KUASA DARAH

Oleh: Pdt. Freddy Sutisna

Pendahuluan
” …Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibrani 9: 22)

Darah adalah cairan tubuh yang terbuat dari jaringan hidup yang terdapat pada manusia dan hewan tingkat tinggi (bersel banyak), yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, dialirkan keseluruh bagian tubuh melalui kumpulan jaringan pembuluh darah.
Darah memiliki bagian cair dan padat. Bagian cair yang mengisi lebih dari separuh bagian darah disebut plasma, terbuat dari campuran air, protein, dan garam. Sedangkan bagian padat terbuat dari sel darah putih dan merah, serta trombosit. Sel-sel ini terus diproduksi oleh sumsum tulang untuk mengganti sel-sel tua yang mati. 

Darah dalam bahasa Yunani, haiʹma, dan dalam bahasa Ibrani disebut:  dam, 
ADAM, dalam bahasa Ibrani, artinya adalah:  MANUSIA. 
ADAMAH dalam bahasa Ibrani berarti: TANAH.
Disebut Adam (manusia) karena berasal dari Adamah (tanah). Manusia dan tanah dalam bahasa Ibrani mempunyai bunyi serupa.

Jadi nama ADAM adalah berasal dari akar kata induk DÂM yang berarti darah. Dengan meletakkan aksara 'ÂLEF ( A ) di depan akar kata induk (DAM), akar kata  'ÂDÂM pun terbentuk dan berhubungan dengan makna DÂM, darah.  Sehingga manusia yang berasal dari tanah itu menjadi makhluk yang hidup saat Allah menghembuskan nafas hidupNya, saat itu pula darah mengalir dalam diri manusia.
Di kalangan bangsa-bangsa primitif di seluruh dunia, darah dan nyawa manusia hidup sering dikorbankan sebagai persembahan untuk menenteramkan dewa atau roh yang berkuasa, untuk mempersatukan diri dengan dewa/roh, atau sebagai pengganti diri manusia untuk menerima hukuman yang seharusnya menimpa manusia karena dosanya. Itu sebabnya saat sebelum bangsa Israel memasuki Kanaan, Allah mengingatkan mereka untuk tidak ikut serta dalam penyembahan Molokh, karena mereka mengorbankan darah manusia (Imamat 18:21). Allah berulangkali memerintahkan mereka untuk menghancurkan penyembahan berhala kepada Molokh. 

Bangsa Israel tidak menaati perintah Allah ini. Sebaliknya, mereka ikut menyembah Molokh. Bahkan Salomo, raja yang paling bijak, terpengaruh oleh pemujaan berhala ini dan membangun tempat untuk menyembah Molokh dan dewa lainnya (1 Raja 11:1-8). Penyembahan Molokh dilakukan di "bukit-bukit pengorbanan" (1 Raja 12:31) serta di jurang sempit di luar Yerusalem, yang disebut Lembah Ben-Hinom (2 Raja 23:10).

Dalam Alkitab, nyawa dikatakan ada di dalam darah karena darah begitu erat kaitannya dengan proses kehidupan. Firman Allah mengatakan, ”Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya, dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” (Imamat 17:11) Karena alasan yang sama, tetapi dalam kaitan yang lebih langsung, Alkitab mengatakan, ”Karena darah itulah nyawa segala makhluk….” (Imamat 17:14) Jelaslah, Firman Allah menganggap kehidupan dan juga darah sebagai sesuatu yang suci. Karena itu, darah memiliki peran mendasar dalam persembahan korban, yang dalam masyarakat Ibrani sangat penting. Imam-imam dikuduskan dengan darah (Keluaran 29:19-21); darah dipercikkan ke atas mezbah untuk menebus dosa (Imamat 17:6); darah dipercikkan kepada seluruh umat Israel untuk menegakkan perjanjian dengan Tuhan (Keluaran 24:8).
Berbeda dengan bangsa yang tidak mengenal Allah, pengorbanan manusia dan darahnya sama sekali tidak diijinkan oleh Allah.

 

Darah adalah Nyawa
Darah dipakai untuk mengadakan perdamaian (Ibrani 9:22) dan mengukuhkan ikatan: perjanjian antara Tuhan dengan umatNya (Keluaran 24:3-8). Darah di dalam Perjanjian Lama dianggap sebagai kehidupan, sebab darah adalah nyawa (Kejadian 9:5-6). Karena kehidupan adalah milik Allah, maka tidak boleh siapapun membunuh dan melenyapkan kehidupan manusia, kecuali hanya Sang Pemilik kehidupan itu sendiri. Sebab darah yang dicurahkan itu dapat berteriak kepada Tuhan untuk menuntut balas: Dalam Hukum Taurat, pembalasan terhadap seorang pembunuh ialah menuntut darahnya (Bilangan 35:27; Ulangan 24:16).  Seorang yang menumpahkan darah dengan tak disengaja boleh melarikan diri kesalah satu kota perlindungan yang telah tersedia (Bilangan 35:22-23; Ulangan 19:4-6).

Demikian pula penggunaan darah untuk dimakan  amat sangat dilarang keras (1 Samuel 14:31-34; Kejadian 9:3-4; mengenai hukumnya tertulis dalam Imamat 3:17; Ulangan 12:23; Imamat 17:10-13). Larangan makan darah, bukan hanya difirmankanTUHAN dalam Kitab Perjanjian Lama tetapi juga difirmankan TUHAN dalam Perjanjian Baru. Di dalam Kisah Para Rasul 15 sampai dua kali perintah itu disampaikan, yaitu dalam ayat 19-20 dan 28-29 disebutkan:
"Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: Kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."

Dengan jelas dituliskan bahwa pelarangan makan darah merupakan KEPUTUSAN : (1)Roh Kudus dan (2) para Rasul. Dan pada akhir pernyataan tersebut dituliskan dengan tegas Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini kamu berbuat baik. Maka jika melanggar larangan itu berarti kita yang tahu harus berbuat baik namun tidak melakukannya berarti kita berdosa (Yakobus 4 :17 ).

Darah Dalam Sejarah hubungan Allah dengan Manusia
Darah adalah satu-satunya jalan pendamaian antara manusia dengan Allah. Berikut adalah beberapa catatan tentang penggunaan darah dalam sejarah penebusan kehidupan manusia.

 

1. Adam dan Hawa (Kejadian 3:15-21)
Ketika Allah menggantikan daun pohon ara yang dipakai manusia untuk menutupi ketelanjangannya dengan kulit binatang. Ketika itulah Allah memberikan pengajaran kepada manusia, bahwa ketelanjangan lambang dari dosa-dosa tidak dapat diselesaikan dengan cara dan kekuatan manusia. Usaha manusia seperti kain kotor dan tidak mungkin menutupi kekotoran dosa.  Allah mengenakan kulit binatang sebagai penutup ketelanjangan manusia, pastilah ada binatang yang dikorbankan,  yang tentunya binatang tersebut  harus dikorbankan dan darahnya tercurah.

 

2. Kain dan Habel (Kejadian 4:1-16)
Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah, sedangkan Habel mempesembahkan korban persembahan anak sulung kambing dombanya. Tuhan Allah menolak persembahan Kain dan menerima korban persembahan Habel. Allah menolak korban persembahan Kain oleh karena Kain mencoba menggantikan persembahan korban tanpa tertumpahnya darah. Allah menolak persembahan hasil bumi Kain, upaya-upaya dan kekuatan manusia, dan menerima persembahan korban Habel, karena ia mempersembahkan dengan korban, tertumpahnya darah, tepat seperti yang Allah ajarkan kepada Adam.

 

3. Nuh dan Keluarganya (Kejadian 6:9-22; 7:24)
Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Di hadapan Allah Nuh adalah orang benar dan tidak bercela. Dan Nuh bergaul akrab dengan Allah. Status itulah yang menjadikan Nuh dan bahkan seluruh keluarganya, istri, ketiga anak dan menantunya, diselamatkan dari penghukuman Allah atas manusia yang dipenuhi dosa. Seperti Henokh, demikian juga Nuh dan keluarganya hidup bergaul dengan Allah. Dan dapat dipastikan, yang menyebabkan mereka dapat hidup karib, punya hubungan sangat erat, dengan Tuhan Allah adalah karena korban persembahan yang benar, tertumpahnya darah korban, yang dipersembahkan oleh Nuh dan keluarganya. Dan oleh karena korban, tertumpahnya darah, itulah, maka keselamatan terjadi atas Nuh dan seisi rumahnya.

 

4. Abraham (Kejadian 15 – 17)
Predikat terbesar yang disandang Abraham adalah bapa orang beriman, dan lewat iman itulah Abraham juga disebut sebagai bapa segala orang benar. Abraham menjadi orang benar bukan karena perbuatannya, tetapi ia benar oleh karena iman, percaya kepada janji Allah tentang Israel, keturunan Abraham sebagai bangsa pilihan yang puncaknya pada lahirnya Mesias yang dijadikan korban bagi keselamatan orang-orang pilihan Allah.

Tuhan Allah menandai perjanjian-Nya dengan Abraham melalui dua tanda yang Tuhan ajarkan untuk Abraham melakukannya dengan setia. Pertama, mezbah korban bakaran dan kedua dengan perjanjian sunat bagi anak laki-laki, yaitu dengan dikerat kulit khatannya.

Firman TUHAN kepadanya: “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.” Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, …(Kejadian 15:9-10)
Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (Kejadian 17:12-13)
Iman Abraham dinyatakan dalam kesetiaannya terhadap dua hal di atas, yang intinya mengalirnya darah. Abraham selalu mendirikan mezbah persembahan korban di setiap tempat dimana Abraham tinggal dan sunat bagi semua laki-laki seisi rumahnya. Melalui mezbah dan sunat itulah, janji Allah tentang keselamatan melalui tertumpahnya darah, iman percaya Abraham dinyatakan, dan melalui mezbah dan sunat itu juga janji tentang Mesias yang akan datang terus diwartakan.

 

5. Musa dan Bangsa Israel
Musa dan segenap bangsa Israel, pada waktu mereka berada di tanah perbudakan Mesir, mempunyai banyak pengalaman mujizat ajaib dengan beberapa diantaranya berkaitan dengan kuasa darah, korban persembahan melalui darah hewan yang selalu menunjuk pada darah Kristus. Salah satu diantaranya adalah peristiwa paskah.

Paskah, atau pesakh dalam bahasa Ibrani artinya melewatkan, pass over. Salah satu makna darah adalah menyelamatkan dari ancaman kematian, sebab kematian pihak lain telah menggantikannya (Keluaran 12:13,27). Darah yang dioleskan pada jenang pintu bangsa Israel memberikan tanda bahwa nyawa yang lain telah menggantikan hukuman atas rumah tersebut.

 

6. Kemah Suci (Tabernakel) 
Dalam Kemah Suci peraturannya adalah PENGAMPUNAN DOSA DENGAN DARAH. Dalam Hukum Taurat terdapat ketentuan-ketentuan pengampunan dengan darah dengan pengorbanan darah binatang. Penebusan dosa dengan darah sudah diperkenalkan sejak zaman PL. 
 
Ketentuan Korban penghapusan dosa/kesalahan/pelanggaran keseluruhannya adalah dengan "menumpahkan darah". Dalam Imamat dicatatat macam-macam korban sbb :

·    Korban bakaran (Imamat 1:1-17); darah
·    Korban Sajian (Imamat 2:1-16) ; tepung/ minyak
·    Korban Pendamaian/keselamatan (Imamat 3:1-17) ; darah
·    Korban Penghapusan Dosa (Imamat 4:1-35) ; darah
·    Korban Pelanggaran (Imamat 5:1-13) ; darah, (orang miskin boleh memakai tepung dibakar diatas korban "darah" binatang orang lain).
·    Korban penebus salah (Imamat 5:14-19; 6:1-7); darah

*Khusus untuk Korban Pelanggaran, (Imamat 5:11)  Musa memberikan kelonggaran bagi orang yang sangat miskin yang tidak mampu membeli korban ternak atau burung: Korban binatang ini boleh diganti dengan "korban sajian". Korban itu dipersembahkan tanpa minyak dan tanpa kemenyan. Di ayat selanjutnya:

* Imamat 5:12-13
5:12 Lalu haruslah itu dibawanya kepada imam dan imam itu haruslah mengambil dari padanya segenggam sebagai bagian ingat-ingatannya, lalu membakarnya di atas mezbah di atas segala korban api-apian TUHAN; itulah korban penghapus dosa.
5:13 Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya dalam salah satu perkara itu, sehingga ia menerima pengampunan. Selebihnya adalah bagian imam, sama seperti korban sajian."
Selanjutnya segenggam dipersembahkan sebagai 'ingat-ingatan' itu dibakar diatas mezbah di atas segala korban api-apian TUHAN. Maksudnya korban sajian pengganti darah ini dibakar diatas "korban pertumpahan darah" yang sudah berada diatas mezbah (korban persembahan orang lain yang menggunakan "darah"). Perbuatan ini dengan jelas memberikan kepada persembahan dari si-miskin itu suatu nilai sebagai "korban berdarah", karena korban dari si miskin ini dicampur dengan korban-korban api-apian yang telah berada diatas Mezbah. 
Karena itu korban dari si miskin ini dapat disebut sebagai "korban penghapus dosa", dan dengan mempersembahkan korban itu, imam mengadakan pendamaian bagi orang miskin itu karena dosanya.

Dua Konsep Pendamaian
Kata ”pendamaian”, seperti yang digunakan dalam Alkitab, mengandung gagasan dasar ”menutup” atau ”menukar”, dan apa yang diberikan sebagai 'penukar' atau 'penutup' haruslah serupa dengan yang digantikan. Jadi, apa pun yang menggantikannya harus persis sama, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. 

Sesuai dengan perintah Allah, orang Israel harus memberikan korban sebagai persembahan dosa untuk mengadakan pendamaian (Keluaran 29:36; Imamat 4:20). Sewaktu imam besar Israel mempersembahkan korban-korban binatang dan mengadakan pendamaian bagi dirinya sendiri, bagi orang Lewi lainnya, dan bagi suku-suku Israel non-imam ( Imamat16). Binatang-binatang yang dipersembahkan harus tanpa cacat, yang menunjukkan bahwa apa yang digantikan olehnya, juga harus sempurna. Selain itu, pendamaian sangat tinggi nilainya, yang terlihat dari fakta bahwa kehidupan korban itu harus diserahkan, darahnya harus dicurahkan untuk pendamaian (Imamat 17:11) . Akan tetapi, binatang tidak dapat menjadi korban pendamaian yang sepenuhnya dapat menukar dan menutup dosa manusia karena binatang lebih rendah daripada manusia, yang harus menguasai mereka (Kejadian 1:28;   Ibrani 10:1-4). Karena itulah korban darah binatang harus terus diulang-ulang, setiap tahun, setiap kali manusia bersalah dan berdosa ( Ibrani 10 : 11). Dengan demikian Korban pendamaian ini terkandung maksud yaitu:
 
1. Konsep Penebusan (redemption) 
Maksud dari darah itu ialah untuk mengadakan pendamaian. Sebab setiap kata yang diterjemahkan menjadi pendamaian adalah dimaksudkan sebagai membayar harga, suatu harga untuk penebusan. (Imamat 16: 6, 11) Upah dosa ialah maut. Orang yang berdosa tidak dapat menghadap Allah yang Maha Kudus. Dosa membuat orang terpisah dari Allah, dan terpisah dari Allah berarti kematian. Tetapi bila harga tersebut, hukuman dan kematian dibayar lunas melalui kematian dengan darah tercurah, maka terjadilah pendamaian, rekonsiliasi, hubungan Allah dan manusia dipulihkan kembali. Hutang dosa itu harus dibayar di hadapan Allah.  Darah mengadakan pendamaian dengan menyediakan harga yang cukup untuk membayar lunas hutang dosa di hadapan Allah, suatu nilai penghukuman yang tersedia dan telah dilunasi melalui penghukuman oleh yang menanggungnya.

2. Konsep Pengganti (Substitusi)
 Bahwa darah dapat menjadi perantara pendamaian dengan nyawa. Yaitu nyawa menggantikan nyawa lainnya, Ulangan 19:21, menyatakan tentang “nyawa ganti nyawa”, artinya nyawa sebagai pembayaran atas nyawa. Darah berarti kematian, pemusnahan kehidupan atau nyawa. Dalam persembahan kurban nyawa dimusnahkan, darah yang tertumpah merupakan tanda telah diambilnya nyawa bagi pembayaran dosa-dosa orang yang bersalah dan bagi nyawanya yang telah ternoda oleh dosa. Persembahan hewan sebagai korban menyatakan prinsip tersebut di atas.

 

Darah Yesus Kristus
Darah  binatang yang ditumpahkan seharusnya sebagai penebus serta pengganti salah dan dosa manusia ternyata tidak bisa melakukannya. Alkitab menyatakan “Sebab tidak mungkin darah binatang menghapus dosa” (Ibrani 10:4 dan 11). Diperlukan darah yang sempurna guna penebusan itu, pastinya tidak ada darah yang sempurna dalam dunia yang tidak sempurna ini. Yang sempurna hanyalah Allah, namun Allah adalah Roh, yang tidak terbatas oleh apapun, tidak memiliki darah dan daging dan tidak mungkin dapat mati. Karena itu Allah menjadi manusia  yang terbatas yang memiliki darah dan daging juga dapat mengalami kematian, supaya bisa menjadi korban dengan mencurahkan darahNya dan mati menjadi penebus dan pengganti manusia yang berdosa..  Allah datang dalam dunia sebagai manusia yang bukan berasal dari benih manusia, dalam diri Yesus tidak mengalir darah manusia, walaupun Yesus dikandung dan dilahirkan oleh Maria namun tidak ada benih laki-laki yang mengalirkan darah dalam diriNya. Sesuatu hal yang layak diperhatikan dalam Kejadian 3 : 15 ialah : Allah menyebut “keturunan perempuan”, bukan keturunan “laki-laki”. Padahal secara logika, lahirnya seorang bayi harus ada benih laki-laki dan benih perempuan. Demikianpun dalam Matius 1 : 23, yang menuliskan kembali nubuat dari nabi  Yesaya (Yesaya 7 : 14) tentang seorang anak dara akan melahirkan anak laki-laki.  Jadi, darah Yesus adalah darah yang sama sekali tidak tercemar oleh dosa, untuk menebus dosa manusia. Dan darahNya yang sempurna yang tanpa cacat dan cela, tidak bernoda itu sanggup untuk menebus seluruh dosa manusia di sepanjang zaman. Ibrani 9:20 menyatakan darah Yesus adalah darah perjanjian yang ditetapkan Allah untuk menghapus dosa semua manusia.

 

Pengorbanan Yesus berbeda dengan tumbal. Saya tidak setuju jika dikatakan Yesus sebagai tumbal dosa, karena istilah tumbal  biasanya memiliki pengertian sesuatu yang dikorbankan untuk kepentingan dan keinginan tertentu, tanpa si-korban itu menyadari ataupun tahu bahwa ia akan atau sedang dikorbankan, kalaupun dia tahu, dia tidak mempunyai kemampuan serta kekuatan untuk membebaskan dirinya. Tetapi Yesus, sangat menyadari dan tahu bahwa Ia harus berkorban, dan kalaupun Dia mau melepaskan diri dari penderitaan yang harus dialami tentunya Ia sangat mampu, namun itu tidak dilakukanNya demi penghapusan dosa ( Dalam bahasa Inggris ada perbedaan antara kata victim dengan sacrifice. Victim adalah korban dalam artian tanpa daya dan kemampuan untuk menolong  dan membela dirinya, namun sacrifice adalah korban dalam pengertian karena dia merelakan dirinya menjadi korban walau dia sebenarnya mampu untuk membela atau melepaskan diri ). Beberapa bukti bahwa Yesus sebenarnya sanggup untuk melepaskan diri  :

I.    Saat Yesus mengajar di Bait Allah, orang-orang berusaha menangkapNya, juga saat Yesus menyaksikan tentang diriNya, namun tidak seorangpun yang dapat menyentuhnya karena waktunya belum tiba ( Yohanes 7 : 30; 8 : 20 ).
II.    Saat seorang muridnya memotong telinga seorang prajurit, Yesus mengatakan bahwa Ia dapat meminta kepada bapa untuk mengirimkan lebih dari dua belas pasukan malaikat untuk membantuNya ( Matius 26 :53 ).
III.    Saat Yesus hendak ditangkap, Dia bertanya kepada pasukan prajurit siapa yang hendak mereka tangkap, mereka menjawab namanya Yesus dari Nazaret. Saat Yesus berkata : ”Akulah Dia”. Pasukan prajurit itu jatuh, ini membuktikan betapa berkuasanya Yesus, hanya berkata demikian pasukan prajurit yang bersenjata lengkap tentunya berbadan besar dan kuat semuanya jatuh. Tapi setelah itu Dia membiarkan pasukan prajurit itu menangkapNya, walau Dia mampu menghancurkan mereka. ( Yohanes 18 : 6 ).
Yesus rela berkorban karena kemauanNya melakukan kehendak Bapa. Suratan Ibrani menuliskan: “Aku datang melakukan kehendak-Mu! yaitu menumpahkan darahNya!”..( Ibrani 10 : 9-10).

Itulah puncak kehidupan pelayanan Yesus Kristus, persembahan korban dengan ditandai oleh darah, melalui peristiwa Golgota dengan sempurna telah digenapkan. Lewat tanda darah Kristus yang “dioleskan” pada setiap jenang pintu hati orang yang percaya, ancaman hukuman mati, maut, dibatalkan, oleh karena darah, nyawa Kristus telah menggantikannya.
Melalui Kristus, Imam Besar yang membawa darah-Nya sendiri masuk ke ruang kudus, menjadikan semua yang percaya sampai di ruang kudus, sebab oleh iman mereka semua menjadi kudus. Layak untuk menghadap tahta hadirat Allah yang kudus.
dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:12-14)

 

Kuasa Darah Kristus
Pejanjian Baru mencatat beberapa istilah yang menunjuk tentang kuasa dari darah Yesus bagi orang percaya, yaitu:
§    Darah Yesus adalah alat pembasuhan dosa manusia (1 Yohanes 1:7).
§    Darah Yesus adalah alat pembenaran bagi manusia berdosa di hadapan Allah (Roma 5:9).
§    Darah Yesus sebagai alat penebusan (Efesus 1:7, Roma 5:9-10).
§    Darah Yesus sebagai alat pendamaian manusia dengan Allah yang kudus (Kolose 1:20, Roma 3:25).
§    Darah Yesus merupakan jembatan yang olehnya manusia berjalan menuju Allah (Efesus 2:13).
§    Darah Yesus membersihkan hati nurani manusia yang berdosa (Ibrani 9:13).
§    Darah Yesus sebagai alat penyucian (Ibrani 13:12).
§    Adanya persekutuan antara manusia dengan Allah melalui darah Yesus (1 Korintus 10:16).
§    Darah Yesus juga disebut sebagai darah perjanjian kekal (Ibrani 13:20).                                                              
§    Orang percaya dapat menjadi imam dan raja, itu karena darah Yesus (Wahyu 1:5, 5:9-10).
§    Darah Yesus merupakan senjata yang ampuh untuk menghancurkan iblis (Wahyu 12:11).
§    Manusia memperoleh kehidupan kekal hanya melalui darah Yesus (Yohanes 6:53-63).
§    Proses penyempurnaan hidup kekristenan kita, tidak terlepas dari darah Yesus (Ibrani 6:1-2, 7:11-19).

 

Tubuh dan Darah Kristus
Betapa besar dan mulianya kuasa darah Yesus yang merupakan darah perjanjian bagi manusia untuk memperdamaikan manusia dengan Allah. Karena itu Paulus, dan juga Kristus sebelum Ia disalib, mengingatkan kepada gereja Tuhan untuk memperingati korban Yesus ini melalui perjamuan kudus, dengan cara makan roti yang merupakan tubuh Kristus serta meminum anggur yang merupakan darah Kristus (I Korintus 11:23-25).
Pengajaran Paulus, juga Kristus sendiri, mengenai perjamuan kudus dimaksudkan untuk meningkatkan makna perjamuan itu dengan jalan mengkaitkannya dengan maksud penyelamatan Allah. Perjamuan kudus mengingatkan dan sekaligus memberitakan kematian Kristus bagi pendamaian melalui penebusan dan penggantian Kristus yang tidak berdosa bagi manusia yang penuh dosa. (1 Korintus 11:26)

 

Kesimpulan
Sejak awal manusia jatuh dalam dosa. Allah sudah berinisiatif untuk menghapus dosa dengan cara mengorbankan dan mencurahkan darah binatang. Namun korban darah binatang tidak mungkin menutup dosa manusia dihadapan Allah, karena nilai korban binatang tidak sebanding dengan manusia yang memiliki gambar dan rupa Allah.  Hanya Allah sendiri yang sanggup untuk membayar  dosa manusia yang tadinya segambar dengan diriNya. 
Setelah waktunya tiba, Allah mengambil rupa manusia di dalam diri manusia Yesus Kristus. Darah Kristus dicurahkan untuk menebus manusia berdosa. Ia menggantikan manusia yang seharusnya mengalami murka Allah dan kematian kekal dengan membiarkan diri-Nya dipaku di atas kayu salib dan darah-Nya tercurah.

 

Darah Kristus inilah yang melunasi hutang-hutang dosa. Melalui darah-Nya, manusia dibebaskan dari kuasa dosa, Ia mendamaikan kita dengan Allah, Ia menguduskan kita,  dan membenarkan kita.  Kita bisa menikmati persekutuan dengan Kristus di dalam perjamuan kudus ketika kita makan roti dan meminum anggur sebagai tubuh dan darah Kristus. Ini merupakan suatu hubungan yang sangat intim dengan pribadi Kristus. Darah Kristuslah memberikan kita hidup kembali di hadapan Allah.

Menikmati persekutuan di dalam darah Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita, darah yang dicurahkan melalui kematian-Nya bukan saja memberikan kita kehidupan kekal, melainkan juga kita yang berbeda dalam segala hal, berbeda: suku, bangsa, warna kulit, denominasi, jaman, disatukan menjadi satu kesatuan dalam satu tubuh yaitu Tubuh  Kristus.

  • Black Facebook Icon
  • Black YouTube Icon
  • Black Instagram Icon