhan Yesus merelakan segala-sesuatu direnggut dari kehidupanNya: kehormatan, nama baik, harga diri, martabat, kekuatan fisik, hingga nyawa. Ia tidak menyayangkan apapun dan tidak menahan satu hal pun dari keberadaan-Nya sebagai manusia, semua diserahkan dengan penuh kasih, supaya manusia selamat. Tuhan menunjukkan, agar manusia mampu menerima kasih  yang besar itu, yaitu sebesar korban penebusan yang telah dicurahkanNya dengan kerelaan yang penuh.


        Awal kejatuhan manusia ke dalam dosa yang terjadi pada Adam dan Hawa ditandai dengan kesombongan. “…lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian,” itu yang ada dalam pikiran Hawa (Kej 3: 4-6). Ingin menjadi seperti Allah, namun terlepas dari Allah, mau menentukan sendiri hal yang baik dan benar. Itulah motivasi yang mendasari dosa di taman Eden. Kesombongan bahwa aku bisa mengontrol segala sesuatu dan bisa meraih apa yang kurencanakan dengan kekuatanku sendiri, pergi dari kehendak Allah, melepaskan diri dari ketaatan kepadaNya. Padahal kasih pemeliharaan Allah tidak pernah lepas dari pengajaran dan peringatan, dengan tujuan supaya manusia bahagia sepenuhnya dalam kebebasan yang bertanggungjawab.


    Demikian pula faktor penghambat utama yang membuat ahli Taurat dan orang Farisi tidak mampu mengenali dan tidak mau mengakui Kristus Sang Mesias, adalah kesombongan. Dan masih panjang daftar buah-buah dosa kesombongan. Pertengkaran, kemalasan, gosip, ketidakharmonisan dalam keluarga, korupsi, penipuan, komunikasi yang macet antara sesama anggota pelayanan, kekerasan fisik dan kekerasan verbal, acuh tak acuh kepada derita sesama, ketidakpedulian kepada tatanan hidup bersama atau kepada pelanggaran hak-hak kemanusiaan, merasa paling tahu, paling penting, paling baik, paling harus dihargai. Kesombongan juga memicu untuk menginginkan kenikmatan duniawi secara berlebihan, kalau perlu dengan cara-cara yang mengorbankan kepentingan sesama atau alam sekitar. Kesombongan akhirnya membuat seseorang tidak lagi bisa melihat Kristus yang melihat manusia dengan tatapan penuh kasih sayang dari atas kayu salib di mana Ia sangat menderita. Kristus telah menyerahkan segalanya, supaya manusia menemukan jalan kerendahan hati yang sudah lebih dulu Ia tempuh, dan mengikutiNya dalam kemuliaan.    

Apa itu kerendahan hati? 


    Dalam bahasa Ibrani, kerendahan hati  berasal dari kata dasar ( a·nah ) yang berarti ”dibuat menderita; direndahkan; ditindas”. Kata-kata turunannya diterjemahkan secara bervariasi menjadi ”kerendahan hati”, ”kelembutan hati”, ”penderitaan”, dan lain-lain. Dua kata kerja Ibrani lain yang berkaitan dengan kerendahan hati ialah  ( ka·na ) secara harfiah berarti  “menundukkan [diri]” dan ( sya·fel ) yang artinya, “merendah” atau “menjadi rendah”.                                                                    

 

    Dalam bahasa Yunani, kata ( ta·pei·no·phro·su'ne ) diterjemahkan menjadi ”kerendahan hati”. Kata itu berasal dari kata ( ta·pei·nos ) yang berarti ”menjadikan rendah”, dan kata ( phren )  artinya ialah ”pikiran”. Sedangkan dalam bahasa Inggris kerendahan hati disebut dengan 'humility'  yang berasal dari kata 'humus' ( diambil dari bahasa Latin), artinya tanah/ bumi. Jadi, kerendahan hati maksudnya adalah menempatkan diri 'membumi' ke tanah. Secara khusus mengingatkan kita akan hal ini: “Ingatlah bahwa kamu adalah debu, dan kamu akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19). Dari semua arti tentang kerendahan hati, keseluruhannya memiliki makna yaitu mau menjadi yang di bawah, direndahkan, terendah, bahkan menjadi sama rendah dengan tanah. Betapa dalamnya makna perkataan ini, dan jika kita renungkan, kita akan semakin mengenal diri kita yang sesungguhnya, bahwa kita ini sebagai manusia hanyalah tanah dan tidak ada yang dapat disombongkan sedikitpun karena pada akhirnya sehebat, sekaya, sepintar, sekuat apapun kita, pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. 

Nilai kerendahan hati


    Begitu banyak buku yang membahas tentang kunci hidup sukses dan diberkati, namun hanya sedikit yang menempatkan kerendahan hati sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan sejati. Kerendahan hati seharusnya menjadi tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan, sebab kerendahan hati adalah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati, bahkan juga promosi / peninggian , serta sebagai sarana menerima berkat dari Tuhan ( I Ptr 5:6 ; bdk Mzm 37:11 ).  Sangatlah penting bagi kita hidup dalam kerendahan hati, karena kerendahan hati memiliki nilai, yaitu: 

 

1. Kerendahan hati adalah wujud penghormatan kepada Tuhan
Dalam kehidupan rohani kekristenan, kerendahan hati diartikan sebagai 'nilai yang diperoleh dari penghormatan yang dalam kepada Tuhan.' Hal ini melibatkan pengenalan akan 'tempat' kita yang sebenarnya dalam hubungan dengan Allah sebagai Pencipta dan dengan ciptaan-ciptaan Tuhan yang lain,  dan sikap ini menentukan perbuatan kita. Kerendahan hati juga mengantar kita untuk mengakui bahwa kita dan segala ciptaan di dunia ini bukan apa-apa di hadapan Tuhan, dan kerendahan hati mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan pemahaman ini. Jadi, kerendahan hati membantu kita untuk melihat segalanya dengan kaca mata Tuhan: kita melihat diri kita yang sesungguhnya, tidak melebih-lebihkan hal positif yang ada pada kita, namun juga tidak mengingkari bahwa segalanya itu adalah pemberian Tuhan. Dalam hal ini kerendahan hati berhubungan dengan kebenaran dan keadilan, yang membuat kita mengasihi kebenaran lebih daripada kita mengasihi diri sendiri. Kebenaran ini memberikan kepada kita pengetahuan akan diri sendiri, dengan kesadaran bahwa segala yang baik yang ada pada kita adalah karunia Tuhan. Dan sudah selayaknya sesuai dengan keadilan, kita mempergunakan karunia itu untuk kemuliaan Tuhan (Roma 11 : 36). Dengan perkataan lain, kebenaran membuat kita mengenali karunia-karunia Tuhan, dan keadilan mengarahkan kita untuk memuliakan Tuhan, Sang Pemberi.

 

2. Kerendahan hati adalah hasil dari pengenalan pada diri sendiri dan pada Tuhan.
    Dasar dari kerendahan hati adalah pengenalan akan diri sendiri dan Tuhan. Thomas Aquinas mengatakan, bahwa pengenalan akan diri sendiri bermula pada kesadaran bahwa segala yang baik pada kita datang dari Allah dan milik Allah, sedangkan segala yang jahat pada kita timbul dari kita sendiri. Pengenalan yang benar tentang Tuhan menghantar pada pengakuan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan bahwa manusia diciptakan untuk mengasihi, sebab Allah yang menciptakannya adalah Kasih. Dalam kasih ini, Allah menginginkan persatuan dengan setiap manusia, sehingga Ia mengirimkan Putera-Nya yang Tunggal untuk menghapuskan penghalang persatuan ini, yaitu dosa. Kesadaran akan hal ini membawa kita pada kebenaran: yaitu bahwa kita ini bukan apa-apa, dan Allah adalah segalanya. Di mata Tuhan kita ini pendosa, tetapi sangat dikasihi oleh-Nya. Keseimbangan antara kesadaran akan dosa kita dan kesadaran akan kasih Allah ini membawa kita pada pemahaman akan diri kita yang sesungguhnya. Kesadaran ini menghasilkan kerendahan hati, yang adalah dasar dari bangunan spiritual atau 'rumah rohani' kita. 
  

    Itulah yang dialami oleh seorang raja yang bernama Nebukadnezar, sebelum dia mengenal Allah, begitu angkuh kehidupannya, dia merasa dirinya yang paling terutama lebih dari apapun juga,  sehingga dia direndahkan oleh Tuhan sebegitu rupa dan kemudian hidup layaknya binatang. Namun setelah dia mengenal Allah, dia menyadari bahwa dirinya tidak ada apa-pun yang dapat ditonjolkan dihadapan Allah, dan mulailah dia hidup dalam kerendah hatian, dengan mengakui kebesaran Allah (Daniel 4 : 37).

3. Kerendahan hati adalah bukti kehidupan yang bergantung kepada Tuhan.
    Kerendahan hati membuat kita selalu menyadari kelemahan kita dan bergantung kepada anugerah Tuhan. Dengan kata lain, kerendahan hati adalah sikap hati untuk tunduk dalam  penyerahan diri kepada Tuhan sehingga kita berusaha untuk menyenangkan hati Tuhan (bukan diri kita sendiri) di dalam segala perbuatan kita (Yak 4 : 10). 
Ciri orang yang rendah hati adalah mengandalkan Tuhan. Orang yang rendah hati mengerti bahwa kemampuannya terbatas sehingga selalu bergantung kepada Tuhan, yang berarti menyadari bahwa hidup ini seperti tanah liat yang siap untuk menerima pembentukan Tuhan  (diambil / dipisahkan dari tanah liat asal, dibanting, dipukul-pukul, ditata, dijemur, dibakar sampai semua proses itu selesai). Kerendahan hati akan membuat kita tidak menjadi tinggi hati ketika Tuhan mengangkat kita, karena kita menyadari semua itu adalah kasih karunia.    

Yesus teladan kerendahan hati yang sempurna


    Yesus Kristus ingin menunjukkan kepada kita contoh paling baik dari kerendahan-hati. Pada waktu ditanyakan oleh para pemuka Yahudi, dengan siapa Dia menyamakan diri-Nya, Yesus menjawab: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya” (Yoh 8:54). Yesus menghindar dari puji-pujian dan penghormatan orang banyak. Ia juga menanggung dengan sabar segala cemoohan, ejekan, siksa dan penganiayaan atas diri-Nya. Malah pada malam sebelum kematian-Nya di kayu salib, Ia membasuh kaki para murid-Nya (lihat Yoh 13:1-15). Setelah pembasuhan kaki itu, Yesus berkata: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:14-15). 


Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya (segala zaman) tentang pentingnya kerendahan shati!  Setelah permintaan ibu Yakobus dan Yohanes agar kedua anaknya ini mendapat 'posisi' penting dalam Pemerintahan Yesus, Ia mengajar para murid-Nya: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:26-28). Yesus bahkan mati di kayu salib, suatu kematian yang memalukan di mata manusia.   Satu lagi perkataan Yesus yang patut dicatat di sini: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12). 
Tuhan telah memberikan pada kita contoh yang sempurna dalam hal kerendahan hati, yaitu melalui Yesus Kristus. Itu sebabnya Yesus sendiri menyatakan : “….dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati,…” ( Mat 11 : 29 ). Kerendahan hatiNya tercermin dalam dua hal utama: Pertama, untuk menyelamatkan kita, Yesus yang adalah Tuhan mau menjelma menjadi manusia, tergantung sepenuhnya kepada Allah Bapa. Alkitab mengatakan bahwa Yesus, “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia… Dan Ia merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib” ( Fil 2:5-8 ).


Kedua, Yesus merendahkan diri dengan ketaatan-Nya untuk melaksanakan tugas misi yang diterima-Nya dari Allah Bapa, yaitu untuk menyelamatkan kita, para pendosa (Rom 5:8), termasuk dengan segala keadaan yang berkaitan dengan tugas penyelamatan itu. Seluruh hidup-Nya adalah cerminan kerendahan hati yang sempurna: lahir di kandang hewan, hidup miskin sepanjang hidupNya di dunia (2 Kor 8:9), dipukuli, dihina, difitnah padahal tidak bersalah, dilucuti pakaian-Nya, dianiaya sampai akhirnya mati di salib.

Penutup 
    Kerendahan hati adalah cara melepaskan diri dari kesombongan yang telah menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Dari kerendahan hati lahirlah ketaatan, seperti teladan Maria (Luk 1 : 38). Dari kerendahan hati meluaplah rasa syukur dalam segala perkara, karena mengakui dan mempercayai bahwa Tuhan terus berkarya mendatangkan kebaikan lewat suka maupun duka hidup ini (bdk. Rm 8:28). Dari kerendahan hati mengalirlah kasih dan kepedulian bagi sesama yang membutuhkan uluran kasih kita, tak hanya dana tetapi juga waktu, sapaan kasih, dan perhatian (Ef 4 : 2). Dari kerendahan hati, kita belajar menerima kritik dan saran yang tidak mengenakkan, belajar melayani tanpa mengharapkan pujian dan penghargaan, belajar membantu sekalipun yang dibantu tidak berterimakasih, belajar menahan diri bila tersinggung oleh kelakuan sesama, belajar mengampuni serta tetap mengasihi dan bahkan mendoakan sesama yang sudah melukai, belajar tidak ingin dihormati dan menjadi terkenal agar nama Tuhan saja yang dimuliakan, belajar mengekang keinginan fisik supaya lapar jasmani diubah menjadi lapar akan kasih dan hikmat Tuhan, belajar menomor-duakan diri demi memberi kesempatan orang lain untuk maju dan berkembang, belajar bersukacita dengan keberhasilan orang lain dan berprihatin bersama kesedihan orang lain, belajar mendengarkan saat orang lain berbicara, belajar tidak membantah dan ngeyel ketika orang lain memberi masukan, belajar menerima perlakuan yang tidak adil dari sesama, belajar tidak membela diri ketika orang lain memberikan penilaian yang negatif agar kita belajar terus dari kekurangan hidup kita, belajar hidup sederhana, belajar melakukan tugas dan pekerjaan yang tidak disukai dengan rela, belajar menerima celaan karena sudah berusaha menegur sesama yang bersalah, bahkan belajar rela dicap 'sok suci' demi tegaknya kebaikan.
Beratkah semua itu? Ya, sangat!. Jalan salib memang sungguh berat. Namun Kristus sudah menang, Ia selalu membantu kita di sepanjang jalan penyangkalan diri ini, untuk membentuk kita menjadi kehidupan yang memiliki kerendahan hati.


    Kerendahan hati yang Yesus perlihatkan sepanjang hidupNya menghasilkan sukacita dan berkat.  Bapa bersukacita melihat Putra yang dikasihi-Nya dengan rendah hati menaati Dia. Para murid Yesus pun disegarkan oleh kelembutan dan kerendahan hatiNya, teladan dan ajaranNya mendorong mereka untuk maju secara rohani. Yesus juga membantu rakyat jelata dengan mengajar dan menghibur mereka, serta memberikan apa yang mereka butuhkan. Terlebih lagi, melalui korban Yesus, semua orang yang beriman kepadaNya memperoleh berkat dan keselamatan untuk selama-lamanya.
Saat ini kita belajar dari kerendahan hati Yesus dengan membiarkan kasihNya yang besar menginspirasi hidup kita agar dapat mengosongkan diri dan tunduk pada FirmanNya, dengan menyatakan kehendak Tuhan lebih besar dari kehendak diri kita sendiri. Tentunya hal ini menuntut kita untuk meninggalkan  kepentingan pribadi ketika kita melayani Tuhan. Dan juga mengharuskan kita untuk memperhatikan kebutuhan sesama dan mendahulukan kebutuhan mereka dibanding kebutuhan kita.


    Yesus mengatakan kepada murid-muridnya, ”Barang siapa merendahkan dirinya akan ditinggikan.” (Mat. 23:12) Itulah yang terjadi atas diri Yesus. Paulus mengatakan, ”Allah meninggikan [Yesus] kepada kedudukan yang lebih tinggi dan memberinya nama di atas setiap nama lain, sehingga dengan nama Yesus semua harus bertekuk lutut, yaitu mereka yang berada di surga, di bumi, dan di bawah bumi, dan setiap lidah harus mengakui secara terbuka bahwa Yesus Kristus adalah TUHAN bagi kemuliaan Allah, sang Bapa.” Karena kerendahan hati dan kesetiaan Yesus sewaktu hidup di bumi, Allah Bapa meninggikan Putra-Nya dengan memberinya kuasa atas semua makhluk di surga dan di bumi.​ (  Flp.2:9-11 ). 
Pada akhirnya sebagai pejabat GBIS (Gereja Bethel Injil Sepenuh) mari kita belajar dari pribadi Yesus sebagai hamba yang setia, dimana pikiran, perkataan dan perbuatanNya selalu memuliakan Bapa dan melayani dengan perasaan syukur yang tulus. Ia melayani tanpa mengharapkan imbalan apapun dan Ia mematuhi Bapa didalam segala sesuatu sampai pada kematianNya. Jika kita mengikuti jejak teladan Yesus dalam kerendahan hati, pada akhirnya kita akan memenuhi tujuan Tuhan didalam hidup ini dan belajar untuk mengasihi sesama, seperti Kristus telah mengasihi kita. 
Karenanya kita harus senantiasa sadar diri dan bisa menempatkan diri secara tepat dihadapan Tuhan dan sesama, maka kita akan terlatih menjadi orang-orang yang semakin lama karakter dan perilakunya semakin rendah hati. Ini adalah sebuah proses panjang yang harus kita jalani yang akan membawa kita kepada kemuliaan atau penghormatan yang asalnya dari Tuhan, Amin! 

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon