MENJADI GEREJA YANG DINAMIS

BERDASARKAN

VISI MISI GBIS

Oleh: Pdt. Freddy Sutisna

Visi dan Misi GBIS
1. Visi Gereja Bethel Injil Sepenuh: 
Menjadi gereja yang berdasar pada Injil Sepenuh untuk berakar, bertumbuh dan berbuah bagi Kristus.

2. Misi Gereja Bethel Injil Sepenuh: 
a)    Menjangkau setiap orang dengan Injil Sepenuh untuk menerima keselamatan di dalam Kristus. 
b)    Membangun jemaat untuk bertumbuh dalam kedewasaan rohani. 
c)    Memberdayakan jemaat dengan karunia-karunia Roh Kudus. 
d)    Membina jemaat menjadi sebuah persekutuan keluarga Allah. 
e)    Mengutus setiap warga jemaat untuk melaksanakan Amanat Agung Kristus. 

Pendahuluan
Salah satu keputusan Sidang Majelis Besar (SMB ) Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) XXVI yang dilaksanakan 17-20 September 2013 di Hotel Garden Palace Surabaya, yakni dihasilkannya amandemen tata gereja GBIS. 
Tata gereja terdiri dari tata dasar dan tata rumah tangga. Tata gereja merupakan alat atau sarana yang membantu gereja untuk dapat menyatakan kehidupannya secara utuh dan dinamis. Kehidupan gereja yang utuh dan dinamis akan tergambar di dalam keberadaan serta kesetiaannya menjalankan tugas-tugasnya di dunia ini secara efektif dan efisien. 

    Sekalipun dalam penyusunan amandemen tata gereja ini dibentuk tim penyusun amandemen tata gereja yang juga melibatkan konsultan, namun sejatinya amandemen tata gereja ini merupakan karya seluruh warga GBIS sendiri, yang secara bersama-sama sepakat melalui Sidang Majelis Besar (SMB) GBIS mengamandemen tata gereja sebagai cermin kehidupan GBIS dalam menyatakan karya dan pelayanannya di tengah-tengah dunia ini. Karena ini merupakan karya dan kesepakatan bersama tentu diharapkan seluruh warga GBIS memiliki pemahaman yang sama serta berkomitmen untuk menjalankannya dengan konsisten.

    Yang menarik adalah pada amandemen tata gereja tersebut bukan hanya ada beberapa perubahan dan perbaikan redaksional ayat saja, namun juga dimasukannya hal yang baru yaitu mengenai “Disiplin gereja” dan “Visi Misi gereja”. Tujuannya  adalah untuk memampukan gereja melayani sesuai dengan hakikat dirinya, dengan demikian gereja menjadi gereja yang nyata dan dapat dirasakan kehadirannya. Penataan diri yang sesuai dengan hakikat diri menjadikan proses pembangunan jemaat dapat berjalan dengan baik, dan gereja (dalam hal ini pejabat gereja) jangan sampai menjadi batu sandungan bagi pembangunan jemaat seutuhnya.


Tulisan ini hendak memfokuskan pada visi dan misi GBIS sebagai landasan membangun gereja yang dinamis. Sebab dengan dimasukannya visi misi gereja  dalam tata gereja, Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) bertujuan menjadi gereja yang dinamis, yang siap menyongsong masa depan dengan memberikan warna dan dampak yang indah di tengah tantangan zaman yang semakin besar. 

Makna Gereja
Kata “gereja” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Portugis “igreja” yang diambil dari bahasa Yunani “ekklesia”, yang berarti “kumpulan orang” (Kis. 19:32, 39-40). Di sini, gereja diartikan sebagai orang. Arti hurufiah yang lain dari kata gereja adalah tempat orang berkumpul, atau rumah Tuhan “Kyriake Oikia” (Kis. 1:14; 2:46; dan Roma 15:6).
Makna kata gereja secara tradisi kekristenan dan yang umum dikenal adalah “kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan, masuk ke dalam terang Tuhan Yesus dan yang mendapatkan keselamatan”. Pemahaman saat ini tentang gereja adalah persekutuan orang-orang percaya dan beribadah kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan satu satunya juruselamat, yang mengungkapkan imannya dalam ibadah itu melalui doa, nyanyian puji-pujian, penyembahan, permohonan, pemberian persembahan, dan tentunya mendengar serta merenungkan Firman Tuhan. Gereja yang tampak dalam ibadah ini berdasar pada kata-kata Yesus “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). 

Simbol Gereja
Di dalam Alkitab, makna dan fungsi gereja digambarkan dengan simbol-simbol seperti: 
· Tubuh Kristus, di mana Kristus menjadi Kepala, seperti tubuh tidak mungkin bisa hidup jika terlepas dari kepala, demikian juga tidak mungkin gereja melepaskan diri dari Kristus (1 Kor.12:12; Ef.1:22; 4:15; 5:23; Kol.1:18; 2:19), 
· Mempelai perempuan Kristus, dimana Gereja harus tunduk kepada Kristus, seperti seorang isteri harus tunduk kepada suaminya ( Ef 5 : 22 – 27, 32 )
· Persekutuan dalam satu roh (1 Kor.12:3; Ef.2:16, 18), 
· Jemaat yang berkumpul (Mat.18:20; 1 Kor.1:2; Kol.4:15-16; 1 Tes.1:1), 
· Jemaat yang beriman atau yang mengaku (Mrk 8:29; Rm 10:9-10; 1 Kor.1:3; Fil2:9-11), 
· Jemaat yang bersaksi (1 Tim 2:4; Mat.10:1; Mrk 6:7; Mat 28:19-20) 
· Jemaat yang melayani (Rm 15:8; Fil 2:7; Luk 22:27 dan Yoh 12:26). 


Gereja memiliki tugas pembentukan dan pengembangan spiritualitas atau kerohanian dan juga etika-moral bagi jemaatnya, yang berimbas kepada masyarakat atau dunia. Fungsi dan tugas inilah yang secara umum kita kenal sebagai tri-tugas panggilan gereja, yaitu persekutuan (Koinonia), pelayanan (Diakonia) dan kesaksian (Marturia). Fungsi-fungsi atau tugas panggilan gereja di atas, dalam praktek bergereja dijabarkan dalam berbagai kegiatan, yaitu ibadah (termasuk ibadah kelompok kategorial), pemberitaan Firman, baptisan, perjamuan kudus, doa-doa, pekabaran injil, pengajaran atau katekisasi, penggembalaan dan diakonia.


Tantangan Gereja saat ini
Banyak gereja mengalami sindrom hamster ( hamster adalah binatang pengerat sejenis marmot yang suka berlari di roda mainan yang berputar, roda yang hanya berputar di tempat saat binatang itu berlari di atasnya, namun tidak pernah bergerak maju), terlihat begitu aktif dalam rutinitas, tetapi tidak ada kemajuan yang berarti. Para pejabat gereja mengalami kelelahan di tengah tumpukan program dan tugas pelayanan, sementara jemaat mengalami kebingungan bagaimana memainkan peranan dalam gereja dan dunia. Dinamika gereja hanya diukur dari jumlah dan kreativitas kegiatan. Gereja telah berpusat pada program, bukan pada orang. Gereja hanya sebagai organisasi, bukan organisme.
    
    Banyak orang Kristen pergi ke gereja dengan pemahaman yang keliru. Mereka hanya berharap untuk mendapatkan sesuatu bagi dirinya sendiri. Efeknya adalah gereja yang dapat menyediakan ibadah yang menghibur, memberi kesenangan, kenyamanan dan pemenuhan kebutuhan emosional akan menjadi favorit bagi orang-orang Kristen seperti ini. Sangat disayangkan, banyak pemimpin gereja justru menjadikan kepuasan jemaat sebagai panduan pada saat mereka merancang semua program dan aktivitas gerejawi. Apa yang dicari jemaat, itu yang disediakan gereja.
  

 Keadaan seperti itu tentu sangat ironis . Menjadikan jemaat hanya datang sebagai pengunjung yang pasif, senang dilayani tanpa terlibat pelayanan, menjadi penonton dalam gereja seperti pengunjung di tempat hiburan yang datang hanya untuk melihat pertunjukan. Tidak ada bedanya gereja dengan tempat entertainment (tempat hiburan), terlebih lagi saat ini telah bermunculan gereja jaman “NOW” bahkan “Megachurch”. Gereja ditata sedemikian rupa, pencahayaan yang remang-remang, disertai gemerlapnya lampu sorot yang berkilauan dan warna-warni, suara musik yang mempengaruhi emosi, kadang hingar bingar atau bisa juga “mellow” , dengan  alat –alat musik dan sound system yang mutahir, disertai layar LCD yang besar-besar, para pemimpin acara bagaikan artis yang sangat terlatih dengan gaya dan kostum yang menarik, demikianpun pembicara seperti motivator yang sedang beraksi, mimbar dan panggung sulit dibedakan. 
    
    Hal yang tidak jauh berbeda sebenarnya terjadi pula pada banyak gereja arus utama, gereja yang nampaknya sudah sangat mapan. Tempat dan cara ibadah yang sejak dulu tidak pernah berubah. Mulai dari liturgi, musik dan lagu-lagunya bahkan kursi-pun persis sama dari waktu ke aktu. Namun sangat disayangkan di tempat seperti itupun jemaat hanya menjadi pelengkap bukan sebagai pelaku. Sehingga sekalipun usia gereja sudah tua namun banyak jemaatnya masih seperti bayi rohani, yang sulit mengalami pertumbuhan.
    
    Seharusnya  gereja menjadi tempat untuk mengasihi dan mengisi kehidupan orang lain. Aspek komunal ini seharusnya lebih disorot dan diperhatikan. Di dalam gereja, jemaat saling berbagi. Di luar gereja, jemaat menjadi agen-agen perubahan (transformasi) bagi dunia.  Namun sangat disayangkan aspek ini mulai redup bahkan hilang dalam gereja pada umumnya. Dua hal ini; berbagi di dalam gereja dan menjadi agen transformasi dunia, tidak akan terwujud apabila jemaat tidak diperlengkapi melalui ibadah, pembinaan, dan program-program yang terarah lainnya.

  

 Menghadapi tantangan yang dialami gereja saat ini sangat diperlukan menyadarkan gereja-gereja tentang nilai penting sebuah gereja yang mengelola dan menggerakkan jemaat. Seorang gembala atau pemimpin rohani hadir bukan sekedar untuk melayani jemaat, melainkan untuk memperlengkapi dan mempersiapkan mereka dalam berbagai bentuk pelayanan (Ef. 4:12). 


Gereja yang Dinamis
Jaman telah berubah dengan cepat dan gereja-pun mau tidak mau harus berubah. Apa yang dituliskan di atas  sebagai tantangan gereja saat ini, bukan untuk menolak apalagi mempersalahkan tentang  penataan ruang gereja, pemakaian peralatan yang canggih, penampilan para pelayan Tuhan, dan sebagainya. Mungkin itu semua penting, namun jauh lebih berguna adalah bagaimana melibatkan jemaat dalam segala aspek pelayanan, bukan hanya sekedar sebagai peninjau apalagi penonton. 

  

 Disinilah perlunya kesadaran para pemimpin gereja bahwa pembinaan adalah sebuah tugas yang tidak terelakkan terhadap jemaat yang sering disebut sebagai “orang-orang awam”. Tugas ini tidak boleh diremehkan, apalagi diabaikan. Bahkan ini merupakan kewajiban yang tidak bisa ditunda lebih lama. Kiranya orang-orang awam di dalam gereja juga semakin dibangkitkan semangatnya dan ditambahkan kapasitasnya dalam melayani Tuhan.


Sebab betapapun mewahnya ruangan Gereja, secanggih apapun peralatan yang digunakan, dan sebagus-bagusnya penampilan para pemuji, pemusik, penari, pembicara dan lainnya, jika kaum awan tidak dibina dan dilibatkan maka gereja yang demikian akan mengalami kemunduran dan bahkan kematian.

    

Gereja yang dinamis artinya gereja yang berpegang teguh terhadap Firman Tuhan, yang menempatkan TuhanYesus sebagai kepala, mau terbuka terhadap perubahan untuk menjadi semakin baik, tidak monoton dan tidak menutup diri terhadap perkembangan. Inti Injil tidak boleh berubah, tapi cara menyampaikannya perlu terus dievaluasi. Gereja harus berani melangkah dan mencoba cara-cara yang baru, serta memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi demi kemajuannya. Tidak boleh dilupakan juga adalah mendorong serta menyertakan kaum awam agar melibatkan diri dan bergerak dalam seluruh kegiatan pelayanan yang ada dalam gereja. Inilah yang akan membuat gereja menjadi gereja yang sehat, yang berakar semakin kuat, bertumbuh semakin kokoh, dan berbuah semakin lebat bagi Kristus.

Ciri Gereja yang dinamis
1. Gereja Yang Menjadikan Jemaat Sebagai Subjek dalam kehidupan bergereja.

Gereja yang dinamis bukan hanya dilihat dari besarnya gedung dan fasilitas gereja, atau juga banyaknya keuangan gereja. Gereja yang dinamis harusnya diukur dari seberapa  besar partisipasi dan keterlibatan jemaat dalam menjalankan Misi Gereja. Gedung dan keuangan gereja merupakan output dari partisipasi serta keterlibatan jemaat sebagai subjek dalam Misi Gereja. Memang bisa saja gedung dan keuangan gereja besar sekalipun tidak banyak umat yang berpartisipasi dalam Misi Gereja namun situasi ini menjadikan gereja rapuh di dalam pelayanannya. Fokus utama kita adalah partisipasi jemaat dalam setiap pelayanan.Termasuk anak-anak, remaja dan pemuda berperan penting dalam kegiatan-kegiatan gereja baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya sehingga regenerasi dan kaderisasi berjalan dengan baik.

    

Dalam penyusunan program kerjanya, gereja haruslah memberikan perhatian yang cukup besar kepada pembinaan dan pemberdayaan warga gereja agar dapat terlibat dalam pelayanan, bahkan diutus untuk penjangkauan jiwa. Yang tidak boleh diabaikan pembinaan juga harus dilakukan kepada anak, remaja dan pemuda. Anggaran belanja gereja harus diberikan cukup besar pada porsi pembinaan anak, remaja dan pemuda.

 

2. Gereja Yang Melibatkan Jemaat Sebagai Pelaku Dalam Misi GBIS
Selama ini dalam persfektif lama, fokus tata gereja adalah soal jabatan gerejawi sehingga yang menjadi penekanannya lebih kepada para Pejabat gereja. Melalui persfektif baru, fokus tata gereja GBIS dalam Misinya jelas menempatkan jemaat untuk terlibat dalam Misi GBIS. Karena itulah tata gereja hendaknya disosialisasikan dan dimiliki  bukan hanya oleh para pejabat tapi juga jemaat sehingga jemaat dapat memahami tanggungjawabnya dalam menjalankan Misi. Pergeseran jemaat dari objek menjadi subjek di dalam pelayanan gereja menjadikan jemaat menjadi jemaat yang missioner. Jemaat bukan lagi dilayani melainkan yang melayani. Jemaat yang sudah mengalami karya keselamatan Allah dipanggil untuk melakukan Misi Allah melalui GBIS. Kehadiran jemaat di dalam dunia menjadi representasi Allah di dalam dunia. Jemaat menjadi Subjek dalam menjalankan Misi Allah.

 

3. Gereja yang mampu memperdengarkan suara kenabian
Untuk menegakkan kebenaran dan keadilan maka gereja harus tetap berpegang kepada Kebenaran Firman Tuhan, sekalipun hal tersebut tidak popular bagi pihak-pihak yang dikuasai roh duniawi. Sikap gereja yang proaktif dan kritis terhadap situasi yang terjadi disekitarnya menjadikan gereja sebagai garam dan terang dunia. Gereja yang demikian akan membangun jemaat yang sungguh-sungguh berjalan dalam takut akan Tuhan, yang memiliki integritas hidup. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri dan tidak mencari ataupun masuk pada zona nyaman. Keberpihakan gereja pada kebenaran dan keadilan menjadikan gereja harus terus bersuara dan bertindak bukan untuk dirinya, tapi untuk menyatakan kehadiran Allah dalam dunia. 

 

4. Gereja yang mampu mengelola konflik 
Harus disadari bahwa manusia itu unik dan semua manusia berbeda. Berbeda dalam banyak hal, baik itu budaya, pendidikan, pandangan, kesukaan, keadaan, keinginan, pendapat dan lainnya. Perlu disadari bahwa dimanapun juga perbedaan itu dapat memicu konflik, demikian halnya dengan GBIS. Karena itu  perlu diantisipasi oleh GBIS, semua pihak yang berbeda itu harus tetap dapat dipersatukan oleh ketaatan terhadap Firman Tuhan, kepatuhan terhadap tata gereja GBIS dan penghargaan terhadap adat budaya.
Konflik tidak dapat dihindari dalam suatu komunitas, sebab konflik merupakan satu harapan yang belum terpenuhi dalam realitasnya. Namun konflik tidak boleh menjadi alasan timbulnya pertengkaran yang dapat membuat jemaat terpecah belah. Perpecahan dalam gereja banyak terjadi karena konflik yang tidak dapat diselesaikan. Kedewasaan jemaat dalam mengatasi konflik menjadi hal yang utama. Untuk itulah gereja harus membina jemaat supaya dapat mengelola konflik dengan baik. Sehingga perbedaan bukan menjadi kelemahan malah menjadi kekuatan dalam bergereja. 

 

5. Gereja yang Transparan dalam hal keuangan
Gereja seharusnya terbuka dalam hal keuangan. Keuangan gereja terlihat dalam laporan keuangan yang disusun dengan standard yang dapat dipertanggungjawabkan, dan dipublikasikan kepada jemaat ataupun donatur gereja setiap periode tertentu. Ketertiban dalam pengelolaan dan laporan keuangan menjadi kata kunci dalam membangun pelayanan yang terpercaya (Trust). Pengelola atau yang bertanggung jawab dalam keuangan harus membuat rencana pendapatan dan belanja secara transparan. Anggaran tersebut seharusnya sudah ditetapkan dalam program tahunan, bukannya berdasarkan sekedar kewenangan para pemimpin gereja tertentu saja ataupun kebutuhan dan keinginan  tanpa ada perencanaan yang selalu serba mendadak. 

 

6. Gereja yang senantiasa terbuka terhadap kreatifitas Kreatifitas dalam bersekutu, bersaksi dan melayani berdasarkan Firman Tuhan  sangat dibutuhkan dalam gereja. Gereja  yang kreatif akan memperlihatkan pertumbuhan kualitas dan kuantitas dengan baik. Salah satu yang menyebabkan gereja lamban bahkan tidak lagi mengalami pertumbuhan karena gereja terjebak pada kegiatan rutinitas dan pengulangan program saja ( sindrom hamster ). Program kerja yang dikerjakan berulang-ulang akan menghasilkan sesuatu yang sama saja sedangkan program kerja yang berbeda akan menghasilkan yang berbeda pula. Dibutuhkan terobosan dalam tritugas gereja kesaksian, persekutuan dan pelayanan. Karena itu pemimpin rohani dan jemaat perlu seringkali duduk bersama untuk membicarakan, merancang dan mewujudkannya.


Penutup
Jemaat harus dijadikan pelaku utama dalam menjalankan Missio Dei ( rancangan Allah dalam pengutusanNya ). Jemaat sebagai  subjek bukan objek dalam pelayanan gereja. Keterlibatan jemaat dalam seluruh aktifitas gereja harus di dorong. Perlu diberi ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi jemaat untuk menunjukan perannya. Pejabat gereja atau pemimpin rohani berfungsi memperlengkapi jemaat untuk menjadi missioner. Penggerak gereja bukan lagi berpusat hanya pada pemimpin rohani. Keterlibatan jemaat dalam pelayanan dimulai dari proses (planning), pelaksanaan (doing), serta tanggung jawab ( monitoring & evaluasi). Untuk membangun dan mewujudkan komitmen jemaat dalam pelayanan maka perlu dibuat ruang untuk pembinaan, ruang untuk bereksperimen, dan ruang berinteraksi. Komitmen jemaat akan muncul ketika umat memiliki sense of belonging (rasa memiliki) persekutuan, kesaksian dan pelayanan.
Menjadi gereja yang dinamis  adalah sebuah proses yang berjalan terus menerus dalam panggilan kita sebagai pengikut Kristus, maka hakekat kita sebagai saksi Kristus akan mewujud nyata.

John Stott dalam bukunya “THE LIVING CHURCH” menyatakan bahwa ada empat hal yang bisa menjadi tolok ukur apakah suatu gereja itu adalah gereja yang hidup dan dinamis.  Empat hal itu berhubungan dengan relasi antar orang percaya, yaitu:

§    Gereja yang apostolis artinya apakah orang-orang percaya bertekun pada ajaran para rasul sesuai dengan ajaran Yesus,
§    Gereja yang Mengasihi artinya apakah hubungan atau relasi ini terjalin baik satu sama lain,
§    Gereja yang beribadah artinya apakah mereka berhubungan dengan baik dengan Allah,
§    Gereja yang missioner artinya apakah mereka berhubungan baik dengan dunia luar untuk menjadi saksi Yesus.

Gereja yang hidup, sehat dan dinamis tampaknya tidak bisa menghilangkan salah satu variabel dari keempat variabel tersebut. Gereja harus terus membangun diri untuk menjadi gereja yang berdasar kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Dengan tetap berpegang teguh pada Firman Tuhan, yang terus membangun jemaat menuju keserupaan dengan Kristus, dan mau terbuka serta menerima ( secara selektif ) perkembangan jaman yang terjadi. 
Akhirnya, selamat membentuk diri dan pribadi menjadi gereja yang dinamis, demi kemajuan GBIS, dan Kemuliaan  nama Kristus di muka bumi ini. 

Soli Deo Gloria
Salam dan doa kami, rekan sekerja  anda dalam anugerah Yesus Kristus..
Pdt. Freddy. J. Sutisna

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon