PENEBUSAN KRISTUS

Oleh: Pdt. Thomas B. Oetomo

“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan Pengertian"

PENDAHULUAN
Setahun yang lalu ramai diberitakan di media sosial tentang seorang siswi dari salah satu SMA di Jawa Timur, yang baru lulus. Siswi tersebut, berkirim surat kepada mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) yang ditahan di Mako Brimob, karena kasus penodaan agama.  Dalam suratnya, ia bercerita soal ijazahnya yang ditahan pihak sekolah, karena belum melunasi tunggakkan-tunggakkan uang sekolah. BTP kemudian membalas surat siswi tersebut dan berjanji akan memberi bantuan untuk “menebus” ijazahnya. Melalui staf pribadinya, kemudian BTP menghubungi pihak sekolah dan menyampaikan, bahwa semua tunggakkan siswi terbut akan dilunasi. Namun sebelum staf pribadinya transfer dana, ternyata pihak sekolah sudah memberikan ijazah kepada siswi yang kurang mampu itu. Kebiasaan BTP menebus ijazah anak-anak sekolah, dilakukannya sampai sekarang. Dia masih sering menebus ijazah anak-anak DKI, meski sudah tidak menjabat sebagai Gubernur DKI, ujar staf pribadinya kepada awak media.

Penebusan adalah tema sentral dalam peristiwa Paskah. Seperti kisah di atas, bahwa penebusan itu melibatkan pihak subyek penebusan, obyek penebusan serta sarana dan dasar penebusan. 

Kolom mimbar kali ini mengangkat topik “Karya Penebusan Kristus” berdasarkan Efesus 1:7-8. Dari teks ini, penulis mengajak pembaca untuk memahami pengertian penebusan, sarana penebusan, akibat penebusan dan dasar penebusan Kristus, bagi orang-orang percaya. Harapan dari pembahasan teks ini, agar setiap orang percaya beroleh sukacita besar dan memahami betapa luhurnya nilai penebusan Kristus itu, sehingga dengan demikian dapat menghargai karya penebusan tersebut.

I. ARTI PENEBUSAN
Perhatikan frasa “…kita beroleh penebusan,”. Dalam teks aslinya kata “penebusan” diterjemahkan dengan kata apolutrosis. Kata ini digunakan sebanyak 10 kali dalam kitab Perjanjian Baru. Dalam penggunaannya, kata apolutrosis dapat diterjemahkan dengan kata “penyelamatan” (Luk.21:28; Ef.4:30), “penebusan” (Rm.3:24; 8:23; 1Kor.1:30; Ef.1:7,14; Kol.1:14; Ibr.9:15), dan “pembebasan” (Ibr.11:35). Apolutrosis adalah istilah teknis yang dipakai dalam dunia transaksi, yang mengandung arti “pembebasan atau pelepasan diperoleh dengan pembayaran uang tebusan. ”Menariknya, kata ini dibangun dari kata “apo” dan “lutron”. Kata apo memiliki arti “pemisahan”  sedangkan lutron, artinya “pembayaran harga tebusan”. Sesungguhnya kata lutron itu sendiri memiliki kata dasar luo, yang sinonim dengan “melepas ikatan.” Konsep ini menunjuk pada tindakan pempebasan terhadap seseorang dari denda atau hukuman, di mana orang tersebut tidak berdaya untuk membayar atau melepaskan diri dari penjara. Jadi berdasarkan arti kata tersebut, maka Penebusan Kristus itu adalah tindakan Kristus membayar harga tebusan, untuk melepaskan orang percaya dari ikatan dan memisahkannya dari dosa, sehingga orang percaya tersebut memperoleh kebebasan. 

Saya pernah membaca surat kabar nasional, yang memberitakan, bahwa ada seorang anak yang diculik dan kemudian disekap disuatu tempat. Selanjutnya sang penculik menghubungi orang tua si anak itu. Penculik tersebut meminta uang tebusan sebesar 1 milliar, jika anaknya ingin selamat. Sebagai orangtua yang sangat menyayangi anaknya, maka orangtua tersebut berusaha dengan sekuat tenaga, supaya dapat memenuhi tuntutan sang penculik. Demi keselamatan anaknya, akhirnya orangtua tersebut memenuhi tuntutan sang penculik, dengan membayar uang tebusan sebesar yang diminta. Dalam kasus ini uang tebusan tersebut dibayarkan kepada sang penculik. Jadi yang diuntungkan dan dipuaskan adalah sang penculik, sedangkan orantua si anak tersebut adalah pihak yang dirugikan. Pertanyaan besar yang sering diajukan dalam kasus penebusan Kristus adalah penebusan itu dibayarkan kepada siapa? Kepada Allah atau kepada Iblis?


Menjawab pertanyaan di atas, harus dimulai dari menjelaskan bahwa manusia itu berdosa kepada Allah, bukan kepada Iblis. Manusia tidak memberontak kepada Iblis tetapi kepada Allah. Akibat dosa itu, manusia tidak dihukum oleh Iblis tetapi oleh Allah. Oleh karena dosa, bukan Iblis yang murka terhadap manusia tetapi Allah. Untuk itu, penebusan Kristus tidak dibayarkan kepada Iblis tetapi Allah. Dalam penebusan Kristus, bukan Iblis yang dipuaskan tetapi Allah. Akibat penebusan Kristus, yang menyatakan manusia bebas dari hukuman bukan Iblis tetapi Allah. Penebusan Kristus menghasilkan pendamaian antara orang percaya dengan Allah bukan dengan Iblis (Rm.5:10). Jadi dalam kasus ini Iblis adalah pihak yang dirugikan dan Allah adalah pihak yang dipuaskan. Sedangkan orang percaya tentu adalah pihak yang diuntungkan.

II. TEMPAT DAN SARANA PENEBUSAN
Selanjutnya perhatikan penggalan ayat 7 yang pertama: “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya.” Kata keterangan tempat “di dalam” merupakan terjemahan kata en. Dalam bahasa Yunani kata en tidak selalu diartikan “di dalam” tetapi juga bisa diartikan, “dengan” atau “oleh” tergantung konteks kalimat. Secara gramatikal fungsi en dalam kalimat ini adalah sebagai preposisi utama yang menunjukkan posisi tetap suatu tempat. Jadi, preposisi en di sini menegaskan bahwa penebusan itu tempatnya hanya di dalam Kristus dan tempat itu adalah tetap. Jelaslah bahwa di luar Kristus, seseorang sama sekali tidak akan mendapat penebusan. Kristus adalah tempat satu-satunya penebusan yang benar dan sejati. Istilah “di dalam Dia” juga memberikan penegasan, bahwa seseorang yang ingin merasakan karya penebusan Kristus, harus berada dalam Kristus (en Christo). Seseorang harus percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi, yang kemudian disebut dengan dilahirkan baru oleh Roh Kudus (Tit.3:5-7). Pertanyaannya sekarang adalah “mengapa tempat penebusan itu harus di dalam Kristus”? Teks berikut menyatakan bahwa, penebusan di dalam Kristus itu “telah ditetapkan dari semula” dan “sesuai dengan rencana kerelaan-Nya” (Ef.1:9-10). Jadi, tempat penebusan ini tidak bisa diganti dengan apapun dan siapapun, karena sudah menjadi ketetapan Allah. Yesus Kristus bukan “tumbal” penebusan, tetapi Dia menjadi penebus berdasarkan “ketetapan dan kerelaan-Nya”. Kalau Dia “tumbal” penebusan, berarti Dia tidak tahu apa-apa dan dipaksa, sehingga Dia terpaksa menjadi penebus. Dengan demikian kualitas penebusan di dalam Dia, diragukan!

Berikut, apakah yang menjadi sarana penebusan Kristus? Ditegaskan dalam teks kita bahwa sarana penebusan itu adalah “oleh darah-Nya”. Kata “oleh” berasal dari kata dia (Yun), yang merupakan preposisi utama yang menunjukkan sarana suatu tindakan. Dengan demikian kata dia dapat diartikan: “melalui”. Penebusan Kristus itu sarananya adalah melalui darah-Nya sendiri. Darah-Nya adalah merupakan sarana tunggal penebusan dan tetap. Alasanya adalah bahwa Kristus itu satu-satunya pengantara. Seperti nast yang berkata: “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.” (1Tim.2:5-6 baca juga Ibr.9:15). Dan hanya darah-Nya yang memenuhi syarat sebagai sarana penebus dosa. Camkan ayat berikut ini: “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (Ibr.10:4). Pada masa Perjanjian Lama “darah lembu jantan atau domba jantan” memang menjadi sarana penebusan dosa. Musa berkata bahwa, darah telah menjadi “perjanjian yang ditetapkan oleh Allah” (Kel.24:6-8; Ibr.9:20). Karenanya tanpa “penumpahan darah” tidak ada pengampunan (Ibr.9:22). Tetapi itu (darah lembu jantan) bukan sarana yang permanen. Sebab hal itu merupakan tipologi dari darah “Anak Domba Allah”, yaitu Yesus Kristus di masa Perjanjian Baru. Bukankah Yohanes Pembaptis telah memproklamasikan-Nya? Ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh.1:29-30). Sebelum tragedi taman Eden, manusia memang kudus, namun setelah jatuh dalam dosa, tidak lagi kudus. Manusia menjadi najis, kotor dan rusak di hadapan Allah. Kenajisan manusia, hanya bisa disucikan dengan darah yang suci. Di sepanjang abad alam semesta ini tidak ada darah yang suci, selain darah Yesus Kristus. Sebab hanya Kristuslah satu-satunya manusia yang tidak berdosa dan tidak dapat berbuat dosa (Luk.1:35; Ibr.4:14). 

 

III. AKIBAT PENEBUSAN
Frasa berikutnya, berbunyi: “yaitu pengampunan dosa.” Ini adalah akibat atau hasil dari penebusan yang dikerjakan Kristus, melalui darah-Nya. Pengampunan dosa! Istilah “pengampunan” diterjemahkan dari kata aphesis, yang artinya adalah “dibebaskan dari” atau “diampuni dari”. Aphesis adalah kata yang digunakan dalam istilah judisial atau hukum. Kalau yang mendapatkan aphesis itu seorang budak, maka aphesis adalah tindakan judisial seseorang, membebaskan budak tersebut dari perbudakan, sehingga budak tersebut bebas murni demi hukum. Dan jika yang memperoleh aphesis adalah seorang tawanan, maka aphesis adalah tindakan judisial seseorang, melepaskan tawanan tersebut dari ikatan atau penjara, sehingga orang yang ditawan atau dipenjara tersebut, bebas dari segala tuntutan hukum.

Sebetulnya istilah aphesis itu sendiri berasal dari kata aphiemi, yang secara harfiah artinya “pengusiran” atau “menyuruh pergi”. Sebagaimana pada hari raya Pendamaian bangsa Israel, ada dua kambing hitam yang terlibat dalam ritual tahunan itu (Im.16). Kambing yang satu diusir, secara simbolis membawa dosa-dosa Israel.  Yaitu, ketika Allah mengampuni, sama artinya dengan Allah melupakan (baca: Maz.103:12; Yes.1:18; 38:17, 44:22, dan Mik.7:18). Kambing yang lain dikorbankan, melambangkan kenyataan bahwa dosa menuntut upah sebuah kehidupan. Yesus menghapuskan dosa manusia, dengan mati di tempat mereka (baca II Kor 5:21; Kol 1:14), sehingga dengan demikian karya penebusan Kristus, menggabungkan ke dua makna tersebut. Kematian Kristus di kayu salib, bermakna mendamaikan manusia dengan Allah. Yesus menjadi korban pengganti bagi manusia (Mark.10:45).

Di sini Rasul Paulus menggambarkan, bahwa manusia telah diperbudak dan ditawan oleh dosa. Dosa yang telah mendominasi hidup manusia itu adalah akibat dari pelanggaran manusia terhadap ketetapan Allah. Firman Tuhan  menyatakan dengan tegas, bahwa “orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yeh.18:4), karena “upah dosa adalah maut” (Rm.6:23). Ganjaran atau hukuman akibat dosa tersebut adalah maut, yaitu terpisah dengan Tuhan Allah untuk selama-lamanya. Dalam kitab Wahyu 20:11-15, maut itu disebut sebagai “kematian yang kedua yaitu lautan api.” Jadi, tujuan dari penebusan Kristus adalah pembebasan atau pelepasan dari ancaman hukum yang menjerat manusia akibat dosa. Tuhan Yesus bersabda: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh.5:24). Pembebasan hukuman akibat dosa yang telah dikerjakan Kristus, hanya dapat dialami oleh yang percaya kepada-Nya saja!

 

IV. DASAR PENEBUSAN
Ayat 7 bagian akhir dan 8 menjelaskan dasar dari penebusan Kristus melalui darah-Nya itu, yaitu: “menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian”.  Kalimat, “menurut kekayaan kasih karunia-Nya”, menjelaskan kepada kita, bahwa penebusan Kristus bukan upaya dan tidak bisa diusahakan manusia (baca: Ef 2:8-9; II Tim 1:9; Titus 3:5). Istilah “kekayaan” sering digunakan dalam surat-surat penjara Paulus, terutama surat kepada Jemaat Efesus ini. Di mana “kekayaan” itu berhubungan dengan karakter Allah. Perhatikanlah, berikut ini: “kekayaan kasih karunia-Nya” (1:7; 2:7); “kekayaan kemuliaan-Nya” (1:18; 3:16); “kaya dengan rahmat” (2:4); “kekayaan dalam Kristus” (3:8). Di dalam Kristus umat tebusan telah diberikan kekayaan dari karakter Tuhan! Kata “dilimpahkan” (1:8) di sini, digunakan istilah perisseuō yang mengungkapkan perasaan Paulus, akan ukuran sepenuhnya dari kasih karunia Allah di dalam Kristus. Kasih Allah dalam Kristus, digambarkan seperti air yang memancar atau suatu mata air yang meluap-luap. Sungguh luar biasa! Dosa telah menyebabkan manusia “kaya” dengan pelanggaran-pelanggaran (baca: 2:1-3), tetapi dengan “kekayaan kasih-Nya”, Allah melimpahkan pengampunan. Kekayaan pelanggaran manusia, tidak bisa dibayar dengan kekayaan kebaikan, tetapi hanya dengan kekayaan yang besarnya melebihi dari banyaknya pelanggaran. Kekayaan tersebut adalah kasih karunia Allah, rahmat Allah di dalam Yesus Kristus. Resapilah Firman Tuhan ini: “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita  —  oleh kasih karunia kamu diselamatkan  —“ (2:4-5). Mantap!

 

PENUTUP
Adalah seorang bangsawan Inggris, yang bernamaWilliam Wilberforce. Suatu hari ia menyusuri pasar budak untuk membeli seorang budak. Ia menghampiri seorang pedagang dan berkata: “Saya ingin kamu menunjukan, budak yang paling jelek yang kamu jual.” Kemudian ia menunjukan seorang budak, yang tidak pernah ditawar oleh pembeli. Penjual tersebut menceritakan, bahwa budak ini kelakuannya buruk, beringas, dan selalu mengumpat saat akan ditawar. Bahkan, akan meludahi muka pembeli jika berani mendekat. William pun menjawab: “tidak mengapa, biarkan aku melihatnya.” Ketika budak tersebut tahu, bahwa ada seseorang yang akan membelinya, maka ia mulai mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kotor. William kemudian bertanya: “Berapa harga budak ini?” Tanpa harus menawar, ia langsung membayar harga yang telah ditentukan oleh sang pedagang. 

William lalu membawa budak itu pulang. Sesampai di rumah, budak itu memaki-maki dengan mata melotot. Ia bahkan mengancam akan memporak-porandakan seisi rumah William.  Sambil terus mengunpat budak tersebut meludahi wajah William. Melihat kelakuan budak itu, William tetap sabar dan berkata: “Tenanglah, duduklah di kursi itu sebentar.” Setelah itu, ia masuk ke kamarnya dan menulis surat. Kemudian surat itu ditandatanganinya serta diberikanya kepada budak tersebut. Dia berkata: “ini adalah surat pembebasanmu, sekarang kamu adalah orang merdeka!” Mendengar itu, budak tersebut langsung bergembira begitu rupa. Setelah dilepaskan belenggunya, berlarianlah ia keluar dari rumah itu, dengan terus meneriakkan kebebasannya.

Beberapa waktu kemudian, setelah kelelahan merayakan hari kebebasannya, mulailah ia berpikir tentang jalan hidupnya. Ia melihat ke sekelilingnya, dilihatnya kota London yang begitu ramai. Namun ia sama sekali tidak tahu tempat mana yang akan dituju. Ia mulai merenungkan peristiwa yang baru dialami. Ia sadar bahwa ada satu orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia adalah orang yang telah membebaskan dari perbudakan. Budak itu pun kemudian kembali ke rumah William dan berikrar, katanya: “Tuan, aku telah Tuan beli dengan harga yang telah Tuan bayar lunas, sekarang ijinkanlah aku ini menjadi hamba Tuan dan bolehlah kiranya hamba melayani Tuan di rumah Tuan seumur hidup hamba.” Akhirnya, William menerima budak tersebut, untuk mengabdi kepadanya seumur hidupnya.

Melalui darah-Nya, Kristus telah menebus kita dari perbudakan pasar dosa. Dia telah membeli kita dan harganya telah lunas dibayar, di kayu salib (Kol.2:13-14 dan 1Pet.1:18-19). Oleh karena itu, ikrar dari budaknya William di atas, patut kita berikan kepada Tuhan Yesus: “Tuhan, aku telah Tuhan beli dengan harga yang telah Tuhan bayar lunas, sekarang ijinkanlah aku ini menjadi hamba Tuhan dan bolehlah kiranya hamba melayani Tuhan di rumah Tuhan seumur hidup hamba.” Serta berkomitmen untuk tidak kembali lagi ke pasar dosa menjadi budaknya. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor.6:20). Amin.

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon