KEMERDEKAAN DALAM KRISTUS

                  Setiap hari ketujuhbelas bulan Agustus bangsa Indonesia memiliki ritual nasional, yaitu merayakan hari kemerdekaan. Tahun 1945 bulan Agustus tanggal tujuhbelas, dikenang sebagai hari yang paling bersejarah. Tujuhbelas Agustus adalah tanggal keramat yang sangat dikultuskan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, sebab saat itu Indonesia memproklamirkan diri kepada dunia bahwa Indonesia telah merdeka, tidak lagi sebagai bangsa jajahan. Bukan lagi sebagai bangsa pecundang dan dependen tetapi bangsa yang jaya dan independen. Bukan lagi sebagai bangsa hamba namun merdeka. Oleh sebab itu setiap tanggal 17 Agustus diperingati seluruh rakyat Indonesia sebagai hari kemerdekaan. Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan kemudian menjadi tanggungjawab semua bangsa. Menjaga kesatuan dan persatuan bangsa adalah kunci untuk dapat tetap menikmati kemerdekaan. Kitab Suci mengajarkan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus, telah menjadi orang yang merdeka. Kemerdekaan seperti apakah yang dimaksud dalam konteks Alkitab?

Istilah Kemerdekaan dan Maknanya

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai kata “merdeka” sebagai bebas dari perhambaan atau penjajahan; lepas dari tuntutan; tidak terikat pihak tertentu. Sedangkan kata “kemerdekaan” diartikan sebagai keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi). Seirama dengan KBBI Tesaurus dalam kamusnya mengartikan “kemerdekaan”, sebagai independensi; kebebasan; kedaulatan; keleluasaan; kelepasan; kelonggaran; kemandirian dan otonomi. Dalam Kamus Teologi (Inggris-Indonesia), Henk ten Napel, mensinonimkan “kemerdekaan” dengan freedom, artinya kebebasan. Orang yang telah dilepaskan dari perbudakan disebut freedman atau freeman (orang yang merdeka). W.R.F. Browning dalam Kamus Alkitab, menjelaskan bahwa “kemerdekaan” itu berarti pembebasan dari status perbudakan bangsa lain (politis) dan pembebasan orang percaya dari perbudakan dosa serta upahnya, yaitu maut (theologis).  Berdasarkan batasan-batasan makna dari kedua kamus tersebut, maka “kemerdekaan” itu adalah keadaan yang nir dominasi dari pihak apapun atau manapun. Kemerdekaan melahirkan damai sejahtera bagi yang mengalaminya.

Istilah “kemerdekaan” dalam Alkitab biasanya dikombinasikan dengan istilah “kebebasan” sebab kedua istilah tersebut bermakna senafas. Kata “kemerdekaan” dan yang serumpun dengannya disebut 49 kali dalam Perjanjian Lama dan 52 kali dalam Perjanjian Baru. Sedangkan kata “kebebasan” serta yang sekeluarga dengan kata tersebut, tercatat dalam Perjanjian Lama ada 378 kali dan dalam Perjanjian Baru ada 318 kali. Istilah “kemerdekaan” diterjemahkan dari kata Ibrani, chophshiy dari kata dasar chaphash, artinya dimerdekakan dari perbudakan. Untuk istilah “kebebasan” dipakai kata deror, artinya bebas murni. Sedangkan Perjanjian Baru menggunakan istilah dalam bentuk kata benda eleutheria (kebebasan; kemerdekaan), dari kata dasar eleutheros (bebas; merdeka), dan dalam bentuk kata kerja eleutheroo (membebaskan; memerdekakan). Secara umum kata “kemerdekaan” atau “kebebasan” dalam Alkitab tersebut memiliki makna “dilepaskan dari ikatan” atau “kembali kepada kondisi semula.”

Kemerdekaan dalam Perjanjian Lama
Pokok studi istilah “kemerdekaan” dalam PL fokusnya adalah pada pembebasan Israel, baik sebagai suatu bangsa atau individu. Persoalan-persoalan yang menuntut pembebasan sekurangnya ada tiga:


1. Pembebasan dari Penjara. 
Perlakuan yang istimewa dari Yakub terhadap Yusuf, membangkitkan kemarahan dan kebencian dari saudara-sudaranya (Kej.37:1-11). Ketidakadilan Yakub, menyebabkan nyawa buah rahim Rachel terancam. Saudara-saudaranya berencana untuk menghabisi sang pemimpi itu. Atas usulan Yehuda, Yusuf urung dibunuh, namun kemudian dijual kepada Potifar sebagai budak (Kej 37:12-38). Sikap orangtua yang tidak bijaksan, justru mengantarkan Yusuf menjadi budak orang lain.
 
Babak baru kehidupan kakak kandung Benjamin dimulai di sini. Di rumah Potifar dia menjadi budak yang dipercaya (Kej.39:1-6). Bak sebuah sinetron, kisah Yusuf begitu memilukan. Dia disenangi istri sang majikan, namun Yusuf menolak dengan keras. Kemudian untuk membalas sakit hatinya, nyonya besar mengarang cerita bohong, bahwa Yusuf telah memperkosanya (39:7-15). Akhirnya Yusuf dipenjara oleh Potifar atas tuduhan memperkosa istrinya. Hukuman dari percobaan perkosaan terhadap istri majikan adalah mati. Tetapi, Potifar hanya memenjarakan Yusuf karena kedekatan mereka (Kej. 39:4-6; 19,20). 

Orang berpikir habislah Yusuf. Siapa yang akan membebaskan dia dari penjara? Tetapi justru dari dalam penjara inilah, Yusuf pada akhirnya mendapat kebebasan sebagai seorang budak. Dikisahkan dalam penjara tersebut bahwa Yusuf dapat menafsirkan mimpi dari sesama narapidana (Kej.40). Kemampuan itu terdengarlah sampai ke istana Fiaraun.  Singkat cerita Yusuf dipanggil ke istina (dibebaskan dari penjara), supaya menafsirkan mimipi sang raja. Firaun sangat kagum atas kebijaksanaan Yusuf dalam menafsirkan mimpi dan memberikan solusi dari akibat mimpi tersebut. Akhirnya Yusuf dinobatkan menjadi perdana menteri di Mesir, menjadi yang berkuasa setelah Firaun (Kej.41:14). Kedudukan yang baru ini tentu menjadikan Yusuf seorang yang merdeka. Bukan lagi sebagai budak, tetapi seorang yang bebas.

2. Pembebasan Budak dari Majikan.  
Alkitab mengajarkan bahwa perbudakan adalah akibat dari kejatuhan manusia dalam dosa dan telah ada di dunia sejak saat itu. Perbudakan adalah salah satu cara untuk terus hidup. Orang-orang memilih untuk dijadikan budak dari pada dibunuh. Orang-orang Gibeon lebih menghendaki perbudakan daripada kematian (Yos 9:3-27). Perbudakan dianggap lebih manusiawi daripada pembunuhan. Daripada membunuh musuh, mereka dijadikan budak (Ul. 20:11). Orang Kanaan bermula sebagai budak Israel tetapi akhirnya saling mengawini dan menyembah Baal (Hak.1:27-3:6). Saat Allah memberikan hukum kepada Musa, perbudakan sudah menjadi bagian dari peradaban dunia, sehingga Allah mengatur prinsip-prinsip perbudakan. Allah berfirman bahwa hanya orang asing, dapat dijadikan budak permanen. Budak Yahudi harus dibebaskan setelah 6 tahun atau Tahun Yobel. Orang-orang yang menjadi tahanan perang dapat dijadikan budak (Ul. 20:10,11). Para pencuri dapat dijadikan budak sebagai pembayaran ganti rugi ternak yang dicuri (Kel. 22:1-3). Orang-orang yang tidak bisa melunasi hutangnya juga boleh dijadikan budak (Ul.15:1,2). Orang asing dapat dibeli dan dijual sebagai budak, dan dijadikan barang milik. Penculikan orang bebas dan penjualannya sebagai budak tidak diperbolehkan (Kel. 21:16; Ul. 24:7).

Dalam hukum Ibrani, budak akibat hutang harus dibebaskan sesudah 6 tahun (Kel. 21:2; Ul. 15:12,18), atau sebagai imbalan dari cacat yang diderita (Kel. 21:26-27). Budak perempuan bisa ditebus atau dibebaskan jika ia tidak akan diperistri, atau jika syarat-syarat pelayanan tidak dihormati oleh sang tuan (Kel. 21:8, 11). Orang Ibrani yang menjual dirinya menjadi budak harus dibebaskan pada tahun Yobel, atau bila tuannya orang asing, ia bisa ditebus dengan uang setiap waktu (Im. 25:39-43, 47-55). Pada setiap tahun ke-7, mereka harus dibebaskan (kecuali mereka secara sukarela memilih untuk tetap menghambakan diri), sebagai peringatan akan pembebasan Allah terhadap Israel dari perbudakan di Mesir (Ul. 15:12).

3. Pembebasan Israel dari Mesir. 
Kitab Keluaran, mencatat bahwa Allah memerdekakan Israel dari perbudakan di Mesir. Pembebasan yang berkuasa oleh Allah bagi umat-Nya dari perbudakan Mesir adalah pokok penting dari cerita Perjanjian Lama. Ini mencakup tulah-tulah, paskah, ketika Allah menyayangkan anak-anak sulung Israel dari maut, dan khususnya ketika mereka menyeberangi laut secara ajaib. Sejak awal cerita, ditekankan belas kasihan Allah bagi umat-Nya dan kerelaan-Nya untuk bertindak demi kepentingan mereka. Di atas segalanya, Dia adalah Allah yang bertindak dalam keselamatan; “Aku telah turun uuntuk melepaskan mereka”, adalah Firman-Nya kepada Musa untuk disampaikan kepada bangsa Israel (Kel.3:8). Ini memperkenalkan konsep Alkitabiah tentang keselamatan. Dari sinilah di kemudian hari ayat-ayat Alkitab berutang banyak kepda Kitab Keluaran untuk ungkapan dan gambaran.

Firman Allah kepada umat itu, yang disampaikan melalui Musa, berbicara bagaimana kuasa Allah yang perkasa melaksanakan penebusan dari perbudakan Mesir dan “hukuman-hukuman yang berat” atas allah-allah orang Mesir. “Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN” (Kel.6:5-7). Firman Tuhan ini dapat dirangkum ke dalam empat janji: “pembebasan”, “membentuk sebuah komunitas”, “hubungan pribadi”, “kelimpahan dan berkat”. Janji-janji ini dan banyak lagi yang lain, peristiwa keluaran bukan tindakan pertama dari penebusan ilahi dalam Kitab Suci, tetapi ini adalah peristiwa yang menetapkan polanya.

 Allah menepati janji-janji-Nya, yang terpenting di antaranya adalah peristiwa eksodus itu sendiri. Allah membuka laut untuk memampukan umat-Nya luput dari tentara Mesir. Dan Allah meutup laut di atas musuh, sehingga mereka semua tenggelam (Kel.14:1-31). Dalam pasal ini dijelaskan bahwa, penyelamatan itu dilaksanakan oleh campur tangan Allah dan Allah semata. Hasilnya bukan hanya kekalahan musuh-musuh Allah dan penebusan umat-Nya, melainkan juga merupakan penyataan dari karakter Allah yang cemerlang. Tujuan dari pembebasan itu ialah supaya Israel bebas dari kekejaman Firaun dan melayani Allah (Kel. 20:2-3; Im. 25:55). Allah memimpin mereka ke tanah perjanjian yang kaya dengan sumber daya alamnya (Kel. 3:8; Ul. 8:7-10). Mereka mendiami negeri yang berlimpah dengan susu dan madu. Dipelihara dalam kemerdekaan secara politis serta ekonomis. Israel akan tetap menjadi bangsa yang merdeka dan diberkati, asal tetap setia dalam memelihara hukum-hukum Allah (Ul. 28:1-14). Ketidaktaatan dalam kehidupan agamawi, maupun ketidakadilan sosial, mengakibatkan kehilangan kemerdekaan. Allah akan menghakimi Israel dengan bencana nasional dan perbudakan dari bangsa lain (Ul. 28:25,47-52; Hak. 2:14). Allah akan membangkitkan bangsa-bangsa melawan mereka, dan mengangkut mereka sebagai tawanan (Ul. 28:64-66). Jelaslah bahwa kemerdekaan dalam konteks PL itu artinya pembebasan dari perbudakan pihak lain, kemudian mengabdikan diri kepada pihak Pembebas. Kesetiaan kepada Pemberi kebebasan dituntut, karena itu adalah kunci untuk menikmati kemerdekaan secara paripurna. 

Kemerdekaan dalam Perjanjian Baru
    Konsep kemerdekaan dalam Perjanjian Baru, dapat ditelusuri  dalam keempat Injil, Surat-surat Paulus dan Kitab-kitab yang lain. Theologia Perjanjian Baru merangkum bahwa subyek kemerdekaan adalah Yesus Kristus dan obyeknya adalah orang-orang percaya. Kematian Yesus Kristus di kayu salib adalah sarana tunggal bagi kemerdekaan manusia. Iman kepada-Nya adalah satu-satunya cara manusia dapat mengalami kemerdekaan yang sejati (Rm.10:8-11). Karya Kristus melalui tubuh inkarnasi-Nya, dimulai di Bethlehem (Mat.1:21; Luk.2:11) dan diakhiri di bukit Golgota (Yoh.19:20 bdk Mrk.40:45), serta dilanjutkan di surga (Yoh.17:1-26), menjamin kemerdekaan orang percaya. Bahwa melalui Kristus, Allah memerdekakan orang percaya dari perintang-perintang pintu Kerajaan Surga.

1. Orang Percaya Dimerdekakan dari  Iblis. 
Sejak manusia jatuh dalam dosa, hatinya sangat dipengaruhi dan kuasai Iblis. Ketika Alkitab menyampaikan pengajaran tentang demonologi, justru merujuk kepada dosa dan bukan sebaliknya. Roh-roh jahat, yaitu demos, merupakan ciptaan yang pertama kali jatuh ke bawah kuasa dosa (Yes.14:12-15; Yeh.28:11-18). Pasca kejatuhan mereka, kini sebagai hamba dosa, mereka menguasai “zaman kejahatan kini” (Gal.1:4) di bawah pimpinan Iblis, “ilah zaman ini” (2Kor.4:4), “penguasa kerajaan angkasa” (Ef.2:2). Dalam kesetiaan kepada dosa dan naturnya sendiri, Iblis bersama roh-roh penguasa di bawah perintahnya, membutakan manusia terhadap kebenaran Allah (2Kor.4:4); menyebarkan ketidakbenaran yang disamarkan sebagai kebenaran (2Kor.11:3-4, 13-15; Kol.2:8; 2Tes.2:9); berusaha menggantikan “perjamuan Tuhan” dengan “perjamuan roh-roh jahat” (1Kor.10:20-21); dan mencoba menghalangi pemberitaan Injil (1Tes.2:18). Dengan alasan serupa, Iblis mencoba menghancurkan hubungan antarpribadi dengan membangkitkan kemarahan (Ef.4:27), ketidaksetiaan dalam pernikahan (1Kor.7:5), fitnah (1Tim.5:14-15), dan kebekuan hati (2Kor.2:11).

Kejadian 3:1 mengiformasikan bahwa Iblis yang tampil dalam wujud ular (lih. Wah.12:9; 20:2) itu adalah binatang yang paling cerdik. Kecerdikan Iblis juga diakui oleh Tuhan Yesus (Mat.10:16). Dia adalah diabolos si pendusta, dia adalah Satan musuh Allah, yang sangat kejam (Yoh.8:44). Di luar Kristus manusia telah dibelinggu oleh Iblis (Ef.2:2). Iblis membelenggu manusia dengan “keinginan mata”, “keinginan daging”, dan “keangkuhan hidup” (1Yoh.2:16). Paulus menambahkan, bahwa manusia juga dibelenggu Iblis melalui “sistem dunia” (1Tim.6:9-10). Pengaruh itu begitu kuat, manusia mustahil dapat membebaskan diri sendiri. Hanya Tuhan Yesus, yang dapat menghancurkan belenggu Iblis. Tema pelayanan Kristus yang dicatat dalam keempat Injil adalah pembebasan. Dia memproklamirkan diri-Nya sebagai penggenapan nubuat nabi Yesaya: “ia telah mengurapi aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan” (Luk. 4:16). Yesus Kristus menyatakan, bahwa Ia datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan Iblis (Yoh. 8:41-44). Pengusiran Setan dan penyembuhan dari sakit penyakit adalah bagian dari pelayanan pembebasan dari dominasi Iblis atas manusia (Mat. 12:22-29; Luk.13:10-17). Setiap orang percaya ada jaminan dari dominasi Iblis. Jaminan itu terletak pada meterai Roh Kudus yang diberikan kepada setiap orang  . (Ef.1:13-14; 1 Kor.6:19-20). Yohanes bersaksi bahwa “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yoh.4:4). Yang dimaksud dengan “Roh” di sini adalah Roh Kudus, yang adalah Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Dia adalah Allah setara dengan Bapa dan Yesus Kristus. Iblis memang memiliki kuasa, tetapi ia tidak mahakuasa seperti Allah. Bukan hanya pendiaman Roh Kudus, tetapi Firman Tuhan juga menegaskan bahwa setiap orang percaya dilengkapi dengan senjata rohani untuk mengalahkan Iblis (Ef.6:10-18). Paulus mengingatkan orang-orang percaya di Efesus, bahwa mereka dapat mengalahkan Iblis. Caranya adalah dengan “kenakanklah” (6:11), “ambillah” (6:13), “berdirilah tegap” (6:14), “berdoalah” dan “berjaga-jagalah” (6:18). Bukankah ini semua adalah jaminan kemerdekaan dari perbudakan Iblis?

2. Orang Percaya Dimerdekakan dari Dosa. 
Dosa adalah tiran yang keji yang merasuk ke dalam dunia. Dosa telah memancangkan tonggak kekuasaanya melalui pelanggaran Adam dan Hawa (Kej.3:1-24 bdk. Rm.5:12-21). Sejak itu dosa telah melawan seluruh umat manusia dalam perbudakan yang mengerikan (Rm.3:9; Gal.3:22). Paulus menggunakan sejumlah kata-kata Yunani yang berbeda untuk menjelaskan natur dosa. Pertama, hamartia. Artinya, “meleset dari sasaran”, “meninggalkan jalan yang benar”. Ini adalah kata umum yang digunakan untuk menjelaskan tindakan berdosa (Rm.4:7; 11:27). Hamartia mengaitkan kematian Kristus dengan dosa manusia (1Kor.15:3). Dalam bentuk jamak kata itu menunjuk pada akumulasi dosa (Gal.1:4), sedangkan dalam bentuk tunggal kata itu menunjuk pada keadaan berdosa (Rm.3:9,20; 5:20; 6:16,23). Kedua, paraptoma. Artinya “pelanggaran”, menunjuk pada langkah yang salah yang dikontraskan dengan yang benar (Rm.4:25; Gal.6:1; Ef.2:1). Ketiga, parabasis. Artinya, “melewati atau melanggar”. Istilah ini bermakna melangkah keluar, suatu penyimpangan dari iman yang benar (Rm.2:23; 4:15; Gal.3:19). Keempat, anomia. Artinya hidup tanpa hukum atau pelanggaran (2Kor.6:14; 2Tes.2:3). Dosa adalah sebuah hutang, mengusulkan obligasi manusia dan ketidakmampuan manusia untuk membayar hutang itu (Ef.1:7; Kol.1:14). Hal itu merupakan bentuk penyimpangan dari jalan yang lurus. Dosa adalah tanpa hukum dan menjadi pemberontakan, yang menyangkut tindakan eksternal maupun sikap internal (Rm.11:30; Ef.2:2; 5:6; Kol.3:6). Dalam Roma 1:29-31, Paulus mengkombinasikan tindakan dan sikap; tindakan itu adalah pembunuhan, imoralitas, kemabukan, dan homoseksualitas. Sedangkan sikap adalah iri hati, kebodohan, dan tidak beriman. Paulus juga mengkarakteristikan dosa sebagai suatu tuan yang memberikan tugas, memperbudak orang tidak percaya (Rm.6:16-17), serta suatu kesalahan yang menekan kebenaran (Rm.1:18) dan menggantikannya dengan kebohongan (Rm.1:25). 

Sesungguhnya manusia di luar Kristus tidak memiliki pengharapan. Dengan kekuatan sendiri manusia tidak bisa lepas dari perbudakan dosa. Hanya melalui Kristus manusia dimerdekakan dari perhambaan dosa (Rm.6:18). Allah telah menyatakan diri melalu Yesus Kristus yang mati di kayu salib, untuk menghapus dosa orang percaya (1Yoh.3:4-6). Melalui kematian-Nya Yesus Kristus telah menghapus surat hutang kepada dosa yang membuat orang percaya diperbudak dosa (Kol.2:14). Penulis kitab Ibrani, menyatakan bahwa oleh korban Kristus di kayu salib, dosa-dosa orang percaya dihapuskan (Ibr.9:26-28). Bahkan dalam Ibrani 10 ditegaskan supremasi korban Kristus dengan korban-korban di Perjanjian Lama. Yohanes mengabadikan pernyataan Tuhan Yesus, yang menegaskan: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yoh.8:36). Kepada orang-oran percaya di Galatia Paulus meyakinkan bahwa, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita” (Gal.5:1). Jadi, setiap orang percaya benar-benar telah dimerdekakan dari perbudakan dosa!

3. Orang Percaya Dimerdekakan dari Hukum Taurat.
Paulus menulis surat kepada orang Galatia untuk melawan ancaman terhadap kemerdekaan Kristen, seperti dikemukakan oleh theologia yang dipengaruhi Yudaisme. Persoalan mendasar, seperti dilihatnya adalah kecukupan Kristus bagi penyelamatan, terlepas dari perbuatan atas dasar hukum Taurat. Para penganut paham Yahudi berpendapat bahwa orang kafir yang sudah percaya kepada Kristus tetap memerlukan sunat supaya diselamatkan. Paulus menentang, karena jika demikian halnya, maka dengan alasan yang sama mereka (akan) harus melakukan seluruh hukum Musa bagi keselamatan. Tetapi hal ini akan menjadi usaha mencari pembenaran melalui hukum Taurat, dan usaha demikian itu akan berarti menjauh dari kasih karunia dan dari Kristus (Gal. 5:2-4). 


Paulus berpendapat bahwa orang Kristen, latar belakang Yahudi atau non-Yahudi adalah bebas dari semua tuntutan untuk menjalankan hukum Taurat. Alasannya, karena sebagai orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah diterima secara penuh (Gal. 3:28). Karunia Roh kepada semua orang percaya adalah bukti yang kuat terhadap hal tersebut (Gal.3:2,14; 4:6; 5:18). Tidak ada alasan untuk mengharuskan orang kafir yang baru bertobat, dibebani upacara-upacara yang diajarkan Musa (Gal. 4:10), atau yang setidak-tidaknya berasal dari zaman pra-Kristen. Pekerjaan penebusan oleh Kristus telah membebaskannya secara penuh dari tuntutan untuk mencari keselamatan melalui hukum Taurat (Gal. 3:13; 4:5; 5:1). Tugasnya sekarang ialah memelihara anugerah kemerdekaan yang dari Allah tersebut, untuk mengkonter paham yang mengajarkan, bahwa iman kepada Kristus saja belum cukup untuk memperoleh keselamatan (Gal. 5:1). Lalu, menggunakan kemerdekaannya itu sebaik mungkin dengan cara membiarkan Roh memimpinnya ke dalam pelaksanaan hukum kasih secara bertanggung jawab (Gal. 5:13). Pada bagian lain, Paulus menunjukkan hal yang sama. Orang Kristen bebas dari tuntutan untuk bekerja bagi keselamatannya, dan ia juga tidak terikat kepada upacara-upacara Yahudi ataupun kepada takhayul dan pantangan-pantangan kafir. Ada keluwesan tentang banyak hal yang netral di mana “segala sesuatu halal bagiku” (1Kor. 6:12; 10:23). Dalam hal-hal ini, orang Kristen harus menggunakan kemerdekaannya secara bertanggungjawab menurut pertimbangan yang tepat dan membangun serta menghargai dengan lembut perasaan hati saudara-saudara yang lemah (1Kor 8; 9; 10; Rom 14:1-15:7).

4. Orang Percaya Dimerdekakan dari Maut.
Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia berada di bawah ancaman maut. Vonis mengerikan ini akibat dari manusia telah jatuh ke dalam dosa, “semua orang telah berbuat dosa” (Rm.3:23), dan “upah dosa ialah maut” (Rm.6:23). Karena dosa, maut beroleh jalan masuk ke dalam dunia (Rm.5:12). Seolah-olah sebagai pembayaran atas utang, maut menjadi wakil utama dosa, menguasai seluruh umat manusia, dan meneror mereka atas nama dosa. Seperti perbudakan dosa memunculkan perilaku dosa, demikian juga perhambaan maut membawa pengalaman kematian. Perbudakan dosa secara tak terelakkan “memimpin kepada kematian” (Rm.6:16); maut adalah “upah” yang dibayarkan dosa atas pelayanan manusia kepadanya. Dosa menimpakan kematian ke atas korban-korbannya melalui daging (Rm.8:6; Gal.6:8) dan hukum Taurat (Rm.7:9-11; 8:2; 1Kor.15:56). 
Istilah yang diterjemahkan dengan kata “upah” dari kata opsonion, literalnya bisa diartikan sebagai “gaji”, “biaya”, “tunjungan”. Penggunaan kata opsonion di sini, Paulus menempatkan dosa itu adalah majikan dan manusia adalah pekerja. Jadi, setiap orang yang “bekerja” untuk dosa akan mendapatkan bayaran dari dosa tersebut. Ditegaskan honor dari dosa itu adalah maut. Istilah “maut” dalam Roma 6:23, berasal dari kata thanatos, yang arti dasarnya selain “maut” adalah juga “kematian”, “hukuman mati”.  Orang yang mengabdi kepada dosa adalah kematian atau maut. Wahyu 20:14, mengatakan bahwa “maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api”. Inilah yang dimaksud dengan maut itu, yaitu kematian ke kedua dalam lautan api.
 
Manusia tidak hanya mati satu kali (terpisahnya tubuh dengan roh), tetapi dua kali (terpisahnya roh dengan Allah atau surga). Bukan setelah kematian alamiah, orang baru berada di bawah kuasa maut. Orang yang telah diperbudak dosa dan dijauhkan dari Sang Pemberi Hidup adalah orang yang sudah “mati” dalam dua fase itu (Ef.2:1). Pasca tragedi taman Eden, manusia selalu mencari cara bagaimana supaya lepas dari ancaman maut. Sayang, manusia sudah berada dalam pengaruh Iblis, sehingga manusia justru semakin menyimpang dan hidup dalam kesesatan. Dari awal sebetulnya Tuhan sudah memproklamirkan, bahwa hanya “benih perempuan”, yaitu Yesus Kristus yang bisa menghancurkan maut (Kej.3:15). Dia itulah “nabi” yang harus didengarkan seluruh umat manusia (Ul.18:15). Dia itulah Imanuel (Yes.7:14 bdk Mat.1:23) yang bergelar “Penasihat Ajaib”, “Allah yang Perkasa”, “Bapa yang Kekal”, dan “Raja Damai” (9:5). Dia itulah Allah yang telah berinkarnasi dalam wajud insani (Yoh.1:1-14 bdk Fil.2:5-11). Kelahiran-Nya diumumkan oleh para malaikat, sebagai kelahiran “Juruselamat” (Luk.2:11). Dia itulah satu-satu jalan kelepasan dari maut (Yoh.14:6; Kis.4:12; 2Tim.3:15).

 

Percaya kepada Yesus Kristus adalah satu-satunya cara untuk bisa bebas dari maut. Dia sendiri berfirman bahwa, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh.5:24). Setiap orang percaya yang percaya kepada Tuhan, “mempunyai hidup yang kekal”, “tidak turut dihukum” dan “dipindahkan (sudah) dari maut ke dalam hidup”. Kepada Nekodimus, Yesus bersabda “setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16). Kata “tidak binasa” diterjemahkan dari, me apoletai dapat diartikan, “jangan menjadi binasa”. Apoletai sendiri berasal dari kata apollumi yang artinya adalah “kebinasaan”, “mati”. Kepada orang-orang Yahudi, Yesus memaklumkan bahwa, “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” (Yoh.8:51). Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, menyatakan bahwa, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm.8:1-2). Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, telah menghancur-kan maut (1Kor.15:54-57). Jadi, orang yang percaya kepada Yesus Kristus telah dimerdekakan dari kebinasaan atau maut kekal. Sedangkan orang yang tidak percaya kepada-Nya, ia tetap berada di bawah murka (maut) Allah (Yoh.3:36).

Implikasi Theologis
Kebenaran-kebenaran theologis di atas, melahirkan prinsip-prinsip ekklesiologis, yang menjadi ciri khas orang-orang yang sudah dimerdekakan Kristus. Kristen yang dimerdekakan, tidak sekedar ditandai dengan, ia “beragama” Kristen, atau memiliki nama depan “tokoh-tokoh Alkitab”, atau di belakang namanya tersemat “gelar akademis” disiplin ilmu keagamaan, atau ketika masih dalam kandungan “sudah Kristen”, atau bahkan berstatus “hamba Tuhan”. Sebab, banyak orang yang beragama Kristen tetapi hidupnya tidak Kristiani (Jawa: ngresteni). Banyak orang memiliki nama depan seperti nama-nama tokoh dalam Alkitab, tetapi dipenjara karena kasus penipuan, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, narkoba dll. Banyak orang yang bergelar sarjana, master, bahkan doktor theologia tetapi hidupnya menjadi batu sandungan. Banyak orang yang terlahir Kristen, tetapi hidupnya jauh dari Tuhan. Bagaimana dengan orang-orang yang berstatus Pendeta atau Gembala Sidang? Penulis percaya, para pembaca dapat menilainya sendiri, secara obyektif. Lalu seperti apakah Kristen yang telah dimerdekakan itu?


1.Mengabdi Kepada Kristus.
Paulus mengajarkan perhambaan yang membawa kemerdekaan dan kehidupan bagi tawanannya. Dikatakan bahwa, “Sebab, ketika kamu masih menjadi budak dosa, kamu bebas dari kebenaran.  Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian.  Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Alah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm.6:20-22). Respon manusia terhadap anugerah kemerdekaan (eleutheria), adalah secara sukarela menerima ikatan perhambaan (douleia) kepada Allah (Rom. 6:17-22) dan kepada Kristus (1Kor. 7:22).  


Antara douleia (perhambaan) dan diakonia (pelayanan) dahulu dan sekarang memiliki perbedaan yang sangat tajam. Di zaman sekarang, seorang pelayan bisa bekerja untuk lebih dari satu majikan: ia bisa bekerja di sebuah percetakan siang hari, dan menjadi pelayanan rumah makan di malam hari. Namun tidak demikian halnya dengan hamba di zaman Paulus; ia dimiliki dan hanya dikuasai oleh satu tuan. Tidak seorangpun bisa mengabdi (douleuein) kepada dua tuan, itu pelanggaran berat. Tuhan Yesus bersabda, “kamu tak dapat mengabdi kepada Allah dan Manusia” (Mat.6:24).

Yesus Kristus, yang sendiri-Nya adalah Pemenang atas dosa, juga membebas-kan orang percaya dari dosa dan kuasa-kuasa di bawahnya. Namun mereka tidak menjadi otonom, sebab mereka segera dihantar ke dalam perhambaan yang baru: mereka menjadi hamba (douloi) Kristus, dan Ia menjadi Tuhan (Kyrios) mereka. Seperti hamba mana pun, orang Kristen menjadi milik satu tuan saja; ia terikat pada kewajiban untuk taat hanya kepada Kristus. Sebagai milik Kristus yang telah membelinya, tidak logis bila orang beriman tetap menjadi budak dosa atau kuasa-kuasa yang diperalat oleh dosa itu. Apa yang Kristus tuntut dari hamba-hamba yang dimiliki-Nya? Tentunya adalah kesetiaan dalam pengabdian dan menempatkan Kristus sebagai satu-satu Tuan yang yang harus dilayani, bukan yang lain.

2. Hidup dalam Kebenaran.
 Orang percaya adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari perhambaan dosa. Orang percaya adalah orang-orang yang telah dibebaskan dari perbuatan-perbuatan yang disponsori oleh dosa. Sebelum dimerdekakan, eksistensi dosa nyata dalam karakter daging manusia (Gal.5:19-21), namun setelah dimerdekakan yang nyata dalam hidup orang percaya adalah eksistensi buah Roh Kudus (5:22-23). Idealnya perbuatan dosa tidak lagi menjadi gaya hidup orang percaya, tetapi kebenaran. Rasul Yohanes, menyatakan bahwa, “setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berdosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1 Yoh.3:9). Dan “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya” (3:8). 

Ciri orang yang lahir baru adalah menajauhi dosa dan mengarahkan diri kepada Allah dalam pelayanan. Bavinck, sebagaimana dukutip oleh Hoekema, mengatakan bahwa kelahiran baru telah mengakibatkan: a). iluminasi pada pikiran, di mana dosa dikenali dalam pengertian yang sesungguhnya, sebagai perilaku yang tidak diperkenan oleh Allah; b). penyesalan yang sungguh atas dosa, bukan sekedar kesedihan karena akibat dosa yang pahit; c). pengakuan yang rendah hati akan dosa, baik kepada Allah maupun kepada sesame yang dilukai karena dosa yang diperbuat; d). membenci dosa, yang mencakup keputusan yang tegas untuk meninggalkannya; e). kembali kepada Allah yang adalah Bapa yang penuh rahmat di dalam Kristus, dalam iman bahwa Dia dapat dan akan mengampuni dosa kita; f). sukacita yang penuh di dalam Allah melalui Kristus; g). kasih yang murni kepada Allah dan sesame beserta kesukaan di dalam melayani Allah.
Rasul Paulus ingatkan, agar orang-orang percaya tidak lagi menyerahkan anggota tubuhnya untuk senjata kejahatan, tetapi kebenaran (Rm.6:18). Ayat ini akan menjadi lebih jelas jika dihubungkan dengan bagian pertama ayat 17. Maka ayat 18 meneruskan pikiran yang telah dimulai dalam ayat 17a: syukur kepada Allah, orang percaya tidak lagi menjadi hamba dosa, dan tidak juga ragu-ragu menentukan pilihan, tetapi telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Istilah “dimerdekakan” masih cocok dengan perumpamaan yang diambil dari perhambaan (ay.16), kata kerja Yunani itu memang dipakai dalam hubungan dengan pembebasan budak. Tetapi kemerdekaan yang diperoleh orang percaya bukanlah kemerdekaan yang tidak terbatas. Kemerdekaan itu terikat pada kebenaran Allah, yaitu pada kaidah yang telah ditetapkan-Nya bagi hubungan manusia dengan diri-Nya dan dengan sesamanya manusia.

3. Menjadi Agen Kemerdekaan
Kristus telah mengasihi orang percaya dan menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah (Ef.5:2, 25; Gal.2:20). Dengan kuasa yang sama Ia menggerakkan umat tebusan-Nya untuk bertindak atas nama-Nya. Seperti yang dicatat oleh Paulus dalam 2 Korintus 5:14a, “Kasih Kristus, yang dinyatakan oleh kematian-Nya (ay,14b) mendesak orang percaya, menggenapkan pelayanan pendamaian (ay.11-12).
Wajar jika perintah utama Tuhan adalah agar para hamba-Nya membagikan kasih-Nya kepada yang lain. Rujukan untuk mengasihi Allah dan Kristus tidak habis-habisnya Paulus sampaikan. Tetapi penekanannya terletak pada kasih Allah bagi anak-anak-Nya dan respons kasih yang nyata saat mereka mengasihi sesamanya, baik di dalam maupun di luar gereja. Orang Kristen menunjukkan kasihnya kepada Allah dengan mengasihi sesamnya. 


Hukum Tuhan, seperti yang ditafsirkan dan dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri, merupakan ukuran yang mengungkapkan kehendak Kristus bagi hamba-hamba-Nya yang dibebaskan-Nya sendiri (1Kor. 7:22). Dengan demikian orang Kristen berada di bawah hukum Kristus (1Kor. 9:19-23). Hukum Kristus, menurut Yakobus, adalah hukum kemerdekaan (Yak. 1:25; 2:12). Esensi dari hukum Kristus ialah kasih (Gal. 5:13; Mrk. 12:28; Yoh. 13:34). Kasih adalah dasar dari persembahan diri secara sukarela, terus-menerus bagi kebaikan orang banyak (1Kor. 9:1-23; 10:23-33) dan kemuliaan Allah (1Kor 10:31). Kehidupan dalam kasih ini merupakan jawaban dari rasa syukur bagi setiap orang percaya. 
Kemerdekaan Kristen secara tepat adalah kemerdekaan untuk kasih dan kemerdekaan untuk melayani. Oleh karena itu kemerdekaan Kristen tidak boleh disalahgunakan, apalagi dijadikan dalih untuk bebas menurut maunya sendiri (Gal. 5:13; 1Pet. 2:16; 2Pet. 2:19). Sikap tidak peduli dan tidak bertanggungjawab adalah pemaknaan yang salah terhadap kemerdekaan Kristen (1Kor. 8:9-12). 

Penutup
Dalam segala aspeknya, kemerdekaan adalah pemberian Kristus, yang oleh kematian-Nya telah membayar lunas pembebasan orang percaya dari perhambaan (1Kor. 6:20; 7:22). Kemerdekaan dari hukum, dosa, dan kematian disampaikan kepada orang percaya, oleh Roh yang mempersatukan mereka dengan Kristus melalui iman (Rom. 8:2; 2Kor. 8:17). Kemerdekaan menyebabkan orang percaya diadopsi sebagai anak (Gal. 4:5); mereka yang dibebaskan dari dosa menjadi anak-anak Allah dan menerima Roh Kristus, yang memberikan jaminan bahwa mereka adalah sungguh-sungguh anak Allah dan pewaris-Nya (Gal. 4:6; Rom. 8:5).


Kemerdekaan Kristen bukanlah merupakan penghapusan tanggung jawab, juga bukan dukungan bagi kebebasan mutlak. Orang Kristen tidak lagi “berada di bawah hukum Taurat” (Rom. 6:14) untuk memperoleh keselamatan. Namun bukan berarti, orang Kristen bersifat anomia atau hidup “tanpa hukum” dalam hubungan dengan Allah (1Kor. 9:21). Paulus sangat menekankan bahwa Kristus telah memerdekakan orang percaya, dari pengaruh-pengaruh yang bersifat merusak, yang dahulu memperbudak mereka, yaitu dosa. Dimana dosa diidentikan dengan penguasa yang kejam, yang mendatangkan maut bagi setiap orang mengabdi kepadanya (Rom.6:18-23). Yesus Kristus tidak saja memerdekakan orang percaya dari dominasi dosa, tetapi juga dari hukum Taurat sebagai suatu sistem keselamatan (Gal. 4:21; 5:1; Rom. 6:14; 7:5-13; 8:2; 1Kor. 15:56); dari “kuasa kegelapan” yang jahat (Kol. 1:13); dari ketakhyulan percaya kepada ilah-ilah (1Kor. 10:29; Gal. 4:8); dan dari beban upacara-upacara agama Yahudi (Gal. 2:4). 

KEPUSTAKAAN:
Anderson R. Dean, Surat 1 Korintus, Surabaya: Momentum, 2018
Best, W.E., Regeneration and Conversion, Texas: South Belt Grace Church, t.t
Browning, W.R.E., Kamus Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007
Chamblin, J. Knox, Paulus dan Diri, Surabaya: Momentum, 2008
End, Th. Van Den, Surat Roma, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
Enns, Paul, The Moody Hand Book Of Theology, Malang: Literatur SAAT, 2010
Hagelberg, Dave, Tafsiran Roma, Jogjakarta: Yayasan Kalam Hidup, 2000
Hoekema, Anthony, Diselamatkan Oleh Anugerah, Surabaya: Momentum, 2010
Napel, Henk ten, Kamus Teologi Inggris Indonesia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Peterson, Robert A., Keselamatan Dikerjakan Oleh Sang Anak, Surabaya: Momentum, 2018
Sutanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru, Malang: Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2004
Walker, D.F. Konkordansi Alkitab, Jogjakarta: Kanisius, 1988
Wiersbe, Warren W., Merdeka Di Dalam Kristus, Bandung: Kalam Hidup, t.t.

ARTIKEL OLEH

Pdt. Thomas  b.  Oetomo, M.th

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon